Selasa, 24 Juli 2012

Manusia Dalam “Kepompong” Ramadhan


Sebelum menjadi dewasa, kupu-kupu adalah ulat yang tak seindah dirinya ketika menjadi dewasa ,bahkan terkesan menjijikkan bagi banyak orang. Kupu-kupu memiliki siklus hidup yang unik, yang terdiri dari empat tahap yaitu : Telur , ulat(larva),pupa, dan imago (dewasa).Perubahan ini yang kita kenal sebagai metamorfosis .

Lain hal nya kupu-kupu manusia terlahir dengan sempurna, tanpa perantara kepompong atau pun menjadi ulat untuk menemukan bentuk sempurnanya. Tidak terbatas pada kesempurnaan eksoteris (lahiriyah) melainkan mencakup aspek esoteris (batin) alias “tanpa dosa”.

Namun seiring dengan bertambahnya tinggi dan usia, terkadang manusia menjadi “ulat-ulat” kehidupan yang terkesan menjijikkan. Premanisme, korupsi, dusta, ghibah dan perbuatan dzalim lainnya, serta ibadah-ibadah kita yang belum sempurna nan keropos nampaknya sudah cukup untuk menunjukkan diri yang kian “mengulat”.

Lantas bagaimanakah nasib kita yang telah menjelma menjadi “ulat-ulat” kehidupan?

Maha suci Allah yang maha pengasih yang membuka pintu taubat selebar lebarnya bagi ummat Muslim. Shalat lima waktu, umrah, haji, meupakan beberapa sarana untuk menghapus dosa, begitu pula ibadah puasa Ramadhan yang sedang menghampiri kita.

Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR.Bukhari)

Bulan Ramadhan atawa meminjam istilah masyarakat “bulan Puasa” tak ubahnya kepompong bagi kehidupan manusia. Yang gemar menggunjing setelah keluar dari kepompong sejatinya gunjingannya berkurang bahkan menghilang, yang sering berdusta begitu selesai Ramadhan menjadi insan yang jujur, begitu pula yang jarang menjamah masjid keluar dari kepompong menjadi “penunggu” shaf pertama yang setia. Si “bakhil” tiba-tiba menjadi pemurah keluar dari Ramadhan, perangai buruk menjadi baik.

Inilah yang dimaksud dengan "agar kamu bertakwa", sebagaimana firman Allah azzawajalla:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah : 183) .

Taqwa dalam artian yang umum adalah melakukan apa apa yang diperintahkan Allah dan rasulnya dan meninggalkan apa apa yang dilarang oleh Allah dan rasulnya shallallahu 'alaihiwasallam .

Taqwa merupakan manifestasi dari berhasilnya puasa. Manusia yang sudah terlanjur menjadi “ulat -ulat” kehidupan memasuki kepompong Ramadhan sudah selayaknya keluar menjadi kupu-kupu, bukan kembali menjadi ulat.

Padahal hal ini sudah diwanti – wanti dari empat belas abad yang lalu oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, dalam sabdanya:

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya melainkan hanya rasa lapar dan dahaga.” (HR.Ath-Thabrani)

Lantas, akankah ulat yang masuk kedalam kepompong keluar menjadi kupu-kupu? insyaAllah. Semoga Allah memberikan kita kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa.*

Penulis mahasiswa di Universitas Madinah Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pahlawan-Pahlawan Sedekah


Di sebuah pertemuan, ada sebuah anekdot yang cukup terkenal sekaligus menjadi pertanyaan yang menggelitik rasa penasaran: Siapakah nama pahlawan Indonesia yang paling sering masuk ke masjid? Mendengar pertanyaan tersebut, banyak dari mereka menjawab bahwa para pahlawan itu adalah mereka yang terkenal semangat perjuangannya membela Tanah Air dengan jihad sebagai spiritnya.

Satu per satu mulai menjawab, “Pahlawan yang paling sering ke masjid pasti ya Pangeran Diponegoro. Beliau kan orang Islam pakek sorban lagi.” Ada yang menjawab, “Kalau enggak salah Insya Allah Imam Bonjol, beliau juga pakek sorban kok.” Ada yang memberi jawaban, “Kalau yang saya tahu sih, ya Bung Karno. Apalagi Bung Karno itu yang menggagas berdirinya Masjid Istiqlal, masjid paling gede se-Asean Tenggara.”

Jawaban-jawaban yang lain masih mengalir. Si penanya angkat suara. Katanya, “Pahlawan yang paling sering masuk ke masjid bukan Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Bung Karno. Tapi pahlawan yang paling sering masuk ke masjid adalah Pattimura dan Pangeran Anatasari!”

Segera setelah mendengar nama Pattimura, mereka terbengong-bengong. “Apa g salah tu, masak sih pangeran Pattimura dan Antasari doang. Terus yang lain jarang ke masjid, gitu?!” tanya keherananan.

Si penanya menguraikan keterangan untuk memecah kebingungan kawan-kawannya. “Tahukah kalian gambar uang yang tercantum di tiap lembar uang kita, ada yang bergambar Bung Karno dengan nominal 100 ribu, I Gusti Ngurah Rai dengan nominal 50 ribu, Sultan Mahmud Adaruddin II dengan nominal 10 ribu, Pangeran Antasari dengan nominal 2 ribu, dan Pattimura dengan nominal seribu rupiah. Manakah dari nominal uang yang paling sering “berkunjung” ke masjid? Apakah uang bergambar Bung Karno atau Antasari? Apakah I Gusti Nugrah Rai atau Pattimura?”

Memang, terbukti beda “nasib” uang 100 ribu dan 2 ribu, meski sama-sama dicetak oleh Bank Indonesia. Pada suatu saat terjadilah “dialog” singkat yang bermula dari bertemunya uang kertas seribu (1000) dengan uang kertas seratus ribu (100.000), lalu bilang, “Hai, ke mana saja kamu? Aku jarang lihat kamu akhir-akhir ini.” Uang kertas seratus ribu menjawab, “Aku habis pergi ke supermarket, mall, bioskop dan hal-hal semacam itulah. Kalau kamu?” Uang kertas seribu bilang, “Tau sendirilah, seperti biasa, aku tergeletak di celengan masjid.”

Itulah kita selama ini. Sering kali kita “menganaktirikan pahlawan.” Untuk urusan kepuasan materi, uang 100 ribu boleh berbangga namun miskin manfaat dan hanya beredar di kalangan elite, di restaurant mahal, hotel berbintang. Sementara uang 1000 sering berada dalam keadaan kotor dan lusuh, beredar di tukang sayur, abang becak, ojek, pengamen, hingga pengemsi yang renta, celengan masjid, tapi ia kaya manfaat, banyak member kontribusi dan dampak dalam membangun semangat saling tolong menolong.

Dari kenyataan itu, pantaslah kita bertanya kepada diri sendiri, sejauh mana kepedulian kita terhadap sesama yang membutuhkan uluran tangan kita? Di pelbagai lokasi dengan mudah kita temukan saudara kita sendiri rela merogoh kocek dalam-dalam dari angka ratusan ribu hingga jutaan rupiah demi menonton penyelenggaraan sebuah konser grup musik papan atas, sementara di perbagai daerah banyak bayi-bayi terkena busung lapar, merengek-rengek iba, ibunya hanya bisa menangis tak punya biaya untuk membeli makanan dan susu layak gizi karena harga yang melambung tinggi.

Di manakah “pahlawan” Bung Karno kita selama ini ketika kita rela membelanjakannya di bioskop, pusat-pusat perbelanjaan, butik-butik high class, padahal sering kita dengar berita anak yang tewas gantung diri karena malu orangtuanya tak sangup membiayai sekolahnya. Orangtuanya yang bekerja sebagai buruh harian dan bahkan kerja apa saja, tak lagi sanggup berpikir bagaimana biaya sekolah anaknya, untuk berpikir makan apa hari ini saja masih menjadi kabut misteri baginya.

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam, “Ya Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?” Rasul menjawab, “Bersedekah pada waktu sehat, pada saat tamak harta, di kala takut miskin, dan sedang berangan-angan menjadi orang yang kaya. Janganlah kamu memperlambatnya sehingga maut tiba, lalu kamu berkata, ‘Harta untul si Fulan sekian dan untuk si Fulan sekian, padahal harta itu telah menjadi milik si Fulan (ahli waris).’” (HR. Bukhari-Muslim).

Ramadhan adalah syahrul muwaasah (bulan solidaritas). Dalam bulan suci ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam menjadi sosok yang lebih dermawan disbanding bulan-bulan selainnya. Abdullah bin Abbas ra. berkata, “Nabi adalah manusia paling dermawan dan sifat dermawannya semakin bertambah pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari-Muslim).

Kedermawanan beliau mengilhami para sahabatnya. Dalam sebuah pertempuran, tepatnya perang Tabuk, kala itu persedian finansial menipis sementara kebutuhan cukup besar. Nabi melakukan mobilisasi dukungan material dan moral sekaligus. Datanglah Umar bin Khathab ra. dengan setengah hartanya. Nabi bertanya, “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?” Dijawab oleh Umar, “Sebanyak yang kuserahkan.”

