Sabtu, 30 Juni 2012

Mereka, Yang Bisa Mengantarkan Kita ke Syurga


Sebuah berita kecil membuat para orangtua Indonesia kaget bukan kepalang. Seorang siswi kelas 1 SMK di Surabaya, diringkus anggota Satreskrim Polrestabes Surabaya lantaran diduga telah menjual temannya untuk dijadikan pekerja seks (WTS). Bayangkan, remaja berusia 15 tahun itu telah berani menjadi mucikari dengan memberikan iming-iming bayaran tinggi jika temannya mau menjadi anak buahnya di bisnis prostitusi.

Sebelumnya, berita cukup menyedihkan datang dari Komnas Perlindungan Anak dan BKKBN ( Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ) yang melakukan penelitian tentang Perilaku Seksual Remaja SMP dan SMU tahun 2009. Hasilnya tak kalah menyedihkan. “Tingkat keperawanan remaja Indonesia masih mengkhawatirkan”.

Survey BKKBN tahun 2010 yang menunjukkan bahwa 51% remaja di Jabodetabek telah melakukan hubungan seks diluar nikah. Kondisi ini tak hanya terjadi di Jabodetabek, tren mengerikan juga terjadi di berbagai kota. Surabaya (54 %), Bandung (47 %), dan Medan (52 %).

Apa yang sesungguhnya terjadi?

Banyak yang menilai, arus globalisasi yang udah tak terbendung tanpa dibarengi dengan pemahaman agama dan perhatian orangtu lah penyebabnya.

Pendidikan yang utama

Di jaman penuh fitnah ini, sering kita dapati orangtua yang tak bisa membedakan mana pendidikan utama dan mana pendidikan yang sampingan. Umumnya orangtua terkecekoh dengan angka-angka, nilai akademik dan janji-janji artificial. Banyak orangtua mengantarkan anaknya les Inggris, matematika dengan harapan IQ nya cemerlang dan indeks prestasinya terdongkrak. Beberapa orangtua lain; mengikutkan anak-anak mereka ikut les balet, piano, dll sementara di sisi lain mereka lupa pendidikan tauhid. Bagaimana anak-anaknya mengenal sang Pencipta, Allah Azza Wa Jalla. Bagaimana agar anaknya kelak memiliki rasa malu, menjaga aurat, membatasi lawan jenis dll. Yang terjadi justru kebanyakan orantua bangga anak-anak putri mereka dijemput pacarnya. Seolah jika anak mereka tak punya pacar, mereka khawatir anak perempuannya tidak laku.

Apakah semua kursus-kursus itu dilarang? Tentusaja tidak. Harusnya mana yang lebih diutamakan, tauhid mereka atau sekedar keahlian mereka yang bisa diajarkan beberapa minggu saja.

Padahal, jauh-jauh hari, Allah memperingatkan para orangtua agar menjaga anak-anak mereka. Sebab dari merekalah kita bisa akan ikut terseret ke neraka janannam.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS.At-Tahrim:6)

Imam Al Ghazali mengatakan, pendidikan utama bagi anak-anak adalah pendidikan agama. Karena di situlah pondasi utama bagi pendidikan keluarga. Pendidikan agama ini meliputi pendidikan aqidah, mengenalkan hukum halal-haram memerintahkan anak beribadah (shalat) sejak umur tujuh tahun, mendidik anak untuk mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, orang-orang yang shalih dan mengajar anak membaca al-Qur’an.

“Hendaklah anak kecil diajari al-Qur’an hadits dan sejarah orang-orang shalih kemudian hukum Islam,” ujar Al-Ghazali. Baru setelah itu diajarkan pada mereka pengetahuan umum.

Yang terjadi banyak orantua lebih sedih anaknya tak bisa matematik, Inggris atau IPA namun mereka tenang-tenang saja ketika anaknya tak mengerti adab, hukum Islam. Bahkan banyak orangtua tidak sedih ketika anak-anak perempuan mereka pergi –bahkan sampai pulang malam—dengan teman-teman prianya. Padahal dari situlah kehancuran masa depan anak-anak perempuan mereka bermula.

Rahasia Anak Perempuan

Begitu pentingnya Islam memperhatikan anak-anak perempuan, jauh-jauh hari, Rasulullah dan Al-Quran memperingatkan pada para orangtua.

Padahal, dahulu di zaman jahiliyah, masyarakat lebih mencintai anak laki-laki dan mendahulukannya daripada anak perempuan. Bahkan di antara mereka ada yang membenci dan menjauhi istrinya karena melahirkan anak perempuan, bukan anak laki-laki. Namun ketika datangnya Islam dengan sinarnya yang cemerlang bagai matahari yang menyinari seluruh peloksok negeri dan semua penghuninya. Islam menyeru dengan lantang dengan keutamaan mendidik anak perempuan. Islam menawarkan banyak kebaikan dan pahala yang besar atas mendidik anak perempuan bagi orang tua yang melaksanakan tugas mulia ini.

Sebenarnya, mendidik anak perempuan itu akan menjadi penghalang dari api neraka. Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa ia berkata: "Ada seorang wanita masuk besama dua anak perempuannya seraya meminta diberi sesuatu. Akan tetapi aku tidak mendapatkan sesuatu untuk diberikan kecuali sebutir buah kurma. Aku berikan sebutir buah kurma tersebut kepadanya. Kemudian si ibu itu membaginya kepada kedua anaknya. Sementara ia sendiri tidak makan. Kemudian mereka keluar dan pergi. Ketika Nabi saw. datang dan masuk kepada kami, aku beritahukan kisah ini kepadanya. Kemudian beliau berkata:

"مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَناَتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إلَيْهِن كُنَّ لَهُ سِتْراً مِنَ النّاَرِ"

“Barangsiapa yang diuji dengan mendapatkan anak peremuaan kemudian ia berbuat baik kepada mereka (dengan mendidiknya) maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mendidik anak perempuan juga dapat mengantarkan masuk ke surga. Diriwayatkan oleh Aisyah ra. ia berkata: “Aku kedatangan seorang ibu miskin yang membawa kedua anak perempuannya. Aku berikan kepadanya tiga butir buah kurma.

Kemudian ia memberikan masing-masing dari kedua anaknya satu butir kurma dan yang satu butir lagi ia ambil untuk dimakan sendiri. Akan tetapi, ketika ia akan memakannya, kedua anaknya itu memintanya. Akhirnya satu butir kurma itu dibelah dua dan diberikan kepada mereka berdua. Kejadian itu mengagumkanku. Maka, aku ceritakan hal itu kepada Nabi saw. Dengan demikian beliau bersabda:

"إِنَّ اللهَ قَدْ أوْجَبَ لَهاَ بِهاَ الْجَنَّةِ، أَوْ أَعْتَقَهاَ بِهاَ مِنَ الناَّرِ"

“Allah saw. mengharuskan ibu itu masuk surga atau membebaskannya dari neraka disebabkan kasih sayangnya terhadap anak perempuannya.” (HR. Muslim)

Selain itu, mendidik anak perempuan dapat mengangkat derajat. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa ia berkata: Rasulullah saw. telah bersabda:

"مَنْ عاَلَ جاَرِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغاَ جاَءَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ أناَ وَهَوَ"

“Barangsiapa mengurus dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa maka ia datang di hari kiamat bersamaku.” Beliau merapatkan jari-jemarinya. (HR. Muslim)

Rasulullah saw. menerangkan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin masuk surga, yaitu dengan berbuat ihsan terhadap anak perempuan dengan rincian sebagai berikut:
  • Pertama, Merawatnya hidup dan tidak menguburkannya hidup-hidup seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah.
  • Kedua, Memuliakan, memelihara dengan baik dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, kebanggaan dan penghormatan tanpa merendahkan ataupun menghinakan
  • Ketiga, Tidak mengutamakan anak laki-laki ketimbang anak perempuan dalam memperlakukan mereka
Barangsiapa yang dapat merealisasikan tiga syarat di atas maka ia sangat patut untuk mendapatkan pahala tersebut di atas yaitu masuk surga.

Mendidik anak perempuan dan mentarbiyahnya akan menjadi tabir dan penghalang dari api neraka. Diriwayatkan dari Uqbah bin Nafie ia berkata, Rasulullah saw. bersabda,

"مَنْ كاَنَ لَهُ ثَلاَثُ بَناَتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَأَطْعَمَهُنَّ وَسَقاَهُنَّ وَكَساَهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجاَباً مِنَ النّاَرِ يَوْمَ الْقِياَمَةِ"

“Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan kemudian ia sabar atas (merawat dan mendidik) mereka serta ia memberi makan dan minum mereka dari apa-apa yang ia dapatkan maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang baginya dari api neraka di hari kiamat.” (HR. Ahmad)

"مَنْ عاَلَ ابْنَتَيْنِ أوْ ثَلاَثَ بَناَتٍ أوْ أُخْتَيَنِ أوْ ثَلاَثَ أخَواَتٍ حَتَّى يَمُتْنَ أوْ يَمُوْتُ عَنْهُنَّ كُنْتُ أناَ وَهُوَ كَهاَتَيْنِ"

“Barangsiapa yang menanggung dua atau tiga anak perempuan; dua atau tiga saudara perempuan hingga mereka meninggal dunia atau ia lebih dahulu meninggal dunia maka aku dan dia seperti dua ini.” (Shahih al Jami')

Semoga kita bisa menjadi orangtua yang bisa menjaga anak-anak perempuan kita menjadi benar. Sebab, sesungguhnya merekalah yang bisa mengantarkan kita ke surga.*

Bunda Mulia. Penulis ibu rumahtangga tinggal di Surabaya.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 29 Juni 2012

Jangan Umbar Urusan Ranjangmu pada Orang Lain


Hari itu, Arif Budiman (bukan nama sebenarnya) telah mulai masuk kantor setelah lebih dari seminggu cuti karena telah mengakhiri masa lajang dan menikah dengan gadis pilihannya.

Baginya, masuk kantor pertama kali setelah pernikahan, ibarat menjadi mahasiswa baru yang mendapat perpeloncoan. Ia mengaku heran, mengapa hari itu semua ingin saja mau tahu urusan ranjangnya.

“Hei, gimana malam pertamanya? Seru gak?,” demikian ujar Agus, salah satu teman bagian pemasaran.

“Bagi-bagi dong, ceritanya, “ tambah teman lainnya.

Di saat istirahat, rupanya mereka semua ngerumpi seolah ingin melanjutkan cerita ranjang itu. Bahkan, tak jarang, sahabat yang telah lama menikah, ikut membagi-bagi cerita yang disebutnya ‘tips memuaskan istri’.

Ini hanya secuil kasus yang terjadi di masyarakat. Selama, tiga kali penulis pindah kantor, hal-hal seperti kerap terjadi, seolah bukan masalah serius.

Tak hanya kalangan pria, kalangan wanita juga tak kalah hebatnya. Jika sudah bertemu dan ngerumpi, mereka juga saling bercerita urusan ranjangnya pada teman-teman yang lain.

Kadangkala, atas nama hubungan pertemanan dan kedekatan, seseorang dengan tenangnya menceritakan kehidupan rumah tangganya pada oranglain, termasuk urusan di atas tempat tidur.

Padahal dalam Islam, Allah mencela perbuatan seperti ini. Dr. Yusuf al-Qardhawi dalam Kitabnya yang berjudul, "Al-Halal Wal Haram Fil Islam” mengutip bahasan ini.

Dalam Islam, di antara rahasia yang harus dijaga para suami dan istri selain harta adalah menceritakan urusan ranjang suami-istri kepada orang lain. Karena itu, ia tidak boleh menjadi pembicaraan di forum, atau obrolan malam di tempat-tempat berkumpul bersama, baik laki-laki maupun perempuan.

Dalam sebuah hadits dikatakan,

“Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di hari kiamat nanti adalah suami yang memberitahukan kepada istrinya dan istrinya memberitahukan kepada suaminya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya itu.” (HR. Muslim dan Abu Daud).

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى الْمَرْأَةِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا)) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

"Termasuk orang yang paling jelek di sisi Allah kedudukannya pada hari kiamat yaitu lelaki yang menggauli istrinya dan istrinya menggaulinya, kemudian lelaki itu menyebarkan rahasianya." (HR. Muslim)

Imam Nawawi menjelaskan hadits ini dengan mengatakan, bahwa dalam hadits ini diharamkan seorang suami menyebarkan apa yang terjadi antara dia dan istrinya dari perkara jima’. Juga diharamkan menyebutkan perinciannya , serta apa yang terjadi pada istrinya baik berupa perkataan maupun perbuatan dan yang lain”.

Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, “Rasulullah saw. shalat bersama kami. Setelah salam, beliau membalikkan badannya ke arah kami lalu bersabda, “tetaplah berada di tempat duduk kalian masing-masing, adakah di antara kalian orang yang bila mendatangi istrinya menutup pintu dan gorden, kemudian keluar dan menceritakan kepada orang lain dan mengatakan, “Aku telah melakukan begini dan begitu dengan istriku, dan melakukan ini dan itu bersamanya?” ‘mereka semua terdiam. Kemudian beliau menghadap ke arah kaum perempuan dan bersabda, “Adakah di antara kalian yang menceritakannya?” Maka berdirilah seorang gadis berdada montok dengan salah satu lututnya dan mendongak supaya dapat dilihat Rasulullah saw. dan didengar perkataannya. Ia berkata, “Benar, demi Allah, mereka membicarakannya.” Maka beliau saw. bersabda, “Tahukah kalian apa perumpamaan orang yang melakukan itu adalah seperti halnya setan laki-laki dan setan perempuan. Salah seorang di antaranya bertemu pasangannya itu di sebuah lorong, kemudian ia melampiaskan hajadnya kepadanya dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR. Ahmad, abu Daud, dan Bazzar).

Perumpamaan Nabi yang keras ini seharusnya menjadi peringatan pada kita semua dalam urusan rahasia ranjang kita.

Berbeda dengan agama lain, Islam sangat menjaga pernikahan kaum Muslim. Ikatan pernikahan kaum Muslim diibaratkan sebuah perjanjian yang kuat. Sehingga antara keduanya memiliki perjanjian kuat (al–mlitsaq al-ghalizha) yang tak boleh dikhianati secara seenaknya.

Karenanya, Allah berfirman;

“Dan mereka ( istri istrimu ) telah mengambil darimu perjanjian yang kuat.“ [an Nisa:21]

Wahai para suami dan para istri, sesungguhnya hubungan antara engkau dan istrimu adalah hubungan yang kuat dan suci. Hargailah kesucian itu dengan cara menjaga rahasianya!*

AF.I. Maulana & Binti Djazuli. Penulis Suami-istri, dengan empat orang anak.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kamis, 28 Juni 2012

Anak-anakmu adalah Pemenang Itu


Ada pemandangan yang sulit saya lupakan ketika masih kecil. Pagi itu, para siswa pergi ke sekolah. Semua anak-anak dengan seragam baju putih dan celana merah, dengan dasi merah dan topi merah menuju ke sekolah masing-masing untuk mengikuti upacara bendera hari Senin.

Ada seorang bapak berjalan sambil menyeret anaknya yang memakai seragam merah dan putih di depan rumah. Ia tarik keras-keras kedua tangan anak yang menangis meronta-ronta. Anak itu seperti tidak ingin memenuhi tarikan kuat tangan ayahnya. Sementara sang ayah masih tetap ingin agar anaknya mau pergi ke sekolah. Belum jelas, apa yang sesungguhnya membuat si anak kecil itu enggan ke sekolah.

Aku tahu, anak itu menahan perasaan malu. Ia menangis di depan umum dengan perlakuan ayahnya yang tidak ramah. Siapa pun yang pernah jadi anak kecil, juga pernmah merasakan malu yang luar biasa seperti itu. Apalagi di depan teman-teman sebaya mereka.

Buah Kemenangan

Kasus-kasus seperti ini banyak terjadi di sekitar kita. Terkadang seorang ayah tidak menyadari bahwa anaknya hadir di dunia karena sebuah kemenangan. Mereka adalah pemenang sebelum mengawali kehidupan di dunia ini. Mereka hadir karena kemenangan yang ia perolehnya. Dan mereka hadir bukan karena kegagalan, tapi kesuksesan. Mereka tidak senang direndahkan dan dipermalukan, karena itu adalah sifat yang menempel kuat dalam diri para pemenang. Ada sebuah kalimat yang sangat indah untuk menjelaskan bahwa setiap anak adalah buah dari kemenangan.

"You were born as a winner, cos as a sperm, you had won your race over the other millions to get to the ovum." (Kamu dilahirkan sebagai seorang pemenang, karena kamu adalah sebuah sperma yang telah memenangkan berjuta-juta sperma sainganmu untuk menuju sel telur).

Secara umum, ketika orang berhadapan dengan pemenang ia akan sangat senang sekali. Apalagi ketika yang menjadi pemenang itu adalah anak-anak kita. Hati bergetar, bulu kuduk pun ikut berdiri, dan getaran adrenalin pun semakin kencang, ketika nama anak kita dipanggil dengan suara keras di depan para orangtua murid sebagai pemenang, juara satu di sekolahnya. Perasaan syukur dan bangga bercampur aduk menjadi satu. Kita peluk erat-erat anak kita yang telah mengharumkan namanya. Pada saat itu terlihat keikhlasan orang tua. Ia tidak meminta balasan apapun, kecuali hanya perasaan bersyukur. Anak hasil didikannya menjadi seorang pemenang.

Ketika anak berhasil lahir ke dunia, dan seorang lelaki kemudian akan menjadi seorang ayah. Keberhasilan anaknya lahir ke dunia adalah buah dari kemenangannya ketika harus melawan berjuta-juta sperma saingannya.

Di dalam rahim ibunya mereka berlomba berenang dengan segenap tenaga yang dimilikinya agar cepat-cepat dapat sampai ke sel telur yang dikeluarkan oleh ibunya. Untuk menjadi seorang yang benar-benar mempunyai predikat pemenang, itu saja ternyata tidak cukup. Sel sperma yang sehat ini harus mampu menembus dinding sel telur yang kuat. Tidak sembarang sel sperma mampu menembus dinding sel telur, walaupun ia telah menyentuh dindingnya sekalipun.

Dan kemenangan ini bukan hanya selesai sampai ketika sebuah sperma berhasil menembus dinding sel terlur milik ibunya. Akan tetapi berlanjut terus sampai akhirnya ia melewati ujian selama hampir 9 bulan di rahim ibunya. Tidak sedikit dari mereka yang gagal di tengah jalan. Tidak bisa melengkapi kemenangan-kemenangan yang berikutnya. Bisa jadi karena itulah takdir yang telah Allah SWT tetapkan bagi hidupnya.

Anak-anak adalah buah dari banyaknya kemenangan. Karena itu proses ini harus diingat terus oleh sang ayah. Janganlah selalu melihat apa yang terjadi sesaat akan tetapi selalu lihatlah bagaimana proses yang sulit dan kritis itu ikut mengikutinya.

Ada sebuah pepatah yang menarik untuk kita renungi bersama, “You know my name, not my story. You’ve heard what I’ve done, not what I’ve been through. So stop judging me.” (Kamu tahu namaku tapi tidak mengetahui sejarahku. Kamu mendengar apa yang aku hasilkan, akan tetapi kamu tidak mendengar apa yang aku laluinya).

Seorang pemenang yang bernama anak terkadang bisa salah. Akan tetapi sebenarnya mereka sedang melalui proses keberhasilan sebagaimana ketika mereka berjuang keras untuk menuju ke dinding sel telur tadi. Karenanya, seorang ayah yang baik, dia haruslah selalu mengiringi usaha keberhasilan anak-anaknya, agar ia tidak hanya menyaksikan buah dari perjuangannya saja. Agar ia tahu makna dari sebuah perjuangan yang dahsyat dalam rangka mencapai keberhasilannya.

Ketika seorang ayah tahu bahwa anaknya adalah pemenang sejati, dan pejuang yang gigih, ia akan selalu menjadi pengayom dengan hasil akhir perjuangan yang diraihnya. Ia tidak akan merendahkan anak-anaknya. Ia akan tetapi menjadi pendamping setia anak-anaknya. Ia tidak akan mempermalukan anak-anaknya, karena mereka masih dalam perjuangan meraih dirinya sebagai pemenang.

Di hadapan anak-anaknya, seorang ayah adalah penanam saham penentu keshalehan anak-anaknya.

Rasulullah SAW bersabda: “Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi -sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat?“ kemudian beliau membaca firman Allah yang berbunyi: “…tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.” (QS. Ar Ruum [30]: 30).(HR. Bukhari)

Seorang pemenang harus dihargai dan dimuliakan, karena ia mempunyai sifat gagah. Sebagaimana ketika Luqman berbicara dengan anak-anaknya. Seorang ayah yang memanggil anaknya dengan panggilan mesra, pasti akan berdampak luar biasa pada anak-anaknya.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴿١٣﴾

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Luqman[31]:13)

Karena itu, wahai para ayah, engkau telah bersama-sama dengan pemenang, maka raihlah kemenangan selanjutnya bersama-sama dengan anak-anakmu!.

Yusuf Muhammad Efendy, tinggal di San Francisco, Amerika.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Rabu, 27 Juni 2012

Berikan Kepercayaan Pada Anak Kita!


Ada sebuah perusahaan yang berhasil dibangun dengan kekuatan kepercayaan. Yaitu perusahaan sepeda dengan nama Zane's Cycles. Sebuah perusahaan penjual berbagai jenis sepeda ontel di Amerika. Perusahaan yang didirikan oleh Christopher J. Zane tahun 1980 ini dimulai dari toko sederhana. Toko sepeda pertama kali didirikannya di kota Branford, negara bagian Connecticut. Toko ini cepat berkembang dan mempunyai cabang yang cepat menyebar.

Berkembang menjadi sebuah perusahaan besar yang sekarang bergerak tidak hanya masalah sepeda ontel saja. Zane mempu mengembangkan bisnisnya dalam berbagai sektor. Dan perusahaan ini akhirnya sukses dengan memperoleh keuntungan sekitar 13 juta dollar US setahun hanya untuk satu lokasi cabangnya saja.

Apa kunci kesuksesannya?

Salah satu keberhasilan perusahaan ini adalah mampu membangun kepercayaan dengan konsumennya. Zane tahu persis bahwa kepercayaan adalah kunci utama bagi toko sepeda kecil seperti miliknya. Tanpa kepercayaan sulit baginya untuk menyaingi ritailer besar sekelas Walmart dan sejenisnya.

Akan tetapi dengan membangun kepercayaan, sudah pasti ada sisi yang harus ia korbankan. Zane tahu betul, bahwa dalam diri konsumen ada prinsip "No Body Perfect".

Bagaimana Chris Zane yang berusia 33 tahun mempertahankan penjualan terus tumbuh 25 persen per tahun dalam bisnis yang sangat kompetitif? Sangat sederhana sekali. Yaitu dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi konsumen yang ingin mencoba sepedanya dan garansi seumur hidup.

“Strategi yang membuat saya sangat dikenal adalah garansi servis seumur hidup. Setelah seorang konsumen membeli dari saya, jika sepeda tidak bisa berjalan atau memerlukan perawatan, kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk membuat konsumen kembali bisa menggunakan sepeda. Gratis,” ujar Zhris Zane.

Hebatnya lagi, tanpa harus ditanya macam-macam, alias "no question asked", silakan mencoba berbagai jenis sepeda yang disukainya. Para pembelinya boleh memilih sepeda yang diinginkannya, dan mencoba semaunya tanpa perlu syarat tertentu.

Dan luar biasanya lagi, tidak hanya sepeda-sepeda yang berharga murah yang bisa dicoba, bahkan sepeda dengan harga 6000 US dollar (atau sekitar 50 juta) pun boleh dicobanya sebelum dibelinya. Dicoba berarti harus dinaiki, dan dibawa ke suatu tempat yang mungkin akan menjauh dari tokonya.

Apakah tidak takut sepedanya dicuri konsumennya? sudah pasti khawatir dan takut. Akan tetapi ternyata sikap kepercayaan kepada konsumen yang lebih besar inilah yang membuahkan keberanian melakukan “garansi seumur hidup” pada pelanggannya.

Hasil yang luar biasa. Faktanya menunjukkan, dari 4000 sepeda yang ia jual setiap tahun, hanya 5 sepeda dicuri oleh konsumennya.

Hilangnya 5 sepeda adalah tidak ada artinya bagi sebuah keuntungan yang luar biasa yang telah ia dapatkan. Dan 5 sepeda tidak ada pengaruhnya dengan kepercayaan kepada konsumen yang telah ia bangunnya. 5 sepeda tidak menjadikan usahanya bangkrut, justru dari hilangnya 5 sepeda ini ia mampu menorehkan tinta sejarah sebagai salah satu perusahaan yang berhasil membangun kepercayaan dengan konsumennya.

Inilah buah dari berpositif thinking. Kalau seandainya kekhawatiran hilangnya sepeda dirasakan Zane lebih besar daripada kesempatan yang ada di depan matanya, maka kesempatan kesuksesan itu tidak akan pernah ia dapatkan selamanya. Boleh jadi Zane masih sebuah toko sepeda kecil di kota Branford.