Tidak lama berselang datanglah Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan membawa seluruh hartanya tanpa menyisakan sedikitpun untuk keluarganya. Tanya Nabi, “Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab dengan meyakinkan, “(Kutinggalkan untuk keluargaku) Allah dan Rasul-Nya.” Mendengar jawaban ini, Umar menyahut, “Aku tidak akan bisa mengalahkannya.”

Bukan pada banyaknya penghasilan yang kita peroleh tapi seberapa banyak manfaat yang berhasil kita tebarkan kepada orang lain. Bukan seberapa banyak harta yang kita miliki yang menjadi persoalan, namun sejauh mana manfaat yang terkandung di dalamnya. Ini yang jauh lebih penting.

Bagaimana? Siapakah pahlawan favorit Anda yang paling sering ke masjid, beredar pada anak-anak yatim, para fakir-miskin, anak-anak putus sekolah, janda-janda tua? Para salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa itu disyariatkan atas diri kita?” Dijawab, “Supaya orang-orang kaya bisa merasakan rasa kelaparan sehingga tidak melupakan nasib orang-orang yang lapar.” Wallahu A`lam Bis Shawaab.*

Penulis adalah Pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Malang Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Keutamaan Ramadhan dan Alumni Madrasah Setan


Marhaban ya Ramadhan..! Ramadhan telah tiba. Setelah sekian lama berpisah, kini bulan yang dirindukan oleh setiap orang yang beriman ini telah hadir di tengah-tengah kita. Kedatangannya selalu dinantikan dan dielu-elukan oleh umat Islam. Suasana bersamanya menyenangkan dan membuat jiwa-jiwa orang mukmin tenang dan damai. Umat Islam seluruh penjuru dunia menyambut kedatangan Ramadhan dengan perasaaan gembira dan suka cita.

Ada fenomena menarik ketika Ramadhan tiba. Tulisan tahniah (ucapan selamat) atas kedatangan Ramadhan seperti “Marhaban ya Ramadhan” menghiasi setiap sudut kota dan media massa di Indonesia. Bahkan ucapan tahniah ini menjadi sms paling favorit dan tren dalam beberapa hari ini. Ungkapan tahniah seperti ini sudah menjadi populer di kalangan umat Islam sebagai ungkapan rasa kegembiraan atas kedatangan bulan Ramadhan.

Memang, sudah sepatutnya seorang muslim bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan. Bagaimana tidak? Bulan Ramadhan merupakan bulan keberkahan. Pada bulan ini pahala ibadah dan rezki dilipatgandakan. Selain itu, bulan Ramadhan juga merupakan bulan maghfirah, bulan rahmat, itqu minnan nar (pembebasan dari api neraka), dan sebagainya. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam menjulukinya sebagai sayyid asy syuhur (penghulu segala bulan). Dengan berbagai keutamaan yang dimilikinya, maka sangatlah wajar bila bulan Ramadhan disambut dengan gembira dan suka cita oleh orang Islam yang merindukan surga Allah Swt.

Sebaliknya, ada sebahagian golongan yang merasa susah dan gelisah dengan kedatangan bulan Ramadhan. Mereka tidak bergembira sebagaimana umat Islam lainnya yang bergembira dalam menyambutnya. Mereka ini adalah golongan setan dan para pengikutnya. Bagi setan, kedatangan bulan Ramadhan berarti menggagalkan usaha mereka selama ini untuk menjerumuskan manusia ke dalam kubangan dosa. Sedangkan bagi pengikut dan murid setan, bulan Ramadhan dapat mencegah tradisi mereka dalam berbuat maksiat sebelum ini.

Para pelaku maksiat merasa dipersempit ruang gerak untuk berbuat maksiat pada bulan Ramadhan. Karena, pada bulan Ramadhan mereka harus menahan nafsunya. Tempat-tempat maksiat, hiburan-hiburan yang mengumbar birahi ditutup serta fasilitas maksiat ditutup. Terlebih lagi para setan yang menjadi guru para pelaku maksiat selama ini dibelenggu pada bulan Ramadhan. Begitu pula nafsu yang menjerumuskan manusia ke neraka juga dikekang dengan ibadah puasa. Karena puasa itu adalah penahan nafsu dan maksiat sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, “Puasa itu Junnah (penahan nafsu dan maksiat)” (HR. Ahmad, Muslim dan An-Nasa’i)

Meskipun demikian, bila perbuatan maksiat masih juga terjadi pada bulan Ramadhan, maka bukan haditsnya yang salah. Namun, ada tiga kemungkinan faktor penyebabnya.

Pertama, para pelaku maksiat pada bulan Ramadhan adalah murid dan kader setan, karena mereka telah dilatih untuk berbuat maksiat sehingga menjadi kebiasaan.

Kedua, puasa yang dilakukan oleh seseorang tidak benar (baca: tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam) sehingga tidak diterima. Bila puasanya dilakukan dengan benar, maka puasanya itu mencegahnya dari maksiat.

Ketiga, nafsunya telah menguasai dan menyandera dirinya. Puasa sesungguhnya tidak hanya menahan diri dari makan, minum dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa, namun juga menahan diri dari maksiat atau ucapan dan perbuatan yang diharamkan. Maka tidak heran, bila kita menemukan pada bulan Ramadhan orang-orang yang tetap berbuat maksiat di bulan Ramadhan. Karena, bisa jadi mereka alumni madrasah setan atau puasanya tidak benar atau mereka telah dikuasai oleh nafsunya sehingga puasanya tidak mempunyai nilai apa-apa dan tidak memberikan dampakpositif dalam tingkah lakunya.

Keutamaan Ramadhan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tidak hanya memerintahkan kita berpuasa di dalam bulan Ramadhan, namun juga memerintahkan kita untuk bersemangat beribadah dalam mengisi hari-harinya. Memasuki bulan Ramadhan, beliau senantiasa memberikan taushiah (nasehat) dan bimbingan mengenai Ramadhan dan puasa. Beliau memberi kabar gembira atas kedatangan Ramadhan kepada para shahabat dan umatnya dengan menjelaskan berbagai keutamaan bulan Ramadhan. Tujuannya adalah untuk memberi motivasi bagi para shahabat untuk beribadah dengan optimal dan semangat pada bulan ini.

Di antara kabar gembira dari hadits-hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan yaitu:

Pertama, Bulan Ramadhan merupakan bulan keberkahan, sebagaimana sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassalam, “Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian. Pada bulan ini pula pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat. Pada bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang (untuk mendapatkan kebaikan) padanya, maka sungguh ia telah terhalang (untuk mendapat kebaikan). (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).

Setiap ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan, maka Allah akan melipat gandakan pahala dan ganjarannya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: ”Setiap amal yang dilakukan oleh anak Adam adalah untuknya, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipat bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Swt berfirman: Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. Karena sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena-Ku. (HR. Muslim).

Dalam sebuah riwayat shahabat Salman al-farisi ra, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam berkhutbah di hadapan para sahabatnya, “Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) didalamnya lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah. Siapa yang mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan (pada bulan itu), seolah-olah ia mengerjakan satu perbuatan wajib pada bulan lainnya. Siapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib pada bulan yang lain, ia seolah-olah mengerjakan tujuh puluh kebaikan di bulan lainnya.”.

Kedua, di bulan Ramadhan pintu-pintu surga terbuka dan pintu-pintu neraka tertutup serta setan-setan diikat. Maka bulan Ramadhan adalah peluang bagi orang pencari kebaikan untuk berbuat kebaikan dan sarana mengantarkan seorang muslim kepada surga. Ramadhan juga menjadi sarana pencegah seorang muslim untuk berbuat maksiat dan menutup jalan menuju maksiat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, “Apabila masuk bulan Ramadhan maka pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan pun dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam juga bersabda, “Apabila malam pertama bulan Ramadhan tiba, maka setan-setan dan jin-jin yang sangat membangkang dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup sehingga tidak satupun darinya terbuka, dan pintu-pintu surga dibuka sehingga tidak satupun pintu yang tertutup. Kemudian ada penyeru yang memanggil-manggil, “Wahai pencari kebaikan sambutlah dan wahai para pencari kejahatan kurangilah”, dan Allah membebaskan orang-orang dari api neraka pada setiap malam.” (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

Abu Hurairah berkata, “Ketika Ramadhan tiba, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, “Sungguh telah datang kepada kamu bulan yang penuh berkah yang diwajibkan puasa padanya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang kebaikan padanya maka sungguh ia telah terhalang. (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).

Imam Ibnu Rajab, ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata, “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah Ta’ala) tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para setan dibelenggu?”.

Ketiga, bulan Ramadhan merupakan bulan pengampunan dosa. Allah Swt menyediakan Ramadhan sebagai fasilitas penghapusan dosa selama kita menjauhi dosa besar. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: ”Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at dan Ramadhan ke Ramadhan menghapuskan dosa-dosa di antara masa-masa itu selama dosa-dosa besar dijauhi”. (HR. Muslim). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, “dan Allah membebaskan orang-orang dari api neraka pada setiap malam.” (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

Melalui berbagai aktifitas ibadah di bulan Ramadhan dapat menghapuskan dosa. Di antaranya adalah puasa Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam: ”Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam juga bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, mengetahui batasan-batasan (hukum) nya dan menjaga dari apa yang sepatutnya ia jaga ( dari hal-hal yang membatalkan puasa) maka dihapuskan dosa-dosa sebelumnya.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).