Al Amin

Suatu ketika seorang gadis kecil bersama dengan ayahnya melintasi jembatan tua yang tidak terawat baik. Jembatan itu penuh dengan lubang menganga, dan talinya pun terlihat ada yang putus. Pertanda kalau kurang diperhatikan oleh yang empunya. Tampak suasana takut dan cemas di raut muka sang ayah dan gadis kecil ketika hendak menyeberanginya. Sambil berbicara pelan kepada putri yang ia cintainya. "Sayang, tolong pegang tangan ayah kuat-kuat agar kamu tidak jatuh ke dalam sungai."

Mendengar permintaan ayahnya si gadis kecil berkata sedikit keras, "Tidak ayah! Ayah yang harus pegang tanganku."

"Apa bedanya?" tanya laki-laki itu sedikit bingung.

"Ada perbedaan besar, yah," balas si gadis kecil.

"Jika aku memegang tangan ayah dan sesuatu terjadi padaku, kemungkinan aku biarkan tangan ayah lepas dariku. Tetapi jika ayah memegang tanganku, aku yakin apapun yang terjadi, ayah tidak akan pernah membiarkan tanganku terlepas," jelasnya.

Gadis kecil ini menyandarkan keselamatan jiwanya kepada ayahnya. Ia yakin dan percaya betul bahwa ayahnya akan menyelamatkannya walau rintangan berat menghadangnya.

Pembaca, pernahkan anda membayangkan begitu besar kepercayaan anak-anak kita kepada kehadiran sang ayah?

Pada awalnya mereka mengharapkan untuk tidak pernah lepas dari genggaman sang ayah dalam segala hal. Termasuk dalam pendidikan moral dan agamanya. Mereka begitu menyenangi kehadiran sang ayah. Kehadirannya memunculkan harapan, dan kepergiannya memunculkan kekhawatiran. Mereka dulu terlihat begitu senang dengan sapa dan teguran yang ayah berikan. Bahkan mereka mencarinya ketika sang ayah tidak berada di sampingnya.

Hanya karena kesalahan yang diciptakan sang ayah-lah yang menjadikan mereka terkadang lepas dari genggamannya. Mereka lupa dengan prinsip yang ayah miliki, karena sang ayah tidak pernah mengajarkannya kembali. Mereka lupa dengan amal-amal sholeh yang harus dilakukannya, karena ayahnya tidak memegang kuat-kuat jalan yang harus ditempuhnya. Mereka tidak percaya kepada ayahnya lagi karena ia tidak memupuk dan menjaga kepercayaan yang diberikannya oleh anak-anaknya.

Dan akhirnya kepercayaan sang anak kepada ayahnya pun sirna. Apa yang keluar dari ucapannya tidak digubris oleh anak-anaknya kembali. Bahkan ketika ajal menjemputnya, jasad sang ayah yang sudah terbujur kaku pun menjadi sesuatu yang mengerikan bagi anak-anaknya.

Sebuah pepatah mengatakan, “Trust is like a mirror, once its BROKEN you can never look at it the same again.” (Kepercayaan seperti sehelai cermin, satu kalinya RUSAK anda tidak pernah dapat memandangnya yang sama lagi).

Pernah suatu ketika terjadi hal yang memprihatinkan di keluarga Muslim di Amerika. Mereka datang ke Amerika dengan harapan besar. Suami dan istri ini menjadi Muslim sejak lahir. Kehidupan dan pendidikan bagi anak-anaknya yang lebih baik. Kehidupan yang lebih manusiawi. Mereka mempunyai dua orang anak. Beberapa tahun kemudian, ketika anak-anaknya beranjak dewasa, ayahnya meninggal dunia karena sakit keras yang sudah lama dideritanya.

Ketika giliran memandikan jenazahnya, tidak ada satu pun anak-anaknya yang berani melakukannya. Dan ketika giliran menshalatkannya pun, mereka tidak paham bagaimana harus memulainya. Parahnya lagi, mereka pun sudah lupa bagaimana cara mengambil air wudhu.

“How should I do it?”, ujarnya dengan wajah bingung. Urutan dan aturan wudhunya tidak dapat ia lakukan dengan baik.

Peristiwa ini adalah salah satu bukti apa yang disebutkan di dalam hadist Rasulullah SAW, "Setiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah (Muslim muwahhid), namun kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nashrani atau Majusi. Sebagaimana seekor hewan melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna, adakah kamu dapati cacat padanya."(Muttafaq 'alaih)

Kembali ke tema kata “kepercayaan”, tidak ada keberhasilan tanpa kepercayaan. Itulah prinsip hidup dari sebuah kesuksesan. Banyak sekali cerita kesuksesan orang-orang besar karena adanya kepercayaan. Bahkan salah satu kunci kesuksesan dakwah Rasulullah SAW adalah karena sebutan Al-Amin (orang yang dapat dipercaya) sejak sebelum kenabian dari semua orang. Dengan kepercayaan

Inilah, dahulu Rasulullah SAW menyulam kesuksesan, dan merajut keberhasilan. Kepercayaan adalah salah satu bentuk nyata dari keberhasilan sebuah positif thingking seseorang. Positif thinking adalah sebuah upaya untuk melihat sesuatu dari sisi positifnya. Segala sesuatu pasti tidak sempurna, kecuali Allah SWT.

Oleh karena itu kalau kita terus mencari ketidak sempurnaan akan sesuatu, maka pasti akan kita dapatkan. Akan tetapi mencari ketidak sempurnaan adalah salah satu jalan kita mendapatkan kerugian dan kegagalan. Dan perilaku ini menjadi salah satu penyebab hilangnya sebuah kesempatan besar.

Begitu pula dengan kepercayaan yang dimiliki oleh seorang ayah dari anak-anaknya. Ketika mereka masih kecil, mereka percaya bahwa kekuatan otot ayahnya akan mampu menopang beban berat yang dimilikinya. Mereka percaya bahwa ayahnya adalah sosok yang mampu membimbing jalan hidupnya ke arah yang benar dan tepat. Sehingga ketika anak-anak diajak ke suatu arah kebaikan, mereka tetap percaya kepadanya. Tidak bisa dipungkiri kepercayaan selalu membutuhkan patner. Dan patner sang ayah adalah anak-anaknya.

Membangun kepercayaan perlu tumpukan kebaikan. Bahkan terkadang harus merasakan penderitaan dan ketidak berdayaan. Dan tidak jarang harus berhadapan dengan ide-ide orang lain yang menentangnya. Berhadapan dengan tarikan-tarikan yang lebih menarik bagi anak-anak dari pada keinginan baik ayahnya. Membangun kepercayaan berarti bersiap untuk berkorban. Berat memang, tapi kita perlu kepercayaan untuk menegakkan kehidupan. Ada pepatah yang dapat mengingatkan kita akan sifat kepercayaan ini, “Trust is the hardest thing to find and the easiest to lose.” (kepercayaan adalah hal yang paling sukar didapat namun paling mudah hilang).

Ketika kepercayaan anak-anak ada di pundak sang ayah, maka tidak mustahil ia akan mudah menasehatinya seperti ketika Rasulullah SAW menasehati Ibnu Abbas RA ketika kecil. Pintu nasehat yang dimiliki oleh anak-anaknya akan terbuka lebar bagi apapun yang datang dari ayahnya.

Dari sahabat Ibnu Abbas ia berkata: Suatu hari aku membonceng Nabi SAW, maka beliau bersabda kepadaku: ”Wahai nak, sesungguhnya aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (syariat) Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah (syariat) Allah, niscaya engkau akan dapatkan (pertolongan/perlindungan) Allah senantiasa di hadapanmu. Bila engkau meminta (sesuatu) maka mintalah kepada Allah, bila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah (yakinilah) bahwa umat manusia seandainya bersekongkol untuk memberimu suatu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat melainkan dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untukmu, dan seandainya mereka bersekongkol untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu selain dengan suatu hal yang telah Allah tuliskan atasmu. Al Qalam (pencatat takdir) telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering.” (Riwayat Ahmad, dan At Tirmizy)

Nah, jika kita ingin sukses sebagai ayah, mulailah dengan memperhatikan dan membangun satu kata, yaitu "kepercayaan" pada mereka. Silakan mencobanya.

Yusuf Muhammad Efendy, tinggal di San Francisco, Amerika.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Selasa, 26 Juni 2012

Ayah Sutradara Shalat Jamaah untuk Keluarga


Hidup di negara seperti Amerika Serikat (AS), sangat sulit bisa merasakan suasana pengajian seperti layaknya saat saya masih di kampung halaman. Tak seperti di Indonesia di mana jumlah masjid di Paman Sam yang sangat terbatas. Dan kalaupun ada jaraknya terkadang sangat jauh dari rumah.

Apakah itu suatu kekurangan? Bisa ya, tapu juga bisa sebuah kenikmatan tersendiri yang Allah SWT berikan. Jauhnya masjid adalah kesempatan seorang ayah seperti saya bisa menyusun shalat jamaah lebih leluasa.

Bagi saya, kekurangan ini adalah berkah. Waktu shalat jamaah adalah waktu yang paling tepat bagi kami sekeluarga untuk memperbaiki misi dan tujuan bersama. Karena seiring dengan berjalannya waktu, adalah suatu kemungkinan bahwa arah, tujuan dan misi sebuah keluarga akan mengalami pergeseran.

Tujuan indah keluarga idaman yang menjadi bayangan semula ketika membangun keluarga, menjadi berubah dengan seiring perjalanan kehidupan berkeluarga.
Karenanya, memberikan keteladanan dengan cara mengajak anak melaksanakan shalat berjamaah di rumah adalah sebuah kesempatan emas dan sangat istimewa.

Sebab keteladanan yang baik ini akan membawa kesan positif dalam jiwa anak. Orang yang paling banyak diikuti oleh anak dan yang paling kuat menanamkan pengaruhnya ke dalam jiwa anak tak lain adalah orangtuanya.

Menjadi Imam

Ayah adalah seorang yang harus mampu menjadi imam keluarga, khususnya dalam jamaah shalat. Dengan senang atau tidak, seorang ayah harus mempersiapkan hafalan-hafalan al-Qurannya untuk dibaca dalam shalat jamaah yang ia tegakkan bersama keluarganya.

Karena itu peran seorang ayah adalah sangat penting untuk selalu memonitor jalannya misi dan tujuan keluarga. Ayah mempunyai posisi penting untuk menjadi pemimpin bagi istri dan anak-anaknya. Setelah shalat jamaah, usahakan ada tema pembicaraan yang lebih serius. Dimulai dari hal-hal yang kecil dan remeh temeh. Dengarkan cerita anak saat seharian di sekolah, dengarkan keluhan istri selama berada di rumah menunggu kita, selipkan kata–kata hikmah, untuk belajar dari kehidupan.

Rasulullah SAW memerintahkan agar orangtua dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka. Dalam hal keteladanan shalat, pada tahap awal, keteladanan yang dapat dicontoh oleh anak adalah dengan gerakan-gerakan shalat.

Seorang ayah perlu mempelajari gerakan shalat yang sesuai dengan ajaran yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sehingga anak akan mendapatkan contoh gerakan shalat yang benar dari ayahnya. Semakin sering anak usia dini mendapatkan stimulasi tentang gerakan shalat --apalagi diiringi dengan pengarahan tentang bagaimana gerakan yang benar secara berulang-ulang-- maka anak semakin mampu melakukannya.

Pada tahap berikutnya keteladanan yang bisa diberikan seorang ayah adalah bacaan al-Qur’an di dalam shalat dengan suara yang terdengar oleh anak. Selain mendapatkan stimulasi gerakan shalat anak juga bisa belajar dari bacaan shalat.

Masa anak-anak adalah masa meniru dan memiliki daya ingat yang luar biasa. Ayah harus menggunakan kesempatan ini dengan baik, jika tidak ingin menyesal kehilangan masa emas (golden age) pada anak mereka. Pengarahan tentang bagaimana tata cara shalat yang benar kita ajarkan kepada anak setelah proses shalat berlangsung.

Dalam tahap lanjut, anak tidak hanya bisa meniru gerakan shalat, tapi juga memiliki kebanggaan untuk menggunakan simbol-simbol islami baik dalam ucapan maupun perilaku dalam shalatnya dan sebagainya.

Perkembangan kemampuan anak melakukan gerakan shalat adalah hasil dari pematangan proses belajar yang diberikan. Karena itu hindarkan pemaksaan pada mereka.

Pemaksaan latihan kepada anak sebelum mencapai kematangan hanya akan mengakibatkan kegagalan atau setidaknya ketidakoptimalan hasil.

Pengalaman dan pelatihan akan mempunyai pengaruh pada anak bila dasar-dasar keterampilan atau kemampuan yang diberikan telah mencapai kematangan. Sehingga anak akan menikmati gerakan shalat dengan sendirinya.

Shalat jamaah adalah sangat tinggi nilainya dan sangat besar pahalanya. Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda "Shalat Jamaah lebih utama dua puluh tujuh kali dibanding shalat sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Dari Abu Sa'id Al Khudri RA, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Shalat berjama'ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh lima derajat."(HR. Bukhari)

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim keutamaan shalat jamaah adalah 27 kali dari shalat sendiri.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Shalat jama'ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian."(HR. Muslim)

Keutamaan shalat jamaah ini menjadi hal yang penting yang bisa juga disampaikan kepada anak. Salah satu kunci kesuksesan adalah ketika kita mampu menjaga kwalitas hidup kita. Kwalitas hidup kita akan menjadi meningkat 25 sampai 27 kali ketika selalu menjaga shalat jamaah ini. Bahkan dalam hadist yang lain, shalat jamaah ini merupakan salah satu sarana untuk menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat pelakunya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

“Maukah kalian untuk aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudlu pada sesuatu yang dibenci (seperti keadaan yang sangat dingin pent), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Maka itulah ribath.”(HR. Muslim)

Hafalan al-Quran

Ajaklah anak-anak melakukan shalat jamaah bersama-sama di rumah atau di masjid. Biasakan dengarkan mereka dengan bacaan-bacaan al-Quran sang ayah. Karena itu seorang ayah perlu untuk memperbanyak hafalan al-Qurannya.

Setelah shalat jamaah selesai, suasana yang masih khusuk adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan kemuliaan ajaran agama Islam.

Dalam riwayat Utsman Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

“Barangsiapa shalat isya` berjama'ah, seolah-olah ia shalat malam selama separuh malam, dan barangsiapa shalat shubuh berjamaah, seolah-olah ia telah shalat seluruh malamnya.”(HR. Muslim)

Percayalah, dengan kebiasaan shalat berjamaah ini akan menumbuhkan rasa sakinah mawaddah dan rahmah di dalam atmosfir keluarga.

Ibnu Abbas meriwayatkan sebuah hadist dari Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan tercela dan mungkar maka orang itu tidak akan bertambah apapun dari sisi Allah kecuali bertambah jauh.”

Dengan shalat berjamaah, keluarga tidak saja mendapatkan jaminan kehidupan dari Allah SWT, ayah pun mampu membangun hubungan yang harmonis dengan anggota keluarga, sehingga hubungan keluarga tidak terbatas oleh jasad saja tetapi juga diwarnai oleh hubungan kecintaan ruhani. Mencintai ayah sebagai pemimpin keluarga, dan mencintai anak sebagai bagian dari keluarga karena Allah SWT.

Suasana cinta semacam ini akan menumbuhkan ketenangan dan ketentraman hati, membentuk keluarga yang penuh dengan kebahagiaan dan keberkahan.

Shalat jamaah menjadi ikatan yang kuat yang akan mengikat anggota keluarga satu sama lain. Keasyikan suasana shalat berjamaah, menjadi kerinduan setiap anggota keluarga.

“Sungguh akan terurai ikatan (agama) Islam itu satu demi satu! Apabila terurai satu ikatan, orang-orang pun bergantung pada ikatan berikutnya. Ikatan yang pertama kali lepas ialah hukum, sedangkan yang terakhir kali lepas ialah shalat.” (HR. Ahmad).

Dan jangan lupa juga bahwa di dalam shalat jamaah inilah para Malaikat membela keluarga-keluarga yang menegakkannya. Ketika anak-anak kita mengumandangkan adzan dan iqamat maka para Malaikat akan bersama-sama dengan anak-anak kita.

"Barangsiapa shalat di sebidang tanah, niscaya malaikat shalat di sebelah kanan dan kirinya. Jika ia mengumandangkan adzan dan iqamat, atau iqamat saja, niscaya para Malaikat shalat di belakangnya seperti gunung.”(HR. Muwatha’ Malik).

Ketika bacaan amin dari imam dan makmun bersamaan dengan bacaan para Malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni-Nya.

"Jika salah seorang dari kalian 'Amiin' dan para malaikat yang ada di langit juga membaca 'Amiin', lalu bacaan salah satunya bersamaan dengan bacaan yang lain, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari)

Begitu pula ketika anak-anak kita membaca kalimat Rabbana walakal hamdu setelah rukuk, dan bacaan itu bersamaan dengan bacaan para Malaikat, maka dosa yang telah lalu pun akan diampuninya.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "malaikat malam dan malaikat siang secara bergantian menjaga kalian, dan mereka berkumpul pada waktu shalat 'ashar dan shalat subuh, kemudian malaikat yang menjaga kalian di malam hari naik ke langit dan Allah menanyai mereka -sekalipun Dia paling tahu terhadap keadaan mereka- bagaimana kalian tinggalkan para hamba-Ku? 'Para malaikat menjawab, 'Kami tinggalkan saat mereka sedang melaksanakan shalat, dan kami datangi mereka juga saat melaksanakan shalat'." (HR. Bukhari)

Siapa yang keluarganya mau dibela oleh para Malaikat Allah? Perbanyaklah shalat berjamaah dengan keluarga Anda. Kini saatnya memulai belajar menjadi seorang ayah sekaligus seorang imam yang baik. Silakan mencoba!

Yusuf Muhammad Efendy, tinggal di San Francisco, Amerika.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Senin, 25 Juni 2012

Didiklah Anak Sedari Dini Hari


Sejak dimulai dari pemilihan bibit bagi sang calon Ibu dan pemilihan bagi sang calon ayah, sejak semula, semua pasangan sudah ada niat mencari dan menyiapkan bibit yang unggul, sehat, baik dan shalih.

Ketika semua orang telah memiliki pasangan dan dikaruniai calon bayi, benih itu dipupuk, dijaga, diberi makan yang teratur. Diajarkan mengaji sejak dalam kandungan dengan suara merdu sang ibu setiap saat, juga makanan jasmani dan ruhaninya melalui sikap dan tingkah laku orangtua (ortu).

Ia harus diberi makanan pencerdas otak sejak awal kandungan, akhlaq mulia dengan prilaku sang Ibu. Dilarang membiasakan kata-kata kotor penuh nada ejekan atau hinaan dari sang ibu dimulai dari anak dalam kandungan, agar sang anak kelak tak terbiasa mendengarkannya.

Para ibu, juga dilarang ada hati yang sombong, angkuh, kikir, karena jiwa sang Ibu berpengaruh pada sang bayi ketika ia hamil.

Para ibu, juga diperintahkan sebaik mungkin menghindari penyakit-penyakit hati, namun melakukan kebaikan hati, karena getaran dada dirasakan sang bayi
Semua ajaran di atas telah tercantum dalam firman Allah. Termasuk dalam Q.S Al-Baqarah, Luqman Al Hujuraat, dan surah lain-lainnya.

Setelah ia lahir disusukan dengan ASI yang murni sampai berumur 2 tahun penuh (sebagaimana ajaran Islam).

Ketika anak berumur 7 tahun, Islam memerintahkan untuknya shalat. Jika telah berumur 10 tahun, ia bahkan boleh dipukul, tapi pukulan penuh didikan bukan menyakiti.

Ketika anak sudah mulai bisa membedakan yang baik dan yang buru, maka Islam meminta agar anak diajarkan berenang, memanah, naik kuda, dll.

Anak juga harus diajarkan mengenal Allah Ta’ala, Nabinya, serta agamanya.

Anak Ibarat Pohon

Kenapa sejak kecil anak diajarkan shalat dan tahu agamanya? Ini adalah pendidikan ruhaninya kelak agar dewasa dia bisa mandiri, tahu apa yang harus dilakukannya saat menghadapi segala macam permasalahan.

Kenapa sejak kecil anak juga harus diajarkan memanah, berenang, naik kuda dan sebagainya dari olahraga? Lihatlah bagaimana sikap seorang pemanah dari sisi saat ia memanah dengan tepat, lihatlah orang yang berenang dalam menjaga keseimbangan tubuhnya, saat orang naik kuda mengendalikan kuda yang larinya kencang sekalipun. Jadi bukan dari sisi permainan itu saja diambil hikmahnya, tetapi substansi hikmah di belakang dari semua itu.

Mendidik anak yang sudah besar, itu sama saja kita mencoba meluruskan pohon bengkok sejak semula. Karenanya, akan sangat sulit sekali lurusnya. Kalau diluruskan dengan paksaan ia akan patah. Karena itu selagi dia masih kecil, dan masih bisa dibentuk, maka bentuklah sedari dini hari, jangan sampai siang hari, nanti kesiangan, apalagi senja hari, nanti rabun senja. Lebih parah kalau dibentuk sudah malam hari, mata udah rabun, gelap, pandangan dan samar-samar.

Orangtua kalau sudah dibentuk ketika tuanya tentu akan sulit, karena pandangan di malam hari juga sudah pada gelap. Orang siap-siap mau tidur, waktu malam hari hanyalah banyak berdo’a dan beribadah saja. Seperti begitulah orangtua, seharusnya masa-masanya sudah dekat ke kubur siap-siap menghadapi maut.

Jangankan yang sudah tua, masih muda saja kita selalu siap-siap ke kubur, itu sebabnya pohon itupun disirami sejak dari dalam tanah, sejak dari bibitnya. Kalau pohon sudah rindang, sudah tua, sudah tinggi yang diharapkan hanyalah siraman hujan dari langit, dan hidayah dari Allah ta’a’la.

Siklus kehidupan, rotasi alam, akan seperti itu ke itu saja adanya. Sunnatullah, dari bibit, menjadi benih, tunas kecil, pohon remaja dan lagi ranum-ranumnya, dan akhirnya berbuah.

Tatkala dia berbuah, dia menghasilkan biji, benih yang baru untuk penerus kehidupannya. Kehidupannya tadi digantikan lagi oleh benih yang baru, begitulah seterusnya.

Lantas, dilihat dari perputaran siklus kehidupan tanaman tadi, apakah tidak terpikir oleh kita, bagaimana sebenarnya hakikat jati diri kita?

Buat apa kita hidup, dari mana asal kita hidup, untuk apa kita hidup, pada akhirnya ke mana jalan akhir hidup kita?

Bibit, benih yang kita tanam tadi, setelah sekian tahun baru kita memetik hasilnya. Saat kita petikpun tak begitu lama, datang masa akhir hayat kita. Lantas, sudah siapkah diri kita menghadapi kehidupan nan abadi dan kekal di akhirat nanti?

Waktu yang diberikan buat bekal itu hanyalah sedikit sekali, sementara yang akan kita capai dan akan kita jalani kelaknya adalah sangat terlalu panjang, apakah tidak terfikir oleh kita untuk mempersiapkan segala sesuatunya buat diri kita sendiri dalam menghadap illahi?

Sudahkah kita menghitung amalan dan dosa-dosa kita? Masa akhirat, hari pembalasan masa kiamat adalah masa-masa sang anak lupa pada ibunya, ibu sendiri lupa pada janin yang ada dalam kandungannya, semua lupa pada siapa, yang difikirkannya hanyalah kondisi nasib dirinya sendiri.

Masa itu tak ada naungan dan pertolongan selain naungan dan pertolongan Allah Ta’ala semata.

Namun kenapa di saat-saat kita sadar diri, masih muda, masih kaya, masih memiliki akal sehat, masih punya banyak waktu, kita jarang berinteraksi dan memohon hanya padaNya?

Tetapi kita memohon pada selainNya dalam bentuk apapun itu, kita sadari ataupun tak kita sadari. Termasuk kesalahan-kesalahan kita dalam mendidik anak.

Lantas, apakah tidak ada rasa malu dalam diri kita, di saat kita nanti berada dalam kondisi serba sulit di hari akhirat, kita baru datang kepada Allah Ta’ala untuk meminta perlindungan?

Cobalah saja kita membayangkan diri kita.

Bagaimana perasaan kita, andaikan ada teman, saudara, istri, suami, anak atau siapa saja, di saat dia senang, bahagia dia lupa sama kita, dia malah ingat sama yang lainnya. Tidak tahunya di saat-saat dia berada dalam kesulitan dia datang ke kita, mengadu pada kita.

Allah juga maha pencemburu. Sungguh tak masuk diakal yang waras dan cerdas, apabila kita datang ke Allah di saat-saat kita berada dalam kesulitan. Semata, saat sehat, saat bahagia, saat kaya kita tak ingat padaNya. Lupa ibadah, lupa berinfaq, lupa memberi padaNya, lupa mengingatNya.