Begitu juga melakukan shalat malam (tarawih atau qiyamul lail) pada bulan Ramadhan dapat menghapus dosa yang telah lalu, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam: ”Barangsiapa yang berpuasa yang melakukan qiyam Ramadhan (shalat malam) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat, bulan pembebasan dari Api neraka. Setiap malam di bulan Ramadhan Allah membebaskan hamba-hamba yang dikehendaki dari api neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, “Dan Allah membebaskan orang-orang dari api neraka pada setiap malam.” (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

Sangat disayangkan bila Ramadhan yang memiliki begitu banyak keutamaan itu datang dan berlalu meninggalkan kita begitu saja, tanpa ada usaha maksimal dari kita untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah kita. Bahkan yang lebih memalukan lagi, bila hari-hari Ramadhan yang seharusnya diisi dengan memperbanyak ibadah diganti dengan ajang maksiat, na’uzubillahi min zaalik..! Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam telah memberi peringatan dengan sabdanya, “Jibril telah datang kepadaku dan berkata: ”Wahai Muhammad, Siapa yang menjumpai bulan Ramadhan, namun setelah bulan ini habis dan tidak mendapat ampunan, maka ia masuk Neraka. Semoga Allah menjauhkannya. Katakan Amin! Aku pun mengatakan Amin!." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya).

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, “Celakalah bagi orang yang masuk pada bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan berlalu sebelum ia diampuni.” (HR. At-Tirmizi, Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi).

Akhirnya, marilah kita meraih berbagai keutamaan yang disediakan di bulan Ramadhan dengan cara mengisi hari-hari Ramadhan dengan berbagai aktivitas ibadah dan amal shalih. Semoga kita dapat memanfaatkan sarana pengampunan dan bonus pahala yang berlipat ganda pada bulan ini, serta memperoleh predikat ”muttaqin” yang menghantarkan kita ke surga.Amin!

Penulis adalah Dosen fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry & ketua Dewan Dakwah Aceh   Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Berwudhu Cegah Bau Mulut Saat Berpuasa


Bau mulut atau halitosis sering dialami oleh mereka yang berpuasa. Berwudhu adalah satu cara mengatasinya. Sering berwudhu yang berarti juga sering berkumur, turut membuat mulut menjadi bersih dan lembab sehingga mencegah bau mulut.

Selain itu, untuk mengatasi bau mulut, mereka yang berpuasa diminta untuk memperhatikan kesehatan mulut dan gigi sejak sebelum bulan Ramadhan tiba. Selama bulan puasa, sikatlah gigi secara seksama pada saat sahur dan juga setelah berbuka.

Mengapa mulut orang berpuasa itu bau? Saat berpuasa, mulut pun "ikut berpuasa" mengunyah. Karena tak melakukan aktivitas, produksi air liur pun menurun.

Dalam keadaan normal, jumlah produk air liur 1 - 1,5 liter yang berguna untuk membunuh bakteri penyebab penyakit yang berasal dari sisa-sisa makanan yang tertinggal di mulut. Ketika produksi air liur ini terhenti, tentu saja bakteri-bakteri berpesta pora sambil menebarkan bau tak sedap di dalam mulut.

Juga karena terhentinya produksi air liur, maka sisa makanan tetap berkumpul di mulut, tidak terdorong ke kerongkongan. Proses pembusukan pun terjadilah.

Selamat berpuasa... Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Berwudhu Cegah Bau Mulut Saat Berpuasa


Bau mulut atau halitosis sering dialami oleh mereka yang berpuasa. Berwudhu adalah satu cara mengatasinya. Sering berwudhu yang berarti juga sering berkumur, turut membuat mulut menjadi bersih dan lembab sehingga mencegah bau mulut.

Selain itu, untuk mengatasi bau mulut, mereka yang berpuasa diminta untuk memperhatikan kesehatan mulut dan gigi sejak sebelum bulan Ramadhan tiba. Selama bulan puasa, sikatlah gigi secara seksama pada saat sahur dan juga setelah berbuka.

Mengapa mulut orang berpuasa itu bau? Saat berpuasa, mulut pun "ikut berpuasa" mengunyah. Karena tak melakukan aktivitas, produksi air liur pun menurun.

Dalam keadaan normal, jumlah produk air liur 1 - 1,5 liter yang berguna untuk membunuh bakteri penyebab penyakit yang berasal dari sisa-sisa makanan yang tertinggal di mulut. Ketika produksi air liur ini terhenti, tentu saja bakteri-bakteri berpesta pora sambil menebarkan bau tak sedap di dalam mulut.

Juga karena terhentinya produksi air liur, maka sisa makanan tetap berkumpul di mulut, tidak terdorong ke kerongkongan. Proses pembusukan pun terjadilah.

Selamat berpuasa... Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Bulan Puasa, Waspadai Makanan Kadaluarsa


Kepolisian Daerah Metro Jaya bersama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mulai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah tempat perbelanjaan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi maraknya makanan yang sudah kadaluarsa dan tidak memiliki izin BPOM beredar menjelang lebaran. Demikian diungkapkan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, di Mapolda Metro Jaya.

"Dalam menghadapi Lebaran, kami sudah melakukan kegiatan di lapangan bersama Kementerian Perdagangan dan BPOM melihat sejauh mana barang-barang yang dijual, apakah dipengaruhi oleh barang kadaluarsa atau banyak daging gelonggongan atau daging busuk masih dijual," tutur Rikwanto.

Ia menjelaskan, tim dari Polda yang bergerak yakni unit Industri dan Perdagangan (Indag) Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Yang akan menjadi sasaran operasi ini, lanjutnya, adalah pasar-pasar dan mal, tempat menjual kebutuhan pokok.

Rikwanto menuturkan, pihak kepolisian bersama Kemendag dan BPOM sudah berhasil menyita barang-barang dan makanan impor dari luar negeri dan dalam negeri yang diketahui belum memiliki izin. "Ada merek-merek tertentu yang belum melalui Kemendag dan BPOM dan tidak ada label dari instansi tersebut dijual dan kami sita," ucapnya.

Menurut Rikwanto, barang-barang yang tidak memiliki izin kebanyakan adalah hasil impor dari China. "Namun, kami juga memiliki negara-negara lain yang barangnya disita, tapi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan China," kata Rikwanto. Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mengenalkan Anak Ibadah Puasa


Anak-anak memang tidak wajib berpuasa, namun sejak balita ia sudah bisa diajak memahami makna puasa sesuai dengan tahap kematangan emosional anak.

Sebelum mengajarkan anak berpuasa, yang harus dipahami setiap orangtua adalah tidak ada unsur paksaan.

"Ketika mengajak anak, prinsipnya adalah belajar. Orangtua harus menanamkan kesan positif tentang baiknya puasa sehingga anak tidak membenci puasa," kata dr.Pimprim Basarah Yanuarso, Sp.A.

Supaya anak gembira berpuasa, sebaiknya lakukan pengkondisian beberapa hari sebelum dimulainya puasa. Misalnya diajarkan nikmatnya berpuasa, melakukan ritual ibadah bersama-sama, dan sebagainya tergantung perkembangan pemahaman anak.

Berapa jam idealnya anak berpuasa? Ini pun sifatnya individual. "Tergantung kematangan emosional anak. Orangtua yang lebih tahu berapa lama seorang anak tahan menderita tidak makan dan minum," kata Pimprim.

Orangtua juga bisa berdiskusi dengan anak untuk mengetahui kesanggupannya berpuasa berapa jam. "Yang agak sulit jika ada adiknya atau teman-teman di sekitarnya yang tidak berpuasa. Tapi orangtua bisa memotivasi semangat anak," imbuh dokter spesialis anak dari RSIA.Hermina Bekasi ini.

Dari sisi medis, menurut Pimprim, pada dasarnya anak yang sehat dan cukup gizi boleh berpuasa. "Anak yang menderita penyakit kronis seperti anemia atau status gizinya kurang sebaiknya tidak berpuasa dulu," tandasnya.

Untuk menjaga asupan kalori anak, pastikan anak melakukan sahur setiap hari. "Puasa selama 14 jam kalau dibekali dengan kalori ekstra tidak akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak," katanya.

Supaya puasanya lancar, ajak anak melakukan berbagai aktivitas sehingga anak tidak mengingat rasa laparnya. Misalnya dengan membacakan buku cerita, bermain balok, atau kegiatan lain yang disukai anak.

Selamat melatih si kecil berpuasa. Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Manfaat Puasa Seks 30 Hari


Istilah ¨sex detox¨ mungkin belum begitu akrab di telinga. Namun, dua kata ini dapat diartikan dengan sederhana, yakni menghentikan aktivitas seksual selama kurun waktu tertentu untuk memperbaiki kualitas kehidupan seksual Anda.

Adalah terapis seks kenamaan, Ian Kerner, yang mengenalkan istilah ini dalam buku barunya berjudul Sex Detox. Ia mengatakan bahwa untuk menggapai kepuasan yang lebih baik, terkadang seseorang harus melupakan aktivitas seksual untuk sesaat. Puasa seks dapat dilakukan hingga 30 hari lamanya. Upaya ini dapat membantu memperbarui hubungan setiap pasangan dan mengembalikan gairah seksual yang sempat padam.