Manusia saja tidak bisa dibegitukan, apatah lagi Allah yang maha kuasa, maha pencemburu.

Mari sama-sama kita merenungkan semua ini. Semua bermula dari benih, bibit, anak, karena itu pantaslah anak kita katakan anugerah. Karena dari perkembangan bibit, benih, anaklah, kita dapat mengambil hikmah besar dari kehidupan ini, untuk mencapai tujuan akhir hidup kita, yakni RidhaNya semata, tak lebih dari itu.

Dan sesungguhnya, Allah telah memperlihatkan pada kita semua semua ilmunya. ALlah bahkan memilima melihat dengan “Mata Hati”, bukan “Mata Telanjang”. Sayangnya, kita sering alpa dalam masalah ini.

وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?.” [QS.Adz Zaariyah: 21]

Semoga, kita semua mampu menjadi orangtua yang peka, yang bisa melihat dengan “Mata Hati”. *

Rahima Rahim, Ibu rumah tangga, kuliah Jurusan Ushuluddin di Universitas al Azhar As-Syarif, berdomisili di Bukittinggi.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Minggu, 24 Juni 2012

Rasa Bahagia, Jika Bisa Membahagiakan Istri


Banyak pasangan bertanya, bagaiamana tips agar kita dapat membahagiakan pasangan kita? Kita tidak akan bahagia selagi orang di sisi kita tidak ikut bahagia. Itulah kuncinya. Impilikasinya, agar kita bahagia, carilah orang yang paling dekat dengan kita dan bahagiaakanlah mereka. Setelah itu, barulah kita akan merasa bahagia. Sesungguhnya bahagia itu bukan "benda" yang akan berkurang bila diberikan, tetapi ia seumpama cahaya yang semakin "diberikan" akan bertambah sinar terangnya. Ada kata orang bijak pandai, “dengan menyalakan lilin ke orang lain, lilin kita tidak akan padam... tetapi kita akan mendapat lebih banyak cahayanya.”

Siapakah orang –orang terdekat dan yang paling layak kita berikan kebahagiaan? Selain kedua ibu-bapa, maka para suami harus membahagiaan istrinya. Karena ialah yang paling utama harus mendapatkan kebahagiaan itu. Jika istri kita tidak merasa bahagia, jangan harap kita dapat membahagiakan orang lain. Dan paling penting, jika istri sudah menderita itu juga pertanda kita juga akan ikut menderita. Ingat, kita tidak akan bahagia selagi orang di sisi kita tidak ikut menikmati kebahagiaan.

Apakah langkah pertama untuk membahagiakan istri? Pertama, hargailah kehadirannya. Rasakan benar-benar bahwa si dia adalah anugerah Allah yang paling berharga. Jodoh kita itu merupakan anugrah yang telah dikirim Allah khusus sebagai teman hidup kita sepanjang masa ketika hidup di dunia ini. Karena itu, jangan pernah sia-siakan ia.

Ingatlah bahwa yang paling berharga di dalam rumah kita bukannya perabot, bukan peralatan eletronik, komputer ataupun barang-barang antik yang lain. Yang paling berharga ialah manusianya – istri atau suami kita itu. Itulah" modal insan" yang sewajarnya lebih kita hargai daripada segala-benda yang mudah rusak itu. Masalahnya, benarkah kita telah menghargai istri melebihi barang-barang berharga di rumah kita?

Sayang sekali, kadang lain difikiran lain pula yang dirasa. Coba renungkan, berapa banyak para suami yang lebih prihatin keadaan kendaraan mewahnya atau barang-barang berharganya dibanding perasaan istrinya. Batuk istri yang berpanjangan seolah tidak ikut ia (suami) rasakan, dibanding "batuk" kendaraan pribadinya. Jika mobilnya suaranya aneh, ada sedikit kerusakan, para suami cepat-cepat membawanya ke tempat resvice mobil. Sementara jika sakit istrinya, ia tak segera buru-buru mengantarkan ke dokter atau rumah sakit agar segera mendapatkan perawatan.

Bila kendaraan terdengar/terasa sedikit 'aneh', cepat-cepat dibawa ke bengkel, namun jika istrinya yang batuk-batuk, malah dibiarkan. Alasannya, itu batuk biasa, atau tanda badan sudah tua.

Banyak pria memilih menjadi 'workoholic'. Ia bekerja siang, malam, tak kenal cuti dan istirahat. Bila ditanya mengapa ia begitu sibuk? Dia menjawab, “ini demi anak dan istri.” Padahal, ketika pulang ke rumah, waktunya juga bukan untuk anak dan istrinya. Yang ada, ia justru mengabaikan istri.

Ada suami yang hobi memancing setiap akhir pekan. Sementara di saat yang sama, ia membiarkan anak-anak dan istrinya kesepian di rumah. Padahal saat itulah waktu luang yang mereka tunggu selama ini agar bisa berasama-sama setelah semua harinya dihabiskan di kantor dan tempat kerja.

Di sekitar kita banyak orang aneh. Ada yang mencari duit sampai tidak sempat menikmati duit. Bila duit sudah terkumpul, kesehatan sudah tergadai, rumah tangga sudah berkecai, istri malah ikut terabai.

Jadi bagaimana kita dapat mengharagai pasangan kita? Insya-Allah, bila ada kemauan pasti saja ada jalan. Dunia akan menyediakan jalan kepada orang yang bersungguh-sungguh. Kata orang, kasih, cinta dan sayang seumpama aliran air, senantiasa tahu ke arah mana ia hendak mengalir. Mulakan dengan memandangnya dengan perasaan kasih, mungkin wajah istri kita sudah berkerut, tetapi rasakanlah mungkin separuh "kerutan" itu karena memikirkan kesusahan bersama kita. Mungkin uban telah penuh di kepalanya, tetapi uban itu "tanda bukti" pengorbanannya dalam membina rumah tangga bersama kita. Itulah pandangan mata hati namanya.

Kalau dulu semasa awal bercinta, pandangan kita dari mata turun ke hati. Tetapi kini, setelah lama bersamanya, pandangan kita mesti lebih murni. Tidak dari mata turun ke hati lagi, tetapi sudah dari hati "turun" ke mata. Jika saat pertama kita terpaut karena "body", kinia yang kita lihat lebih jauh lagi, namanya “budi”. Yang kita pandang bukan lagi urat, tulang dan daging lagi... tetapi suatu yang murni dan hakiki – kasih, kasihan, cinta, sayang, mesra, ceria, duka, gagal, jaya, pengorbanan, penderitaan – dalam jiwanya yang melakarkan sejarah kehidupan berumah tangga bersama kita!

Daripada pandangan mata hati itulah lahirlah sikap dan tindakan. Love is verb, cinta itu tindakan, kata penyair.

Para suami kaya pulang bersama cincin permata untuk menghargai si istri. Atau petani hanya membawa sebiji mangga untuk dimakan bersama sang "permaisuri". Buruh yang pulang bersama keringat disambut senyuman dan dihadiahkan seteguk air sejuk oleh istri tentunya lebih bahagia dan dihargai oleh seorang jutawan yang disambut di muka pintu villanya tetapi hanya oleh seorang "orang –orang yang digaji".

Begitulah ajaibnya cinta yang dicipta Allah, ia hanya boleh dinikmati oleh hati yang suci. Ia terlalu mahal harganya. Intan, permata tidak akan mampu membeli cinta!

Hargailah sesuatu selagi ia masih di depan mata. Begitu selalu pesan cerdik-pandai dan para pujangga. Malangnya, kita selalu lepas pandang. Sesuatu yang 'terlalu' dekat, kadang lebih sukar dilihat dengan jelas. Sementara yang jauh terkesan jelas. Istri di depan mata, tidak dihargai, tapi orang lain nun jauh dipuji-puji. Kajian menunjukkan bahwa para suami di Amerika lebih banyak meluangkan masa menonton TV daripada bercakap dengan istrinya. Bayangkanlah, tiga jam menonton TV bersama tanpa sepatah-katapun pada istri atau keluarga, apa untungnya? Padahal istri dan anaknya duduk bersebelahan dengannya hanya beberapa inci.

Bahkan jika kita di rumahpun, kadang lebih sibuk ber SMS dengan orang lain. Malam SMS kadang, SMS ke teman lebih banyak dibanding jika ia SMS dengan istri jika sedang berada di luar atau di kantor. No news is a good news. Begitu seharusnya , rasa di hati kita.

Hidup terlalu singkat. Hidup hanya sekali. Dan yang pergi tak akan pernah kembali lagi. Yang hilang, mungkin tumbuh lagi... Tetapi tidak semua perkara akan tumbuh seperti semula. Apakah ibu-bapa yang 'hilang' akan berganti? Apakah anak, istri, suami yang 'pergi'... akan pulang semula? Jadi, hargailah semuanya selama segalanya masih ada di dekat kita. Pulanglah ke rumah dengan ceria, tebarkan salam, lebarkan senyuman. Mungkin esok, anda tidak 'pulang' atau tidak ada lagi si dia yang selama ini begitu setia menunggu kita di balik pintu. Mungkin Anda 'pergi' atau dia yang 'pergi'. Karenanya, hargailah nyawa dan raganya dengan dengan perasaan sayang dan cinta. Sebab hakekatnya kita tidak akan bahagia, selagi orang di sisi kita tidak bahagia!*

Pahrol Mohamad Juoi, penulis dan motivator parenting, tinggal di Malaysia.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sabtu, 23 Juni 2012

Beri Kepercayaan dan Jangan Pernah Tertawakan


Kedua anak saya sudah menanti waktu pertunjukan Mr Hayes yang akan mematahkan 100 balok kayu dalam waktu 10 detik. Mr. Hayes pemilik sekaligus guru taekwondow mereka di ATA Black Belt Academy.

Akhirnya jam 10 pagi, kami sekeluarga berangkat menuju tempat taekwondow mereka yang jauhnya 1 mile, tidak sampai 5 menit sudah sampai. Sesampai di sana sudah banyak teman-teman mereka yang hadir lengkap dengan seragam taekwondo, atas-bawah putih dengan sabuk berwarna sesuai tingkatan kemampuan anak. Anak-anak saya tidak memakai seragam karena niatnya hanya mau menonton Mr Hayes saja.

Saat memasuki kelas, kedua anak saya diminta bergabung dengan anak-anak yang lain untuk duduk di tempat latihan menonton video Power Kiz. Film tersebut bercerita tentang pertahan diri untuk anak-anak. Bagaimana jika mereka didekati orang tidak dikenal. Bagaimana melawan orang yang menangkap mereka, juga praktek langsung jika berhadapan dengan orang jahat. Anak berlatih memukul bagian hidung, leher, mata dan telinga orang jahat tersebut.

Setelah menonton film tersebut lalu ada atraksi anak-anak yang sudah sabuk hitam. Mematahkan papan kayu, menendang, lalu bermain dengan senjata. Saya perhatian anak-anak tersebut terlihat memiliki kepercayaan diri yang tinggi saat melakukan pertunjukan tersebut.

Sebenarnya itulah tujuan utama saya memasukan anak-anak ke ATA, agar mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sehingga mereka tidak takut menghadapi tantangan dalam kehidupan. Saat pertunjukan juga ada kesempatan bagi yang hadir untuk belajar memecahkan papan kayu. Mendengar tawaran tersebut, saya tawarkan pada kedua anak saya. Tetapi mereka tidak mau. Ya sudahlah saya tidak memaksa, saya hargai keputusan mereka.

Anak-anak yang mau belajar memecahkan papan sudah berjejer di tempat latihan. Kedua anak saya duduk di samping saya, tak tertarik. Tak lama ada pelatih mereka yang melihat kedua anak saya yang hanya duduk saja. Mr. White pun datang, jongkok di hadapan mereka dan mengajak mereka untuk turun ke lapangan. Ajaib! Mereka langsung mau.

Mulailah anak-anak berlatih melakukan pukulan. Pertama dengan kertas lalu dengan busa dan terakhir dengan kayu. Saat akan melakukan dengan kayu beneran, Mr Hayes berkata pada anak-anak tersebut.

”Yang kamu butuhkan untuk memecahkan papan kayu adalah believe in your self! Kalau kamu tidak percaya diri, kamu tidak akan bisa. Fokus, lihat ke papan dan pukul! Kamu pasti bisa.”

Anak-anak terlihat antusias dan semangat, termasuk peserta termuda usianya 4 tahun. Semua anak berhasil memecahkan papan kayu, termasuk kedua anak saya. Wow, kami bangga melihat mereka berhasil memecahkan papan tersebut. Mereka berhasil karena mereka yakin bisa memecahkan papan tersebut.