Mengapa perlu sex detox?
Terkadang, Anda harus melupakan seks sementara waktu untuk memahami masalah yang mungkin menghantui dan mengganggu keharmonisan Anda. Jika anda melakukan seks hanya sekadar menuntaskan kewajiban, melakukan orgasme semu, atau gairah menurun karena merasa tidak tertarik, detoks dapat membantu dalam memecahkan masalah dan menelusuri apa yang tengah terjadi dengan Anda.

Bagaimana melakukannya?
Setiap hari selama 30 hari ¨berpuasa¨, Anda harus melakukan aktivitas yang berbeda, membaca, atau merenung untuk mengeksplorasi banyak hal yang memengaruhi kehidupan seks Anda. Anda mungkin bisa melihat foto-foto kenangan keluarga untuk mempelajari bagaimana pengaruh ini berperan di masa kanak-kanak atau Anda juga bisa memeriksakan kesehatan Anda secara keseluruhan. Idealnya, detoks dilakukan suami dan istri bersamaan, namun Anda juga dapat melakukannya sendiri. Terkadang bila detoks ini memberi pengaruh positif, pasangan Anda juga akan mengikutinya.

Apa manfaat sex detox?
Anda akan mendapat pemahaman dan pengetahuan lebih luas mengenai apa yang terjadi dalam kehidupan seksual dan bagaimana pengaruhnya terhadap hubungan Anda dan sebaliknya. Perasaan Anda akan merasa lebih tersambung dan siap untuk berkomunikasi dengan pasangan. Kalaupun Anda tak mampu menahan gairah selama 30 hari penuh, pelanggaran mungkin akan membuat seks justru menjadi lebih hot, dan hasilnya tidak akan terlalu buruk. Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Berbuka dengan Kurmalicious


Coffee Lovers, ada yang baru nih buat kalian para pencinta kopi, namanya adalah Kaffein. Mereka baru hadir di FX Plaza sekitar 3 bulan yang lalu. Yang di FX ini adalah gerai kedua mereka.

Sedangkan yang pertama berlokasi di Panorama Building yang ada di Jalan Tomang Raya 63, Jakarta Barat. Nah, baru-baru ini mereka juga membuka gerai ketiganya di Mall Taman Anggrek lantai 4.

Kehadirannya di FX Plaza memang sangat menarik perhatian karena lokasinya persis berada di tengah-tengah mal. Enak banget di sini saat meeting bisa sambil minum kopi lezat ala Kaffein.

Kopi yang digunakan di Kaffein menggunakan 100 persen Kopi Arabica yang berasal dari Amerika Latin. Menurut pihak Kaffein, kopi ini lebih rendah kafein dan lebih lembut. Mau yang espresso, old school, atau mau yang frosty coffee? Silakan dipilih sesuai selera.

Nah, selama bulan puasa ini sampai bulan Oktober nanti, Kaffein menawarkan menu seasonal mereka yang dinamakan Kurmalicious. Kurmalicious terbuat dari kopi, susu, ekstrak kurma, whipped cream, dan pastinya buah kurma itu sendiri.

Enak nih buat buat berbuka puasa karena rasanya manis. Apalagi ada buah kurmanya dan rasa kopinya tidak terlalu strong. Jadi aman buat lambung setelah berpuasa seharian.

Mau yang lebih lucu lagi rasanya? Ada nih Black Forest Moccacino. Biasanya kan kita makan blackforest berupa kue, tetapi ini kali ini berupa minuman, he-he. Rasanya unik banget, ada sensasi rum, manis cokelat, tetapi tetap ada rasa kopi di dalamnya. Cobain deh... yummy.

Kalau mau yang klasik, kita bisa pilih Americano maupun Latte. Saya pun tergiur untuk mencoba Latte. Creamy dan soft banget. Yup, rasa kopinya memang sangat soft. Jadi kalau mau, Anda bisa tambah kopinya satu shot lagi.

Mau yang noncoffee juga ada loh. Kreasi minuman mereka yang noncoffee juga sangat unik. Sebut saja seperti Oreo Cheesecake, Oreo di-blend bersama keju, dan susu.

Kemudian di bagian atasnya diberi whipped cream plus taburan keju parut lagi. Wuih mantap! Bayangkan rasa biskuit Oreo yang manis, kemudian ada rasa asin dari keju, seru rasanya.

Anda pun bisa mengajak anak-anak Anda ke sini karena Kaffein juga menyediakan menu minuman untuk anak-anak. Seperti Babycino, Orange Jelly, dan Chocowow. Yang Oreo Cheesecake tadi juga bisa untuk anak-anak karena tidak ada kandungan kopinya.

Selain minuman, di sini juga ada aneka pastry dan cake. Coba fudge brownies, enak loh. Apalagi Red Velvet Cupcake yang terbuat dari buah bit, duh enak deh cupcake ini. Manisnya pas banget, tidak berlebihan manisnya. Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Rabu, 04 Juli 2012

Ternyata, Lelah itu Sangat Berharga


Sebenarnya siapa sih yang paling berjasa dalam keluarga? Pernahkah pertanyaan itu terlintas dalam benak Anda ketika penat mendera dan emosi memuncak? Ya, kelelahan memang kadang memicu emosi dan membuat ketajaman berpikir kita memudar. Terutama bila sudah menyangkut ego, tentang siapa yang lebih banyak berkontribusi.

Setiap orang pada dasarnya memang ingin diperhatikan dan dimengerti. Ketika kelelahan mendera dan ada pihak lain yang menuntut perhatian dari kita, di saat itulah ego dan keinginan menjadi satu. Memuncak dan menuntut timbal balik yang kita harapkan.

Namun, tariklah nafas sejenak dan perhatikan kembali, sebenarnya sebesar apa kebutuhan kita terhadap timbal balik dari orang lain tersebut.

Berteman dengan Lelah

Sebuah komentar menarik saya dapatkan dari seorang pedagang sayur yang sangat sederhana ketika seorang ibu bertanya kepadanya, apakah ia tidak lelah menjalani aktivitasnya. Sebab, selain sebagai seorang pedagang sayur yang sudah harus berbelanja di pasar sejak jam sepuluh malam dan mengemas aneka sayur-mayur hingga pagi menjelang lalu melayani pembeli, ia juga masih menggarap sawah miliknya sendiri. Ia berkata, “Orang hidup memang harus cape’ Bu, lha orang yang sudah meninggal saja masih cape’ menghadapi malaikat.”

Saya tersenyum mendengar ucapan si bapak penjual sayur tersebut. Namun, ada kesadaran lain yang menggelitik saat menyadari bahwa ada sesuatu yang bermakna lebih jauh dalam kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa, kelelahan memang begitu dekat dengan kita bahkan rasa lelah tak kenal henti menemani dalam pergulatan kehidupan. Namun, alangkah indahnya, bila kelelahan tersebut nantinya mengantarkan kita pada istirahat yang panjang dan menyenangkan di akhirat kelak.

Karena itu, bisakah kita “aminkan” dalam hati bahwa sesungguhnya kita membutuhkan semua kegiatan yang melelahkan itu. Bukan untuk siapa-siapa, bukan untuk orang lain tetapi untuk diri kita sendiri. Bahwa dengan seluruh aktivitas yang melelahkan itu, kita akan mendapatkan tabungan yang akan menjadi tiket istirahat dalam kehidupan yang kekal, juga dalam kebahagiaan yang kekal.

Bahwa, tak perlu menanyakan siapa yang paling keras bekerja untuk keluarga. Bahkan tak perlu menakar jasa siapa yang paling berharga untuk keluarga. Karena, sesungguhnya, kita justru harus bersyukur kita masih memiliki kesempatan dan diberi kesempatan oleh Allah dan orang-orang yang kita cintai untuk mengumpulkan bekal akhirat kita.

Bahkan, kita harus berterima kasih untuk setiap “jasa wajar” yang kita lakukan, orang-orang tercinta disisi kita tersebut justru membalasnya dengan cinta dan perhatian yang melimpah. Yang selama ini, mungkin masih seringkali luput terlihat.

Sungguh, sebenarnya kita tak membutuhkan timbal balik dari orang-orang yang begitu kita cintai karena memang sudah seharusnya begitulah kewajiban kita. Alangkah indahnya jika kita bercermin pada sikap Luth a.s. terhadap kaumnya dengan berkata;

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan aku sekali-kali tidak meminta upah atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam.” (QS. Asy-Syu’araa:180).

Hal senada juga ditegaskan oleh utusan-utusan-Nya yang lain seperti Nuh a.s, Syua’ib a.s. dan tentu Muhammad saw.

Sejatinya begitu pulalah kita. Apa yang kita usahakan di muka bumi ini untuk orang-orang yang kita cintai, sejatinya hanyalah untuk mengharapkan kebaikan dari Allah saja. Berterimakasihlah kepada mereka yang selama ini telah kita manfaatkan kehadirannya untuk mendapatkan kebaikan tersebut.