Hebatnya di ATA anak-anaknya begitu patuh dengan pelatihnya, kompak dan pada percaya diri. Salut dengan para pelatih yang bisa mengarahkan mengobarkan semanggat anak-anak tersebut. Papan-papan kayu anak tersebut kemudian dibawa pulang sebagai kenangan papan pertama yang dipatahkan. Juga di papan di tanda tangani oleh pelatih-pelatih mereka. Setelah itu acara puncak, memecahkan 100 papan dalam waktu 10 detik dan ternyata Mr Hayes dapat melakukannya dalam waktu 9,6 detik. Selamat Mr Hayes!

Setelah pulang dari pertunjukkan tersebut saya pun merenung. Saya bertanya pada diri sendiri. Apa yang sudah saya lakukan untuk menumbuhkan kepercayaan anak-anak saya pada diri mereka selama ini?

Padahal jika saya ingin mereka berprestasi dalam kehidupan mereka tugas pertama saya adalah membangun kepercayaan diri mereka. Tanpa kepercayaan diri mereka akan merasa tidak memiliki harapan dan merasa tak berdaya.

Sedangkan percaya diri akan tumbuh subur dan efektif jika anak merasa mampu. Dimana orang dewasa menghormati mereka dan menilai mereka sebagai seseorang yang berkuasa pada diri mereka sendiri. Caranya, dengan memberi mereka harapan pada masa depan mereka.

Sama seperti yang dilakukan Mr. Hayes memberi harapan kepada anak-anak tersebut dengan mengobarkan semanggat dan mengarahkan bagaimana caranya untuk sukses memecahkan papan kayu. Hasilnya anak-anak itu berhasil dengan penuh kebanggaan dalam jiwanya.

Bangun Rasa Percaya Dirinya

Rasa percaya diri anak akan tumbuh subur jika anak merasa berkuasa dan memiliki tanggungjawab pada dirinya. Anak bukan digunakan sebagai alat pemuasan keinginan orangtua sehingga segala sesuatunya diatur oleh orangtua. Bahkan anak tidak diberikan kebebasan dalam melakukan kegiatan sehari-hari sampai masa depan anak sendiri.

Untuk itu yang dapat dilakukan orangtua untuk membangun kepercayaan diri anak antara lain adalah:
  • Melihat anak sebagai pribadi yang unik dan menghargai setiap usaha anak. Tidak membandingkan seorang anak dengan saudara kandung atau kawan sebayanya. Melihat kelebihan anak dari pada kekurangan anak. Mendukung minat anak walaupun berbeda dengan keinginan kita sebagai orangtua. Kadangkala sebagai orangtua tanpa kita sadari kita telah membandingkan anak dengan saudaranya. “Kamu ini makan berantakan. Adik kamu bisa makan dengan rapi.” “Kakak kamu suka gambar. Masa kamu tidak tidak suka gambar.”
  • Realistis Terhadap Kemampuan Anak. Pelajarilah tumbuh kembang anak. Jangan mengharapkan anak melakukan sesuatu untuk meningkatkan gengsi Anda. Misalnya saja saat ini orangtua berlomba-lomba mengajarkan anaknya membaca sejak bayi. Orangtua bangga jika anaknya dapat membaca sejak dini. Padahal semua itu sebenarnya bukan untuk anak tetapi untuk memenuhi keinginan gengsi orangtua saja.
  • Berilah kebebasan pada anak untuk melakukan kesalahan alias biarkan anak belajar dari kesalahan tersebut. Ingatkan anak untuk tidak takut gagal. Ajarkan anak ketrampilan dalam memecahkan masalah agar mereka bisa terus berusaha. Daripada Anda memikirkan kesalahan anak lebih baik memusatkan pikiran bagaimana cara menyemangati anak.
  • Bangun kesuksesan. Ciptakan suasana untuk meminimalkan kegagalan. Misalnya dengan memerinci tugas ke dalam rentetan langkah mudah dan menceritakan mereka secara jelas dan singkat. Sediakan latihan. Beri anak kesempatan untuk berpartisipasi di bidang yang mereka kuasai.
  • Semangati anak. Lihat usaha yang sudah dilakukan anak, daripada kecewa dengan hasil yang dicapai oleh anak.
  • Hargai perasaaan anak. Ajarkan anak untuk menerima dan menghadapi perasaannya sendiri. Jika anak merasa kecewa dengan teman mainnya, dengarkan apa yang dirasakan anak, berikan tanggapan terhadap apa yang dirasakan anak.
  • Berikan ia pilihan. Anak tidak akan mengetahui pengertian kepemilikan dan tanggung jawab, jika orang lain selalu mengambil keputusan terhadap apa akan mereka melakukan. Untuk itu berikan pilihan sesuai umur anak, juga ijinkan mereka untuk mengadakan percobaan.
  • Berikan tanggungjawab dan ajarkan untuk bekerjasama. Beri kesempatan pada anak untuk menolong atau melakukan tugas di rumah. Hindari membantu anak melakukan sesuatu jika hal tersebut dapat dilakukan oleh anak sendiri. Misalnya, biarkan anak memakai sepatu sendiri walaupun Anda harus menunggu.
  • Bangun sense of humor. Tetapi jangan pernah sekali-kali mentertawakannya.
Meidya Derni, penulis buku “Jilbab Di Pelukan Uncle Sam” (Salamadani) dan “Princess Adila dan Karcis Sirkus” (DAR Mizan). Penulis tinggal di Amerika.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Membiasakan Anak Menjadi Gemar Berinfaq


Seorang anak perempuan berumur dua tahun berlari menghampiri meja komputer dimana sang ibu biasa menaruh uang sisa belanja. Tangan-tangan kecilnya meraih beberapa uang logam dan celoteh cadelnya segera terdengar meminta sang ibu mengambilkannya sesuatu, “Bunda, ipak (infaq). Abi (ambil) itu.” Tangannya menunjuk-nunjuk kotak infaq yang diedarkan mushala ke setiap rumah.

Sang ibu dengan tersenyum mengambilkan kotak infaq di atas meja ruang keluarga tersebut dan meletakkannya di hadapan puteri kecilnya. Tangan-tangan kecil itupun dengan lincah memasukkan koin demi koin ke dalam kotak. Ketika uang logam di tangannya habis, dia pun bersorak gembira, “Horeee…ipak!” Ibu muda itu pun menatap anaknya penuh syukur.

Menyenangkan memang melihat anak kita sejak dini telah terbiasa bersedekah. Namun, ternyata mengajarkan anak untuk bersedekah tak sesederhana yang dibayangkan. Seperti perjalanan gadis kecil bernama Arina tersebut mengenal infaq. Sebelum usianya genap dua tahun, ayah bundanya telah membiasakan sang anak menaruh uang logam sisa belanja di kotak infaq.

Awalnya berniat untuk membiasakan sang anak berinfaq. Setiap ada uang logam, terutama sang ayah, segera menyemangati puteri kecilnya untuk memasukkan uang logam ke dalam celah kotak infaq, meski jari-jari kecilnya saat itu belum dapat memposisikan uang logam dengan baik. Seiring dengan waktu, sang anak pun terbiasa memasukkan uang logam yang dilihatnya langsung ke kotak infaq. Jari-jari kecilnya pun sudah terampil memasukkan uang logam tanpa bantuan.

Namun, yang kemudian terjadi sungguh di luar dugaan. Setiap melihat uang logam koin, Arina pun spontan menyebutnya infaq. Bahkan meskipun uang tersebut bukan untuk infaq. Ayah-bundanya pun segera menyadari bahwa infaq dalam persepsi puteri kecilnya adalah koin uang logam.

“Waaahh… kalau Arina tahunya infaq berupa uang logam recehan, gawat itu!” Ujar sang ayah. Maka Ayah-Bunda Arina pun sepakat untuk mengajarkan menginfaq-kan uang lembaran kertas ke kotak infaq agar sang anakpun tahu bahwa infaq tak cuma recehan.

Arina pun dengan senang hati belajar memasukkan uang lembaran seribuan dan lima ribuan ke dalam kotak infaq. Ayah-bundanya pun mulai lega melihat kemajuan tersebut. Namun, suatu hari mereka dikejutkan oleh tingkah anaknya. Mereka melihat Arina memasukkan beberapa lembar uang kertas ke dalam kotak infaq yang berada di atas lantai.

Pasalnya, sepertinya warna biru uang kertas yang dimasukkan oleh jari-jari puterinya bukanlah warna biru uang seribuan dan ooohhh… ada uang kertas berwarna merah yang kini juga tengah berusaha dimasukkan Arina.

Ternyata Arina telah berhasil memasukkan uang lembaran limapuluh ribuan dan kini tengah berusaha memasukkan lembaran seratus ribuan! Sementara itu dompet sang ayah tergeletak dalam keadaan terbuka di lantai kamar. Arian pun menoleh mendengar kepanikan orangtuanya, sambil tersenyum ia berkata, “Ipak niii…”

Sang ayah dan bunda pun saling menatap tak tahu berkata apa. “Yaaa... infaq memang tak boleh hanya recehan Nak, tapi kalau sebesar itu, Ayah-Bunda juga belum mampu,” begitulah kira-kira yang tercetus dalam hati kedua orangtuanya.

Tanamkan sejak Dini

Nah, mengajarkan bersedekah atau berinfaq pada anak memang tak semudah yang dikira karena memang disinilah seninya mendidik manusia yang selalu berkembang kemampuannya dan dianugerahi inisiatif.

Namun demikian, sikap gemar bersedekah ini memang harus ditanamkan sedini mungkin dalam jiwa anak karena tindakan ini sangat dicintai oleh Allah SWT sebagaimana yang disebutkan dalam wasiat Rasulullah saw:

“Tidaklah seorang hamba bersedekah dari harta yang baik yang dia miliki karena Allah SWT tidak menerima kecuali yang baik-baik, melainkan Ia akan menyambutnya langsung dengan tangan kanan-Nya. Jika sedekahnya itu berupa sebutir kurma, maka ia akan tumbuh subur di telapak tangan-nya sampai menjadi lebih besar dari gunung. Perumpamaannya adalah seperti jika sang hamba tersebutmemelihara anak sapi atau unta (yang tentu setiap waktu akan bertambah besar).” (HR.Tirmidzi)

Di samping itu, sedekah juga merupakan sarana untuk menyucikan diri, di antaranya terkandung dalam sabda Rasulullah, “Berusaha keraslah menghindari api neraka meski hanya dengan (menyedekahkan) sebutir kurma.” (HR.Bukhari)

Lalu bagaimana caranya supaya anak dapat menyukai amalan bersedekah dan terdorong selalu bersedekah? Berikut adalah beberapa dari banyak hal yang dapat dilakukan:
  • Yang pertama, ajarkan sejak dini dengan cara yang disukai anak. Seperti menyediakan kotak infaq di rumah (apalagi bila disediakan dalam bentuk yang lucu) dan biarkan ia merasa tertantang memasukkan koin-koin uang logam dengan jari-jari kecilnya. Lalu perdengarkanlah bagaimana bunyi uang logam ketika menyentuh dasar kotak dan iramakanlah dengan mimik yang lucu, seperti “cluk-cluk-cluk!” Anak pun pasti akan merasa senang.
  • Kedua, tanamkanlah pada anak bahwa bersedekah adalah hal yang menyenangkan dan diperlukan. Seperti mengatakan kepada anak, “Waah, Bunda sedang nggak punya uang nih, Nak. Kasih uang sama pengemis dulu, yuk. Insya Allah si Ibu tua itu senang, sehingga kita pun ikut senang meski sedang tak punya uang.” Dengan demikian, anakpun akan belajar bahwa bersedekah akan mendatangkan kebahagiaan pada orang lain dan diri sendiri. Menanamkan bahwa ibadah adalah hal yang menyenangkan juga dapat dilakukan pada amalan yang lain seperti shalat, membaca al-Quran, berjilbab dan lain-lain.
  • Ketiga, sentuhlah hati anak yang lembut untuk turut merasakan penderitaan orang lain. Seperti ketika ia tengah memakan kue sarapannya, ajaklah ia untuk bersyukur akan kelezatan rasa kue yang tengah disantapnya tersebut. Lalu, ajaklah ia untuk mengetahui bahwa ada anak lain yang tak dapat menyantap kue untuk sarapan dengan mengingatkannya pada anak-anak di pinggir jalan yang suka dilihatnya ketika bepergian. Kemudian, doronglah ia berinfaq mengumpulkan uang untuk anak jalanan dan kaum dhuafa lainnya.
  • Keempat, berikanlah informasi yang lengkap tentang apa saja yang dapat diinfaq-kan atau disedekahkan pada anak. Sehingga kepanikan yang dialami orangtua Arina tak terjadi pada Anda! *
Kartika Trimarti, penulis lepas dan ibu rumah tangga tinggal di Bekasi, Jawa Barat

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Bila “Dia” adalah Sumber Masalah


Permasalahan pasti tak akan pernah sepi dalam kehidupan berumah tangga. Permasalahan seringkali timbul dari ketidakpuasan kita pada pribadi pasangan atau sikap-sikap yang ditampakkan olehnya. Kondisi ini seringkali menimbulkan ketidaknyamanan, bahkan perselisihan yang kadang berujung pada pertengkaran hebat.