Sungguh, kehidupan di dunia ini hanyalah sebentar saja. Tataplah wajah-wajah orang yang kita cintai tersebut dan lihatlah betapa banyak kebaikan yang terpancar dari wajah mereka. Jadikanlah kehadiran mereka sebagai semangat yang terbesar dalam kehidupan kita. Keinginan mereka sebagai pemacu kerja-kerja terbaik kita, karena memang merekalah satu dari alasan-alasan terpenting dalam kehidupan kita.

Tumbuhkan semangat dalam keletihan yang mendera bahwa ada kenikmatan tersendiri yang menjadi bayaran. Sesuatu yang tak dapat dihitung dengan kalkulasi manusia. Bahwa, kelelahan itu sesungguhnya akan mendatangkan kebahagiaan, manakala kita melihat orang-orang yang kita cintai berbahagia. Bahwa kita tak akan bisa merasakan kebahagiaan sendiri, tanpa melihat orang-orang di sekitar kita berbahagia dari apa yang kita usahakan dan membuat kita kelelahan tersebut.
Kekuatan itu dari Allah

Walau demikian, kelelahan memang sesuatu yang wajar dalam kehidupan kita. Ada waktunya keletihan menjadi kelemahan yang membuat amal-amal kita menurun dan semangat meredup. Namun demikian, hanya keimananlah yang membedakan bagaimana seseorang menghadapi kelelahannya dan mengatasinya. Karena itu, sejatinya kekuatan itu memang hanya datang dari Allah saja. Yang mampu meneguhkan dan membuat langkah kita senantiasa terayun, meski dalam kondisi yang sangat menyulitkan sekalipun. Karena itu, Rasulullah yang mulia pun mengajarkan kita untuk senantiasa memohon kepada-Nya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas ra,

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keinginan yang berlebihan dan kesedihan. Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari rasa takut dan kikir. Aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan paksaan orang yang menganiaya.” (HR.Bukhari)

Inilah teladan dari utusan-Nya yang tak pernah berhenti memberikan yang terbaik kepada ummatnya dan beribadah kepada Rabb-Nya disaat terlelah sekalipun.

Cintanya bahkan tak memudar saat sakit yang luar biasa mendera disakaratul mautnya. Alangkah indahnya bila teladan ini pun senantiasa menjadi pengingat kita di saat lelah dan emosi mulai memuncak. Karena Beliau pun mewasiatkan, “Siapa yang saat lemahnya tetap berada dalam sunnahku, maka dia telah beruntung. Sementara siapa yang beralih pada selain itu maka berati dia telah celaka.” (Musnad Imam Ahmad).

Kartika Trimarti, ibu rumah tangga tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Selasa, 03 Juli 2012

Jangan Durhakai Anakmu


Pernah suatu ketika ada seorang bapak yang mengeluh kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab ra mengenai anaknya yang durhaka. Orang itu mengatakan bahwa putranya selalu berkata kasar kepadanya dan sering kali memukulnya. Maka, Umar pun memanggil anak itu dan memarahinya.

“Celaka engkau! Tidakkah engkau tahu bahwa durhaka kepada orangtua adalah dosa besar yang mengundang murka Allah? Bentak Umar.

“Tunggu dulu, wahai Amirul Mukminin. Jangan tergesa-gesa mengadiliku. Jikalau memang seorang ayah memiliki hak terhadap anaknya, bukankah si anak juga punya hak terhadap ayahnya?” Tanya si anak.

“Benar,” jawab Umar.

“Lantas, apa hak anak terhadap ayahnya tadi?” lanjut si Anak.

“Ada tiga,” jawab Umar. “Pertama, hendaklah ia memilih calon ibu yang baik untuk putreanya. Kedua, hendaklah ia menamainya dengan nama yang baik. Dan ketiga, hendaklah ia mengajarinya al-Quran.”

Maka, si Anak mengatakan, “Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tidak pernah melakukan satu pun dari tiga hal tersebut. Ia tidak memilih calon ibu yang baik bagiku; ibuku adalah hamba sahaya jelek berkulit hitam yang dibelinya dari pasar seharga dua dirham, lalu malamnya ia gauli sehingga ia hamil mengandungku. Setelah aku lahir pun ayah menamaiku Ju’al, dan ia tidak pernah mengajariku menghafal al-Quran walau seayat.”

Ju’al adalah sejenis kumbang yang selalu bergumul pada kotoran hewan. Bisa juga diartikan seorang yang berkulit hitam dan berparas jelek atau orang yang emosional. (Lihat Al-Qamus Al-Muhith, hal. 977).

“Pergi sana! Kaulah yang mendurhakainya sewaktu kecil, pantas kalau ia durhaka kepadamu sekarang,” bentak Umar kepada si Ayah. (Disadur dari kuthbah Syaikh Dr. Muhammad Al-Arifi, Mas’uliyatur Rajul fil Usrah. Lihat Ibunda Para Ulama, Sufyan bin Fuad Baswedan, hal. 11-12.)

Pembaca budiman, satu hal yang perlu kita renungkan dari kisah di atas adalah; cobalah untuk menengok diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain. Bisa jadi, ada sesuatu yang salah pada diri kita.

Piilihkan Calon Ibu yang Shalihah

Hendaklah setiap muslim memilihkan bagi anak-anaknya seorang ibu muslimah yang mengenal hak Rabbnya, hak suami dan hak anak. Hendaklah ia memilihkan ibu yang mengenal tugas hidupnya. Seorang ibu yang mengenal posisinya di dalam hidup ini. Seorang ibu yang memiliki rasa kecemburuan terhadap agama dan sunnah Nabinya -sholallahu 'alaihi wasallam-.

Hal ini karena seorang ibu adalah madrasah yang akan meluluskan anak-anak Anda. Apabila ibu tersebut baik, maka ia akan menyusukan kebaikan dan ketakwaan. Namun bila ibu tersebut buruk, maka ia akan memberikan keburukan juga. Sebagai contoh nyata, Zubair bin ‘Awam. Ia merupakan hasil dari didikan ibundanya, Shafiyah binti Abdul Muththalib, sehingga ia pun tumbuh di atas tabiat dan budi pekertinya. Di kemudian hari, ia pun memilihkan calon ibu bagi anak-anaknya seorang wanita mulia, Asma binti Abu Bakar. Sehingga, ia pun melahirkan generasi orang-orang yang memiliki keagungan, Abdullah, Al-Mundzir dan ‘Urwah.

Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu 'anhu- dididik oleh dua wanita mulia; di waktu kecil ia bersama ibunya, Fathimah binti Asad dan ketika menginjak remaja ia bersama Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- .

Abdullah bin Ja’far adalah penghulunya bangsa Arab yang paling dermawan sekaligus pemuda Arab yang cerdas. Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Maka ibunya, Asma binti ‘Umais berusaha untuk membesarkannya. Ia adalah sosok ibu yang memiliki keutamaan dan kecerdasan yang luar biasa.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah adalah orang yang pandai dan cemerlang. Ia telah mewarisi dari ibunya, Hindun binti ‘Utbah sesuatu yang tidak ia warisi dari ayahnya, Abu Sufyan. Hindun berkata ketika anaknya, Mu’awiyah berada di dalam dekapannya, “Apabila Mu’awiyah hidup dalam umur panjang, maka ia akan memimpin kaumnya.” Ia juga bertutur, “Celakalah kaumnya apabila tidak dipimpin seseorang dari kaumnya.” Kelak, bila Mu’awiyah -radhiyallahu 'anhu- memiliki kebanggaan dengan kemampuan dan keahliannya dalam berpendapat, maka ia selalu menisbatkannya kepada ibunya sehingga akan mengetarkan pendengaran musuh-musuhnya, seraya berkata, “Saya adalah anak dari Hindun.”

Abu Hafsh Umar bin Abdul Aziz termasuk raja yang paling menakjubkan, adil dan mulia. Ibunya, Ummu ‘Ashim binti ‘Ashim bin Umar bin Khaththab. Ia adalah orang yang paling sempurna di zamannya dan yang paling mulia. Ibunya adalah seorang wanita yang dinikahkah oleh Umar dengan anaknya, ‘Ashim. Tidak ada yang dibanggakan darinya baik dari segi harta maupun nasab kecuali perkataannya yang jujur ketika menesehati ibunya. Dialah yang menurunkan akhlak kakeknya Al-Faruq kepada Umar bin Abdul Aziz.

Pilihkan Nama yang Terbaik

Hendaklah seorang muslim memilih nama-nama yang terbaik dan terindah sebagai bentuk pelaksanaan atas apa yang telah ditunjukkan dan dianjurkan oleh Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam-. Dari Abu Darda’ -radhiyallahu 'anhu-, ia berkata : Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda:

إِنَّكُم تُدْعَونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُم وَأَسْمَاءِ آبَائِكُم فأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُم

“Sesungguhnya kalian akan dipanggil di hari Kiamat dengan nama-nama anak kalian dan dengan nama ayah-ayah kalian. Maka perbaguslah nama kalian.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad hasan)

Dari Ibnu Umar -radhiyallahu 'anhu-, ia berkata : Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللّهِ عَبْدُ اللّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَـنِ

“Sesungguhnya nama-nama kalian yang paling disukai oleh Allah Azza wa Jalla adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya).