Menanyakan apa pangkal masalah tidak selalu dapat mendamaikan masalah. Karena, terkadang masalah bukan datang dari diri pasangan, tetapi justru dari diri kita sendiri. Bagaimana kita menyikapi kekurangan yang ada dalam diri pasangan, dari bagaimana kita memahami sikap yang diambil oleh pasangan, atau bahkan dari bagimana kita berkompromi dengan diri kita sendiri terhadap apa yang diputuskan oleh pasangan.

Jadikan Lebih Baik

Inilah yang kerap kali terlupa. Yang lebih sering kita lakukan adalah fokus pada objek masalah, pada “seperti apa bentuknya” masalah tersebut. Namun, kita lupa bahwa yang memiliki kendali untuk melihat sesuatu itu sebagai masalah atau bukan sesungguhnya adalah diri kita sendiri.

Mari sejenak undur diri dari pekatnya masalah, dari ketidaknyamanannya hati, dan dari keinginan untuk segera melihat masalah itu pergi. Tanyakanlah pada diri kita, sesungguhnya apa yang dapat kita lakukan untuk membuat sesuatu yang kita pandang masalah tersebut menjadi lebih baik.

Bila memang masalahnya ada pada sikap pasangan kita, maka lakukanlah apa yang dapat membuatnya “terbebas dari masalah”. Misalkan saja, bila masalahnya ia adalah “ice man” yang sangat minim ekspresi, bahkan tak pernah berbicara kecuali mengeluarkan perintah, maka sentuhlah hatinya untuk dapat sedikit merasakan indahnya mengekspresikan perasaan dalam kata-kata. Sentuhan tersebut dapat diberikan melalui perhatian-perhatian yang intens.

Jangan malu untuk memulai karena sesungguhnya yang meneguhkan anggapan bahwa pasangan kita adalah si “ice man” adalah diri kita sendiri. Maka, mulailah dari diri kita untuk memberikan perhatian tak kenal jemu karena kita berkeyakinan bahwa ia adalah sang “halfsoul of love”. Maka, suatu saat dengan pertolongan Allah yang Maha Penyayang, ia pun akan bergerak untuk menyayangi. Karena, Ia telah menjamin bahwa pernikahan yang senantiasa memohon perlindungannya adalah pernikahan yang akan menumbuhkan kasih-sayang, sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam surat Ar-Ruum ayat 21.

Mencegah Masalah

Marilah bergerak untuk menjadi orang yang berkontribusi untuk menjadikan sesuatu lebih baik ketimbang memandang sesuatu sebagai masalah. Selain kita dapat mengisi jiwa kita dengan pikiran-pikiran positif, kita juga dapat berperan untuk mencegah timbulnya masalah.

Bukankah, sesungguhnya kita tidak dianugerahi seorang yang kita inginkan untuk menjadi pendamping hidup kita? Melainkan seseorang yang menolong kita untuk lebih baik dan juga menolongnya untuk menjadi pribadi yang lebih dicintai? Dari kenyataan itulah hadirnya makna ketentraman di hati dalam sebuah pernikahan. Ketentraman yang merupakan buah dari kesigapan masing-masing pasangan untuk saling menolong melengkapi kekurangan, mengingatkan kekeliruan, dan mencegah timbulnya masalah.

Karena, memang tujuan pernikahan bukanlah sekadar berkutat pada masalah yang ada di depan mata. Namun, tujuannya menyatu dengan kehendak langit untuk menjadikan semesta tunduk bergerak di bawah kehendak-Nya, termasuk pasangan dan anak-anak kita tentunya.

Saat masalah menghinggapi, alangkah lebih berharga bila masalah justru menjadi kesempatan emas untuk berbuat kebaikan dan menjadi pribadi yang lebih baik, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah saw: “Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang orang yang sedang kesulitan, niscaya Allah mudahkan baginya di dunia dan di akhirat dan siapa menutupi (aib) seorang Muslim, Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR.Muslim)

Marilah menerapkan wasiat Rasulullah ini, terutama pada pasangan kita. Tentu masalah akan segera berubah menjadi ladang amal kebaikan dan kasih sayang semakin bertambah.*

Kartika Trimarti, penulis lepas dan ibu rumah tangga tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jangan Rusak Jiwa Anak Kita!


Anak yang membanggakan pasti merupakan idaman setiap orangtua. Merupakan hal yang wajar, bila anak yang berprestasi atau memiliki kelebihan kemudian menjadi buah bibir orangtuanya. Hal ini bisa kita lihat manakala para orangtua berkumpul, pasti ada saja topik yang membahas kebanggaan mereka terhadap anak.

Meskipun membanggakan anak awalnya merupakan tanda syukur kita terhadap karunia Allah, akan tetapi ada beberapa dampak yang harus kita waspadai manakala berbicara tentang hal ini.

Dampak pertama membanggakan adalah membandingkan. Manakala seseorang membanggakan sesuatu, ia akan cenderung mengganggap remeh hal lain yang menjadi pembandingnya. Dalam hal ini, orangtua yang membanggakan kelebihan anaknya pasti akan membandingkan kelebihan sang anak terhadap anak orang lain yang menjadi lawan bicaranya, secara langsung ataupun tidak. Kondisi membandingkan ini pasti akan menumbuhkan ketidaknyamanan dalam hati lawan bicara. Akibatnya, boleh jadi orangtua yang merasa dibandingkan tersebut “ngedumel” dalam hati atau malah balik menyerang dengan sanggahan dan berakhir dengan pertengkaran.

Dampak lanjutan dari membandingkan ini adalah perasaan rendah diri orangtua yang berada “di pihak yang kalah”. Mereka akan merasa bahwa anak mereka bukanlah orang-orang yang istimewa. Akibatnya, bukan hanya orangtua yang tertekan, anak-anak pun akan terkena dampak. Orangtua akan memaksa anaknya untuk mencapai keberhasilan yang sama.

Misalkan saja, orangtua yang memiliki anak berusia di atas satu tahun tetapi belum dapat berjalan cenderung memaksa anaknya untuk segera berjalan, meski hanya dengan mengeluh di depan anaknya, “Koq, kamu belum bisa jalan sih, Nak?”

Efeknya tentu dapat dirasakan pada harga diri anak. Alih-alih orangtua bertugas sebagai pembangun harga diri dan tempat berlindung anak, orangtua yang telah berada di bawah tekanan pembandingan justru akan melemahkan harga diri anak.

Bila hal ini tidak segera disadari dan diperbaiki oleh orangtua, anaklah yang menjadi korban dari sebuah ambisi kebanggaan.

Melihat buruknya dampak yang diakibatkan dari berbangga-bangga ini, tentu sebaiknya kita meninggalkan sikap ini manakala tengah berbicara tentang anak. Seorang ulama bahkan pernah berpesan untuk menghindari membangga-banggakan anak ini ketika kita berada dalam sebuah forum silaturrahim.

Karena, selain dapat berakibat buruk bagi anak, sikap ini juga dapat merusak persaudaraan.

Jangan berlebihan

Kita masih mengingat akan penyebab turunnya ayat 103 surat Ali Imran yaitu sikap bangga-membanggakan antar kabilah yang akhirnya nyaris memicu perkelahian antar sahabat Anshar. Belajar dari peristiwa ini, alangkah baiknya jika kita menghindari sikap bangga-membanggakan yang Allah firmankan dalam surat At-Takatsur ayat 1: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.”

Selain dapat merusak kehangatan persaudaraan, sikap berbangga ini akan membuat seseorang enggan datang bersilaturrahim atau malah menghindar untuk berbicara. Semua ini tentu akan melalaikan kita untuk menyambung tali silaturrahim dan saling tolong-menolong.

Padahal, telah sampai kepada kita ayat-ayat-Nya dan sunnah Rasul-Nya yang menyuruh kita untuk saling bahu-membahu dalam kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang dimurkai Allah.

Tak sedikit di sekitar kita, ada orangtua membangga-banggakan salah satu anaknya dan di saat yang sama menjatuhkan anaknya yang lain.

“Tiru tuh, kakakmu, bukan seperti kamu,” begitu salah satu orangtua yang pernah saya dengar membanding-bandingkan anaknya.

Padahal, dengan membanding-bandingkan, akan membuat kerusakan pada jiwa masing-masing anak. Bagi yang dibanggakan ia berpotensi menjadi sombong, sementara bagi yang dijatuhkan, ia berpotensi menjadi rendah diri. Kedua-duanya akan berpotensi memiliki kepribadian buruk di kemudian hari.

Islam melarang sikap berlebihan. Dalam al_Quran Allah Ta’ala berfirman:

"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar…" [An-Nisaa': 171]

Sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda:

“Permudahlah dan janganlah kalian mempersulit. Berikanlah berita gembira, dan janganlah kalian menakut-nakuti”

Orangtua harusnya besikap adil kepada semua anaknya. Tak perlu menekankan bahwa “anak harus bisa”. Karena setiap anak memiliki potensi berbeda. Alangkah indahnya, jika salah satu potensi dan kelebihan di antara anaknya menjadi pemacu spirit bagi yang lainnya.

Alangkah indahnya, bila dalam setiap bertemunya orangtua dengan anak, yang hadir hanyalah kata-kata positif yang dapat mendorong dan membantu dan memberi semangat untuk menjadi lebih baik.

Begitupun bila anak kita memiliki kelebihan, menjadi lebih indah, bila kelebihan tersebut dapat menjadi solusi bagi permasalahan saudara kita. Kelebihan tersebut dapat melengkapi kekurangan yang dimiliki saudaranya.

Apalagi bila kemudian menjadi kesyukuran dan kebanggaan bersama. Tentu ini akan membuat persaudaraan semakin rekat dan semangat untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam kebaikan semakin subur.

Jika rasa cinta dan kasih sayang orangtua kurang tercurahkan pada diri anak-anak, tak mustahil ia hanya akan tumbuh sebagai pribadi berprilaku aneh di tengah komunitasnya. Sebaliknya, jika orangtua memberi rasa lebih cinta dan kasih sayang, ia akan tumbuh menjadi pribadi barik di tengah kawan-kawannya. Ia akan menjadi percaya diri dan memiliki kepekaan sosial. Karena ituitu, kewajiban bagi orang tuauntuk memenuhi kebutuhan cinta dan kasih sayang pada mereka.

Perkataan Ibnu Khaldun dalam Kitab Al Muqaddimah bisa menjadi renungan kita bersama;

“Barangsiapa yang pola asuhannya dengan kekerasan dan otoriter, baik (ia) pelajar atau budak ataupun pelayan, (maka) kekerasaan itu akan mendominasi jiwanya. Jiwanya akan merasa sempit dalam menghadapinya. Ketekunannya akan sirna, dan menyeretnya menuju kemalasan, dusta dan tindakan keji. Yakni menampilkan diri dengan gambar yang berbeda dengan hatinya, lantaran takut ayunan tangan yang akan mengasarinya”.*

Kartika Trimarti, penulis lepas dan ibu rumah tangga tinggal di Bekasi

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 22 Juni 2012

Resep Menepis Bosan pada Pasangan Muslim


Bagi pasangan yang baru saja mengayuh biduk rumah tangga, mungkin perasaan bosan belum menjangkiti hati. Masih banyak pemakluman yang disematkan. Masih banyak toleransi yang direntangkan, manakala melihat pasangan melakukan hal-hal yang tidak berkenan. Kita pun masih tersenyum, manakala ia datang membawa sesuatu yang membuat kita lupa akan tingkahnya yang menjengkelkan.

Namun, bagaimana bila seiring dengan berjalannya waktu, pemakluman itu tak lagi ada? Kata-kata yang diucapkannya pun tak lagi menjadi penawar atas gundah yang berkecamuk di hati. Lisannya justru menjadi pemicu akan kemarahan yang sudah lama bertumpuk. Kehadirannya justru menjadi pemandangan yang menyebalkan. Akhirnya, pertemuan demi pertemuan hanyalah sebuah rutinitas karena memang tidak ada tempat pulang yang ‘harusnya’ kecuali rumah. Akhirnya, hanya ada satu kata yang mengemuka: bosan!