Ajarkan al-Quran kepada Anak

Dalam al-Quran terkandung sejumlah Tarbiyah Imaniyah. Yang dimaksud Tarbiyah Imaniyah adalah mengikat si kecil sejak ketergantungannya kepada pilar-pilar keimanan, membiasakannya sejak ia memahami rukun-rukun Islam, serta mengajarkannya pokok-pokok syariat Islam yang mulia semenjak masa tamyiz (mampu membedakan mana yang hak dan mana yang bathil)

Mengajarkannya pilar-pilar keimanan, seperti; iman kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan iman kepada para Rasul-Nya, mengimani adanya pertanyaan dua malaikat, adzab dan nikmat kubur, pembangkitan, surga dan neraka dan semua perkara-perkara yang ghaib.
Mengajarkan rukun-rukun Islam, seperti; shalat, puasa, zakat dan haji. Mengajarkannya dasar-dasar syariat Islam, seperti; peradilan Islam, hukum-hukum Islam, undang-undang dan peraturan dalam Islam.

Dari sinilah akan lahir beberapa hal, di antaranya:

Pertama, Hubbullah (cinta kepada Allah ta’ala). Yaitu dengan menunjukkan nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya kepada si kecil. Misalnya, bila si ayah duduk-duduk bersama si kecil ketika sedang makan seraya mengatakan kepadanya: ‘Nak, tahukah engkau siapakah yang telah memberikan makanan ini kepada kita?’

Si kecil akan menjawab: ‘Siapakah wahai ayah?’

Si ayah bertutur: ‘Allah’.

Si kecil balik bertanya: ‘Terus, bagaimana ayah?’

Maka si ayah menjelaskan: ‘Nak, karena Allah yang telah memberi rizqi kepada kita dan kepada semua manusia, maka bukankah Ilah ini yang berhak engkau cintai?’
Si kecil akan menjawab: ‘Tentu, ayah’

Seandainya si kecil sedang sakit, maka orangtua akan membiasakannya untuk selalu berdoa, seraya berkata: ‘Nak berdoalah kepada Allah semoga menyembuhkanmu, sebab Dia-lah yang memiliki penyembuhan’, lalu mendatangkan seorang dokter dan mengatakan: ‘Dokter ini hanya sekedar perantara saja, namun kesembuhan hanya datang dari Allah’. Apabila Dia mentaqdirkan kesembuhan bagi si kecil, maka orantg tua mengatakan: ‘Nak, bersyukurlah kepada Allah’, lalu menjelaskan kepadanya nikmat-nikmat Allah, sehingga si kecil akan mencintai-Nya, sebab Dia-lah yang telah mengaruniakan kesembuhan baginya.

Demikian seterusnya dalam setiap kesempatan dan dalam setiap mendapatkan kenikmatan hendaklah engkau selalu mengaitkannya kepada Yang Memberi nikmat, sehingga dalam hati si kecil tertanam rasa cinta kepada Allah.

Kedua, Hubburrasul (cinta kepada Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- ). Yaitu dengan mengajarkan kepada si kecil sikap-sikap Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- , keberanian, konsisten, kelemah lembutan, kemurahan, kesabaran dan keihklasan beliau. Dengan hal ini, seorang anak akan mencintai Nabinya -sholallahu 'alaihi wasallam- .

Ketiga, Muraqabatullah (menumbuhkan sifat merasa terus diawasi oleh Allah Tabaaraka wa ta’ala). Yaitu dengan mengajarkan kepada si kecil bahwa Allah selalu mengetahui dirinya dalam setiap gerakan dan diamnya, sehingga si kecil akan merasa terus diawasi oleh Allah, takut kepada Allah dan ikhlas dalam setiap amalannya hanya mencari keridhaan Allah.

Keempat, Mengajarkan kepada si kecil hukum-hukum halal dan haram. Hendaklah orangtua menjelaskan kepada si kecil tentang hal-hal yang haram sehingga ia bisa menjauhinya, hal-hal yang halal dan mubah agar ia bisa melakukannya serta menjelaskan adab-adan islami supaya ia bisa melaksanakannya.

Semoga kita senantiasa dibimbing oleh Allah agar mampu memenuhi hakhak anak, sehingga kita tidak sampai menzhaliminya, apalagi menyandang gelar orangtua yang durhaka kepada anaknya. *

Abu Hudzaifah, Lc. Penulis seorang penerjemah dan penulis buku-buku islami.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Senin, 02 Juli 2012

Belajar dari Jepang: Menanamkan Harga Diri Saat Makan


"Del, Mama bekali roti isi cokelat, yah?" tanya saya sembari menyusun isi kotak makan siang anak-anak dan suami.

"Iyah. Tapi... huh... pasti pada minta-minta," keluhnya.

"Minta-minta?"

"Iyah, Ma!" si Sulung ikut menimpali, "...di sekolah tuh, anak-anaknya pada minta-minta. Terus kalo gak dikasih, bilangnya gini, '...kalo gak ngasih, gak jadi temen!' ..."

"...atau dibilangi, 'dasaaar, pelit luh!' " imbuh Si Tengah lagi.

"Aduh, kenapa begitu, ya? Apa gak punya harga diri? Dari kecil sudah gampang minta-minta, dan jadi marah kalo gak dikasih," keluh saya sambil menutup tempat bekal.

***

Ada sebuah hadits yang sangat popular tentang kebaikan “tangan di atas daripada tangan di bawah”. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَا حَكِيْمُ، إِنَّ هَذَا الْـمَـالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُوْرِكَ لَهُ فِيْه ِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيْهِ ، وَكَانَ كَالَّذِيْ يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ. الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى.

"Wahai Hakiim! Sesungguhnya harta itu indah dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan berlapang hati, maka akan diberikan berkah padanya. Barang siapa mengambilnya dengan kerakusan (mengharap-harap harta), maka Allah tidak memberikan berkah kepadanya, dan perumpamaannya (orang yang meminta dengan mengharap-harap) bagaikan orang yang makan, tetapi ia tidak kenyang (karena tidak ada berkah padanya). Tangan yang di atas (yang memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (yang meminta)." [alhadits]

Yang namanya anak-anak, wajar saja kalau marah jika tidak diberi. Namun, tradisi seperti ini nampaknya tidak begitu membudaya di masyarakat Jepang, pun kanak-kanak. Suatu ketika anak saya pernah mengomentari masalah ini.

"Iyah, Ma! Beda banget dengan teman di Jepang. Jarang ada yang mau minta-minta, puraido ga takai [pride-nya tinggi]," kata Si Sulung lagi.

Saya ingat dulu, Si Sulung selalu membawa bekal ke sekolah, sementara teman-temannya makan masakan di sekolah. Sesekali saya berniat melebihkan isi bekalnya karena seorang anak yang sering main di rumah, sangat menggemari jenis makanan yang baru saya buat tersebut.

"Nggak boleh, Ma. Nggak boleh bagi-bagi makanan dari rumah di sekolah," tolak Si Sulung saat itu.

Meski terdengar aneh dan asing di 'telinga Indonesia' saya --sedikit banyak-- mengerti tujuan larangan tersebut. Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Kerap ada kasus kejahatan meracuni orang di Jepang. Wajar bila pihak sekolah berhati-hati untuk melindungi anak didiknya. Tidak tanggung-tanggung. Masakan di sekolah pun, harus dicek dulu aman tidaknya oleh kepala sekolah.

Beliau diwajibkan makan sejam sebelum tibanya waktu makan siang anak-anak. Agar bila masakan di sekolah itu berbahaya, selaku pimpinan, beliau yang lebih dulu ambil resiko terkena dampaknya. Padahal, yang masak adalah koki 'kiriman' pemerintah yang bersertifikat. Tapi yah, karena taruhannya adalah jiwa sekian ratus anak-anak generasi bangsa, mereka sepertinya tak mau kecolongan.

Di Jepang pun ada adab khusus saat menjamu tamu. Sebelum tamunya makan, adalah lebih baik bila tuan rumah lebih dulu melakukan aksi 'cicip-cicip', sambil mengatakan kalimat yang kurang lebih berarti, "...saya membuktikan makanan ini aman..."

Sekarang saya mengerti, dengan mengjarkan adab makan yang seperti itu, bisa juga jadi sarana membangun harga diri pada anak-anak. Selanjutnya akan turut membangun karakteristik mereka, agar lebih punya sikap mulia tidak hanya dalam hal makan.

Para pendidik semestinya memberi porsi perhatian yang lebih besar saat makan ini. Urusan makan adalah hal yang sangat vital bagi setiap manusia. Karenanya, menjadi waktu yang sangat strategis untuk menanamkan nilai-nilai moral terhadap anak-anak khususnya. Sayang sekali, kebanyakan lembaga formal seperti sekolah di Indonesia, menganggap saat makan hanyalah sekedar aktifitas isi lambung penghalau rasa lapar. Para pendidik sering lalai memperhatikan sikap-sikap anak-anak yang perlu dibenahi, bahkan mungkin tidak sedikit dari mereka yang belum punya ide tentang apa saja sikap yang tidak patut saat makan.

Selain membangun harga diri, melatih anak makan dengan adab makan yang semestinya, ternyata juga bisa berefek positif dalam membangun keteraturan atau kedisiplinan.

Suatu saat, ketika baru mulai menetap di tanah air, saya hendak memasukkan napkin (serbet alas makan) di tas bekal anak-anak. Hari berikutnya, Si Tengah menolak napkin itu.

"...malu, Ma. Nggak ada teman yang pake napkin."

"Kenapa malu? Ini supaya nggak kotor. Kalau ada yang tumpah, bisa dibersihkan. Toh, di Jepang juga kan udah terbiasa begini."

"Hahaha... Mama... Mama..., beda, Ma! Di sekolah kalau makan sama sekali gak teratur. Ada yang makan di koridor, duduk di lantai. Ada juga yang makan di tangga. Banyak yang cuekin makanannya jatuh di lantai."

"Gurunya nggak negur?" tanya saya sambil ingatan melayang ke saat saya menjemput si Tengah lantaran sedang sakit. Saat itu, bertepatan dengan jam makan siang. Saya agak susah sampai di pintu kelas karena di sepanjang koridor, di sana-sini anak-anak duduk melantai sambil memangku bekal makan siang mereka.

"Nggak, Ma... Guru nggak negur lah kalau soal begituan."

"Iyah..., Ma...," Si Sulung ikut menimpali, "...padahal dulu di Jepang, kalo nggak bawa napkin, diingatkan guru, dan nggak boleh tambah. Kalau ada nasi yang jatuh, semuanya pada kayak gimanaaa gitu, jijik, takut kalo sampe injek nasi. Jadinya malu banget kalau makan berserakan."

Ya, saya masih ingat pemandangan itu. Di setiap rando se-ru atau tas khusus anak SD Jepang, selalu saja ada kantong kain kecil yang digantungkan di sisinya. Sebelum anak-anak sekolah, saya selalu penasaran, kantong apakah itu. Ternyata, itu adalah kantong tempat menyimpan napkin/serbet alas makan.

Jika kemudian masyarakat Jepang mudah diatur, memang wajar. Pendidikannya sudah diterapkan betul sejak kecil, bukan sebatas teori yang diulangankan, tapi dipraktekkan langsung dalam urusan yang sangat vital : makan. Tanpa nilai dari guru, tapi didikan langsung dalam kehidupan sehari-hari yang alami.

Boleh jadi, 'ketabahan' para orangtua/pendidik menerapkan adab makan itu yang juga yang mendidik orang Jepang tumbuh jadi manusia yang puraido-ga-takai, punya harga diri, tak gampang meminta-minta. Selama di Jepang, saya belum pernah melihat pengemis. Bahkan, yang hidup sebagai gelandangan pun, tak terlihat pergi ke sana ke mari menengadahkan tangan mereka.*

Nesia Andriana Arif, Penulis "Dengan Pujian, Bukan Kemarahan".

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Minggu, 01 Juli 2012

Haruskah Menolak Khitbah (Pinangan)?


Sahabat Bilal melamar seorang wanita Quraisy (suku terhormat) untuk dinikahkan dengan saudaranya. Ia berkata kepada keluarga wanita Quraisy, “Kalian telah mengetahui keberadaan kami. Dahulu kami adalah para hamba sahaya, lalu kami dimerdekakan Allah l. Kami dahulu adalah orang-orang tersesat, lalu kami diberikan hidayah oleh Allah l. Kami dulunya fakir, lalu kami dijadikan kaya oleh-Nya. Kini, kami akan melamar wanita Fulanah ini untuk dijodohkan dengan saudaraku. Jika kalian menerimanya, maka alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Dan, bila kalian menolak, maka Allahu akbar (Allah Maha Besar).”

Anggota keluarga wanita itu tampak saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka lalu berkata, “Bilal termasuk orang yang kita kenal kepeloporan, kepahlawanan, dan kedudukannya di sisi Rasulullah n. Maka, nikahkanlah saudaranya dengan putri kita.” Mereka lalu menikahkan saudara Bilal dengan wanita Quraisy tersebut. Usai itu, saudara Bilal berkata kepada Bilal, “Mudah-mudahan Allah l mengampuni. Apa engkau menuturkan kepeloporan dan kepahlawanan kami bersama dengan Rasulullah, sedang engkau tidak menuturkan hal-hal selain itu?”

Bilal menjawab, “Diamlah saudaraku, kamu jujur, dan kejujuran itulah yang menjadikan kamu menikah dengannnya.” (Al Mustathraf, I : 356).

Tidak mudah memang mengambil langkah besar melamar seorang wanita. Di manapun lelaki biasanya merasa deg-degan untuk memulainya. Ada perasaan takut ditolak serta harapan untuk diterima membuat langkah jadi maju-mundur. Tapi, memang harus ada keberanian untuk mencoba agar jelas dan tak mati penasaran dibuatnya. Mungkin, perasaan ini mewakili mayoritas perasaan kaum laki-laki.

Maklum, dalam proses mewujudkan harapan berumah tangga banyak rintangan dan tantangan yang menghadang seseorang. Salah satunya adalah masalah khitbah (melamar calon istri). Banyak pernik-pernik yang menghiasi perjalanan seseorang dalam proses lamarannya.

Namun, tidak selamanya pinangan berujung pada pernikahan. Kadang kala, pinangan harus berhenti sebelum dilangsungkannya ijab qabul, dalam arti tidak selamanya pinangan harus diterima oleh yang pihak yang meminang, atau orang yang meminang mengurunkan niatannya untuk melangkah lebih jauh, yakni pernikahan. Berikut ini akan dibahas seputar perjalanan sebuah pinangan yang kandas di tengah jalan. Bagaimana kita menyikapinya dan apa yang musti kita lakukan ketika kita membatalkan pinangan?

Hukum meminang

Khitbah atau meminang bukanlah syarat sahnya sebuah pernikahan. Seandainya sebuah pernikahan dilaksanakan tanpa khitbah sekalipun, pernikahan tersebut tetap sah. Pada umumnya, khitbah merupakan jalan menuju pernikahan. Menurut jumhur ulama, khitbah itu diperbolehkan, sesuai dengan firman Allah swt, “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu…” (Al-Baqarah [2] : 235)

Pendapat yang dipercaya oleh para pengikut mazhab Syafi‘i adalah khitbah hukumnya sunnah, sesuai dengan perbuatan Rasulullah n, di mana beliau meminang Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar c. Hal ini boleh dilakukan jika pada diri wanita tersebut tidak ada penghalang yang membuatnya tidak boleh dinikahi. Jika ada penghalang, maka khitbah tidak boleh dilakukan.

Dalam kitab Hasyiyah ‘alal Muhalla, Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi berkata, “Sesungguhnya khitbah itu memiliki hukum yang sama dengan hukum pernikahan, yaitu; wajib, sunnah, makruh, haram, ataupun mubah. Sunnah jika pria yang akan meminang termasuk orang yang disunnahkan untuk menikah. Contohnya, orang yang telah memiliki kemampuan untuk menikah, dan ia tidak merasa khawatir dirinya akan terjerumus dalam perzinaan. Makruh, jika pria yang akan meminang termasuk orang yang dimakruhkan baginya untuk menikah. Sebab, hukum sarana itu mengikuti hukum tujuan.

Khitbah yang hukumnya diharamkan menurut ijma‘ adalah mengkhitbah wanita yang sudah menikah, mengkhitbah wanita yang ditalak dengan talak raj‘i sebelum selesai masa iddahnya, sebab statusnya masih sebagai wanita yang telah menikah.

Sedangkan, khitbah juga diharamkan bagi orang yang memiliki empat istri, termasuk khitbah terhadap wanita yang antara dirinya dan istri si peminang diharamkan untuk disatukan sebagai istri, mengkhitbah wanita yang sudah dikhitbah oleh orang lain dan lain-lain yang akan dijelaskan nanti.

Khitbah hukumnya wajib bagi orang yang merasa khawatir akan terjerumus dalam perzinaan jika tidak segera meminang dan menikah. Sedangkan, khitbah hukumnya mubah dan halal jika wanita tersebut dalam kondisi kosong dari pernikahan, serta tidak ada suatu halangan hukum yang menghalangi untuk dilamar.

Membatalkan Pinangan

Perlu dipahami sebelumnya bahwa pinangan itu bukanlah ikatan. Ia hanyalah janji untuk mengikat suatu. Sedangkan janji untuk mengikat suatu itu tidak selalu harus terlaksana, menurut jumhur ulama. Sehingga, sang wali tidak salah bila menarik kembali jawabannya bila ia melihat adanya suatu maslahat bagi wanita yang dipinang.

Wanita yang dipinang itu sendiri tidak ada salahnya bila ia menarik kembali janjinya bila tidak menyukai si peminang. Sebab, nikah merupakan ikatan seumur hidup, di mana kekhawatiran akan terus-menerus ada di dalamnya. Karena itu, wanita yang hendak menikah harus berhati-hati dengan dirinya sendiri dan memperhatikan keberuntungannya.

Akan tetapi, apabila wali atau tunangan menarik kembali janji tersebut tanpa tujuan apa pun, hal itu tidak dibenarkan. Karena itu termasuk pengingkaran janji dan menjilat ludah sendiri. Namun, hukumnya tidak sampai haram, karena sebenarnya itu belum wajib baginya. Ini seperti seseorang yang menawar suatu barang kemudian muncul niat pada dirinya untuk tidak jadi membelinya.