Sejatinya, bosan merupakan akibat yang muncul dari permasalahan yang selalu datang berulang tetapi tidak kunjung menemui penyelesaian yang tuntas. Ada baiknya, kita tidak perlu terlalu fokus pada kejenuhan yang dirasakan, tetapi justru berusaha menyelesaikan permasalahan yang menjadi biang keladi.

Putuskan dalam Hati

Berupaya menemukan jalan keluar dari permasalahan yang berlarut-larut memang bukan perkara mudah. Kadang, kita terlanjur menarik kesimpulan sendiri akan jawaban atau sikap yang akan dihadirkan pasangan. Tentunya, ini bukanlah penyikapan terhadap masalah yang baik. Membiarkan diri kita selalu mendengar ungkapan negatif versi perasaan kita sendiri, akan menyeret kita pada suasana hati yang buruk dan penuh prasangka.

Cobalah sesekali untuk memberi ruang bagi jawaban atau sikap pasangan. Karena, untuk merasa bahagia, bingung, kecewa, sedih, marah bahkan jenuh adalah masalah keputusan yang dibuat dalam hati kita sendiri. Bila kita memutuskan untuk melapangkan dada, mendengar jawaban atau menyaksikan sikap yang ditampakkan oleh pasangan, maka kita pun tidak akan merasa kecewa atau marah terhadap respon yang diberikan olehnya. Bahkan, bila kita telah memutuskan untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi, bukan mustahil, Allah Subhanahu wa Ta’ ala (SWT) akan memudahkan jalan keluarnya.

Kita adalah apa yang kita pikirkan. Bila kita berpikir bahwa masalah itu sudah berurat-akar dan tak dapat diselesaikan, maka akan seperti itu pulalah keadaan hubungan kita dengan pasangan. Penuh rasa kecewa, bosan, dan terperangkap pada rutinitas kewajiban. Itulah sebabnya, hindari membiarkan perasaan kita menjadi sesuatu yang sulit dipahami oleh Anda dan pasangan. Buatlah keputusan bahwa masalah kita akan berakhir dengan baik dan mendatangkan kebahagiaan.

Bosan pun bisa dihindari dengan tindakan yang kita ambil. Aktivitas yang monoton dengan lawan interaksi yang tak berubah, sangat potensial untuk memicu kejenuhan. Karena itu, interaksi yang saling mengisi, mengerti, dan dikemas dalam pola yang baru, diharapkan mampu menjadi jurus yang ampuh untuk mengimbangi kecenderungan merasa jenuh. Artinya, dalam keseharian, perlu adanya inisiatif dari masing-masing pihak untuk mengatasi pemicu kebosanan dengan rasa saling mengisi.

Mencoba Mengerti

Inisitiaf ini tentu tak akan muncul, bila tidak didasari oleh terbangunnya rasa pengertian di antara pasangan. Masalah pun akan terlihat lebih jelas, bila kedua belah pihak mau sejenak berhenti menomorsatukan perasaan masing-masing dan mengerti apa yang dirasakan oleh pasangannya.

Terkadang, kita adalah orang yang sangat membutuhkan pengertian. Hidup bersama orang yang tidak mau mengerti kita, tentu hidup akan terasa tidak masuk akal. Apapun yang kita lakukan adalah kesalahan. Dengan adanya pasangan yang senantiasa berusaha mengerti dan mengisi, kita akan merasa ditemani. Selain itu, merasa bahwa apa yang kita lakukan juga dapat membahagiakan orang lain.

Begitu pula sebaliknya, apa yang dirasakan suami atau isteri kita. Bila kita berusaha memahami bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk memberikan yang terbaik, tentu ia akan bersemangat dan berusaha melakukan hal yang baik itu menjadi lebih baik. Inilah yang akan menghindarkan kehidupan berumahtangga dari kejenuhan.

Cobalah kita cermati sejenak, tindakan yang diambil oleh Rasulullah SAW saat menemani Aisyah RA. Saat itu Aisyah RA melakukan hal yang bagi sebagian orang mungkin tidak masuk akal dan kekanakkan.

Aisyah RA berkata, "Demi Allah, aku pernah melihat Rasulullah SAW berada di pintu kamarku, sedangkan saat itu di dalam masjid ada beberapa orang Habsyi (Abyssinia) yang sedang bermain tombak. Rasulullah SAW pun kemudian menutupiku dengan selendangnya agar aku tidak terlihat oleh orang banyak, tapi aku dapat melihat permainan mereka. Aku sandarkan wajahku di antara bahu dan telinga beliau dengan menempel di pipi beliau, kemudian beliau bersabda, “Wahai Aisyah, apakah engkau sudah puas?” Aku menjawab, “Belum.” Dan aku tetap melihat permainan itu dari tempatku berdiri sampai aku merasa puas."

Dalam riwayat lain disebutkan, "Beliau tetap berdiri karena menemaniku (Aisyah) melihat permainan itu hingga aku puas, lalu aku pergi meninggalkan permainan itu, maka perkirakanlah dengan perkiraan wanita remaja yang masih senang melihat permainan." (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Agar istrinya mendapatkan hiburan dan merasa senang, Rasulullah SAW tak merasa rugi meluangkan waktu sejenak untuk menemani Aisyah RA melakukan sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang “sudah lewat masanya”. Nah, agar Anda dan pasangan tak dihantui rasa bosan, bagaimana jika bersama-sama melakukan hal yang tidak biasa?

Rasulullah SAW dalam berbagai Hadits yang masyhur menggambarkan betapa beliau sangat menjaga mood isteri-isterinya. Beliau senantiasa melakukan hal-hal kecil yang membuat rumahtangga beliau selalu terlihat cerah setiap harinya. Siapa pun tak akan mampu menyembunyikan rasa ketersanjungan manakala diperlakukan laksana Rasulullah SAW memperlakukan Shafiyah binti Huyay. Dengan lembut, Rasulullah SAW menyediakan pahanya untuk dijadikan injakan Shafiyah, saat isteri beliau tersebut hendak menaiki kuda tunggangannya. Jadi, meskipun Anda tahu bahwa suami Anda bisa merapikan jenggotnya sendiri atau isteri Anda bisa membuka pintu mobil sendiri, apa salahnya jika suatu saat Anda yang melakukan hal tersebut untuknya?

Nah, bila rasa bosan sudah mulai menghinggapi denyut keseharian Anda dan pasangan, marilah bersama kembali pada sunnah Rasul-Nya. Yaitu sunnah untuk mendengarkan apapun yang disampaikannya, berprasangka baik, berinsiatif untuk melakukan hal-hal yang membuatnya gembira, dan menjadikannya satu-satunya yang terbaik di hati Anda.

Dan jangan lupa, perhatian dan tindakan Anda yang membuatnya merasa paling istimewa, tentu akan membuatnya menjadikan Anda pun orang yang diistimewakannya, setiap saat. [Kartika, ibu rumah tangga tinggal di Jakarta]

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tak Perlu Malu Berkata “Tidak Tahu’’


Para ulama terdahulu tidak pernah malu berterus terang jika mereka benar-benar tidak tahu. Karena mereka tahu, bahwa konsekwensi berfatwa tidak didasari ilmu adalah berat. Dan sifat mereka yang hati-hati inilah yang justru menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu. Banyak yang bisa kita tiru dari sifat-sifat baik mereka.

Al Khatib Al Baghdadi mengisahkan bahwa Imam Malik ditanya 48 masalah, hanya dua yang dijawab, dan 30 masalah lainnya dijawab dengan, “la adri“ (saya tidak tahu) (Al Faqih wa Al Mutafaqqih, 2/170).

Kejadian ini tidak hanya sekali. Dirwayatkan juga oleh Ibnu Mahdi bahwa seorang lelaki bertanya kepada Imam Malik, akan tetapi tidak satupun dijawab oleh beliau hingga lelaki itu mengatakan:“Aku telah melakukan perjalanan selama 6 bulan, diutus oleh penduduk bertanya kepadamu, apa yang hendak aku katakan kepada mereka?“ Imam Malik menjawab, “katakan bahwa Malik tidak bisa menjawab!“ (Nukilan dari Al Maqalat Al Kautsari, 398).

Seorang faqih besar Madinah, Imam Madzhab yang dianut ribuan ulama hingga kini, yang madzhabnya menyebar hingga Andalusia tidak segan-segan menyatakan bahwa dirinya tidak mampu menjawab. Tidak hanya beliau, para ulama Madinah juga amat berhati-hati dalam menjawab masalah halal dan haram. Karena jika tidak mengetahui masalah, kemudian memaksakan menjawab, sama dengan menisbatkan suatu perkara yang bukan syari’at kepada syari’at. Beliau menyatakan:“Tidak ada sesuatu yang paling berat bagiku, melebihi pertanyaan seseorang tentang halal dan haram. Karena hal ini memutuskan hukum Allah. Kami mengetahui bahwa ulama di negeri kami (Madinah), jika salah satu dari mereka ditanya, sekan-akan kematian lebih baik darinya.“ (dari Maqalat Al Kautsari, 399).

Abu Hanifah, Imam Madzhab paling tua dari empat madzhab juga pernah ditanya 9 masalah, semua dijawab dengan “la adri”. (lihat, Al Faqih wa Al Mutafaqqih, 2/171).

“La Adri“, Bagian dari Ilmu

Sampai saat ini ada juga yang masih mengira, jika seseorang tidak tahu, lalu ia terus terang mengatakan “saya tidak tahu“, maka sederet stigma negatif akan menempel kepadanya, seperti kurang pengetahuan, bodoh, kuper dll.

Padahal tidak demikian, beberapa ulama seperti Al Mawardi dan Al Munawi menjelaskan, justru merupakan sifat orang alim, jika ia tidak tahu maka ia terus terang. Sebaliknya sifat orang bodoh, jika ia takut mengatakan kalau dirinya tidak tahu, dan hal itu bukanlah sebuah aib.

Beliau menjelaskan:“Kedudukan seorang alim tidak akan jatuh dengan mengatakan “saya tidak tahu“ terhadap hal-hal yang tidak ia ketahui. Ini malah menunjukkan ketinggian kedudukannya, keteguhan dien-nya, takutnya kepada Allah Ta’ala, kesucian hatinya, sempurna pengetahuannya serta kebaikan niatnya. Orang yang lemah dien-nya merasa berat melakukan hal itu. Karena ia takut derajatnya jatuh di depan para hadirin dan tidak takut jatuh dalam pandangan Allah. Ini menunjukkan kebodohan dan keringkihan diennya“. (Faidh Al Qadir, 4/387-388).

Imam Al Mawardi juga menyebutkan: “Jika tidak memungkinkan mendapat kesempatan untuk menguasai seluruh ilmu, maka jahil terhadap beberapa masalah bukan merupakan suatu aib. Jika demikian maka janganlah engkau malu mengatakan,“saya tidak tahu“, menyangkut hal-hal yang engkau tidak tahu“. (lihat, Adab Ad Dunya wa Ad Din, 82)

Sehingga tidaklah heran jika para salaf menyatakan bahwa “la adri“ (saya tidak tahu) adalah bagian dari ilmu. Seperti Abdullah bin Umar yang menyatakan: “Ilmu ada tiga: Kitab yang dibaca, Sunnah yang ditegakkan, dan la adri.“ (Riwayat Ibnu Majah).

Begitu pula Ibnu Mas’ud: “Sudah masuk bagian ilmu, dengan mengatakan “Allahu A’lam“, bagi hal yang tidak diketahui. (Riwayat An Nasai).

Bahkan Al Ghazali menilai bahwa pahala mereka yang mengaku terus terang, tentang ketidaktahuannya, tidak lebih sedikit, jika dibandingkan mereka yang mampu menjawab. Beliau menjelaskan: “La adri adalah setengah dari pengetahuan. Barang siapa diam karena tidak tahu dan itu dilakukan karena Allah, maka pahalanya tidak lebih rendah daripada mengatakan (karena dia tahu). Karena mengakui ketidaktahuan amat berat. Karena kabaikan diam disebabkan tidak tahu karena Allah adalah bentuk kewara’an (kehati-hatian) seperti mereka yang menjawab karena tahu adalah tabaru’an (pemberian). (lihat, Ihya’ ‘Ulum Ad Din, 1/69).

Jika demikian, janganlah kita malu mengatakan terus terang , “saya tidak tahu“, terhadap apa yang tidak kita ketahui. Dan janganlah kita memaksa untuk berbicara tentang hal yang tidak kita ketahui.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Ramadhan News. Copyright 2012 All Rights Reserved Bulan Ramadhan Di Facebook by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com