Seorang peminang juga makruh meninggalkan wanita yang telah dilamarnya, bila sang wanita telah cenderung kepadanya, sementara para peminang yang lain telah tertutup jalannya untuk meminangnya, karena ia hanya tertarik kepada si peminang itu.

Atas dasar inilah, hukum membatalkan lamaran sesudah adanya kecenderungan masing-masing pihak itu berbeda-beda, menurut perbedaan penyebabnya :
  1. Bila pembatalan tersebut karena tujuan yang benar, maka hal itu tidak makruh.
  2. Bila pembatalan tersebut tidak ada sebabnya, maka hal itu makruh, karena itu dapat membuat hati orang lain hancur. Bahkan, pembatalan tersebut bisa sampai ke tingkatan haram, yaitu apabila si wanita telah menaruh kecenderungan kepada si peminang, sementara para peminang yang lain telah tertutup jalannya untuk meminang dirinya, kemudian si peminang itu membatalkan pinangannya. Allah l berfirman, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash-Shaff [61] : 3).
  3. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi n bersabda: آيَةُ اْلمُنَافِقِ ثَلاَثٌ، إِذَا حَدَثَ كَذَبَ، وَإِذَا أؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ”Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; bila berbicara ia berdusta, bila dipercaya ia khianat, dan bila berjanji ia menyelisihi.”
  4. Bila pembatalan tersebut disebabkan adanya peminang lain yang datang kepadanya, maka hal ini adalah haram, berdasarkan apa yang telah kita bahas sebelumnya.

Etika Menolak Pinangan

Sebagai agama yang menekankan kasih sayang di tengah-tengah umatnya, Islam memerintahkan agar kita menghargai perasaan orang lain. Tak ketinggalan, dalam masalah pinangan, Islam memberikan suri tauladan yang baik bagaimana kode etik dalam menolak sebuah pinangan, bilamana jalan tersebut adalah pilihan terbaik bagi seseorang.

Dalam Islam, seorang wanita juga boleh menawarkan dirinya sendiri kepada seorang laki-laki shalih agar menikahinya, jika aman dari fitnah. Hal ini pernah terjadi dalam kisah seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada Nabi n. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bab ‘Ardhil Mar‘ati Nafsaha ‘alar Rajulish Shalih, dari hadits Sahl bin Sa‘ad, bahwa ada seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada Nabi n. Kemudian ada seseorang yang berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, nikahkanlah saya dengannya.” “Apa yang kamu miliki (sebagai maharnya)?” tanya beliau. “Saya tidak memiliki apa-apa.” “Pergi dan carilah walaupun hanya cincin yang terbuat dari besi.”

Orang itu pun pergi lalu kembali lagi seraya berkata, “Demi Allah, saya tidak mendapatkan sesuatu walaupun hanya sebuah cincin yang terbuat dari besi. Namun, saya memiliki sarung ini, dan wanita tersebut berhak atas setengah sarung ini.” Sahl menambahkan, “Orang tersebut tidak memiliki pakaian sama sekali (kecuali sarungnya).” Maka Rasulullah bersabda, ‘Apa yang dapat engkau perbuat dengan setengah sarungmu itu, saat engkau memakainya?” Setelah duduk lama, orang itu pun beranjak pergi.

Saat beliau melihatnya, beliau pun memanggilnya—atau dipanggil untuk menghadap beliau--. Beliau bertanya kepadanya, “Apakah engkau memiliki hafalan Al-Quran?” “Saya hafal surat ini dan itu—yaitu beberapa surat--.” Nabi n lalu bersabda, “Aku menjadikan wanita itu sebagai milik (istri) mu dengan mahar hafalan Al-Quran yang ada padamu.”

Demikian pula, seorang wali boleh menawarkan wanita yang perwaliannya ada di tangannya kepada orang-orang yang memiliki kebaikan. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Umar bin Khaththab ketika menawarkan putrinya, Hafshah x, kepada Utsman bin Affan, lalu kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq c.

Bukhari telah meriwayatkan dalam hadits no. 5122, kitab An-Nikah, dari Abdullah bin Umar c bahwa ia berkata, “Tatkala Hafshah binti Umar menjadi janda setelah bercerai dengan Khunais bin Hudzafah As-Sahmi—salah seorang sahabat Rasulullah n yang wafat di Madinah--, maka Umar bin Khaththab berkata, ‘Aku mendatangi Utsman bin Affan dan aku tawarkan Hafshah kepadanya. Utsman menjawab, ‘Saya akan mempertimbangkannya.’ Aku menunggu selama beberapa malam. Kemudian ia menemuiku seraya berkata, ‘Saya pikir, pada waktu ini aku belum berminat untuk menikah.’”

Umar melanjutkan, “Aku lalu menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata, ‘Jika engkau mau, aku akan menikahkanmu dengan Hafshah binti Umar.’ Abu Bakar hanya diam dan tidak memberi jawaban kepadaku. Maka, aku pun tahu bahwa ia akan menjawab sebagaimana jawaban Utsman. Lantas, aku pun berdiam diri selama beberapa malam. Beberapa malam kemudian, Rasulullah n meminang Hafshah, maka aku pun menikahkannya untuk beliau. Setelah itu, Abu Bakar menemuiku seraya berkata, ‘Barangkali engkau marah kepadaku saat engkau menawarkan Hafshah dan aku tidak memberi jawaban kepadamu?’ Aku pun menjawab, ‘Benar.’

Abu Bakar berkata, ‘Tidak ada yang mencegahku untuk memberikan jawaban kepadamu atas sesuatu yang engkau tawarkan kepadaku, melainkan karena aku telah mendengar bahwa Rasulullah n telah menyebut-nyebut namanya (Hafshah). Dan, aku tidak mau membuka rahasia beliau. Seandainya beliau tidak menikahinya, tentu aku akan menerimanya’.”

Dalam Fathul Bari, IX : 178, Al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan ulasan hadits ini dengan pernyataannya, “Dalam hadits tersebut terdapat dalil mengenai bolehnya seseorang untuk menawarkan anak perempuannya atau wanita-wanita lain yang menjadi tanggung jawabnya kepada seseorang yang dipercaya kebaikan dan keshalihannya. Sebab, dalam hal ini ada manfaat bagi orang yang ditawarkan dan ia tidak merasa malu dalam hal tersebut.

Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa menawarkan seorang wanita kepada orang yang telah beristri tidak ada salahnya. Sebab, pada saat itu, Abu Bakar pun telah beristri. Bahkan, persoalan semacam ini juga telah berlaku dalam syari‘at umat sebelum kita. Yaitu, Nabi Syu‘aib, orang shalih, yang telah berkata kepada Musa q seperti yang disebutkan dalam al-Quran, “Dia (Syu’aib) berkata, ‘Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun.” (Al-Qashash [28] : 178). Riwayat-riwayat di atas juga menunjukkan dibolehkannya menolak tawaran. Tapi, tentunya harus dengan cara yang baik.

Secara khusus, seorang wanita dibolehkan menolak sebuah pinangan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda, “Seorang janda tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai izin. Seorang gadis tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai persetujuan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulallah, bagaimana tanda persetujuan seorang gadis?” Beliau menjawab, “Tanda persetujuannya adalah diamnya.” (HR. Bukhari, Muslim dan selainnya)

Hadits di atas secara jelas menunjukkan bahwa bila seorang laki-laki ingin menikahi seorang wanita, baik janda ataupun gadis, maka harus dengan izin atau persetujuan wanita itu terlebih dahulu. Itu berarti seorang wanita mempunyai hak untuk menerima atau menolak lamaran seseorang. Karena pembatalan juga menunjukkan ketidaksetujuan untuk dinikahi, dan cukuplah hadits di atas sebagai dalilnya.

Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa ada seorang gadis menemui Rasulullah lalu bercerita tentang ayahnya yang menikahkannya dengan laki-laki yang tidak ia sukai. Maka, Rasulullah memberi hak kepadanya untuk memilih.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah). Dalam riwayat Ahmad dan Nasa'i disebutkan bahwa wanita tersebut, lalu ia berkata, “Aku telah mengizinkan apa yg dilakukan bapakku itu. Hanya saja, aku ingin kaum wanita tahu bahwa seorang ayah itu tidak berhak memaksa anaknya kawin dengan seseorang.”

Dengan demikian, maka membatalkan pinangan itu dibolehkan, baik dari pihak laki-laki maupun perempuan, dengan tetap melihat kemashlahatan kedua belah pihak. Sehingga, kalaupun pinangan harus pupus di tengah jalan, namun ukhuwah islamiyah tetap terjalan dan tidak sampai tali silaturrahmi terputus. Hal tersebut dapat terwujud bilamana setiap muslim menyadari bahwa permasalahan jodoh adalah salah satu bagian dari takdir dari Allah Ta'ala.*

Abu Hudzaifah, Lc. Penulis adalah penerjemah dan penulis buku-buku islami.

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Ramadhan News. Copyright 2012 All Rights Reserved Bulan Ramadhan Di Facebook by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com