Rabu, 24 Agustus 2011

Taubat Sang Iblis


Konon, suatu ketika Iblis berkunjung ke pemuka-pemuka agama yang melaknat dan mengutuknya, supaya mereka memberi saran agar taubatnya dapat diterima Allah. Semua pemuka agama tidak mengetahui bagaimana menghadapi permintaannya itu dan apa yang harus mereka lakukan.

Karena "jika taubat Iblis diterima, apa jadinya dan bagaimana kesudahan kepercayaan tentang dosa warisan dan jalan keselamatan yang merupakan dampak dari dosa iblis," begitu pikir pendeta Kristen. Rabi yahudi pun tidak berdaya, karena benaknya berkata, "Bila taubat iblis diterima, di mana lagi tempat orang-orang yahudi, yang merupakan bangsa pilihan Tuhan, di antara bangsa-bangsa lain yang disesatkan Iblis?"

Imam besar Islam pun tidak berdaya, karena dia khawatir: "kalau taubat iblis diterima bagaimana jadinya perintah bertaawudz/ memohon perlindungan Allah dari setan yang terkutuk?"

Mendengar semua itu, iblis berteriak "Eksistensi saya diperlukan untuk wujudnya kebaikan. Jiwa saya yang penuh kedelapan harus terus demikian agar dapat merefleksikan cahaya Ilahi." Ketika iyu – tulis Taufiq al-Hakim (sastrawan Mesir kontemporer) melanjutkan ilustrasinya di atas – Iblis menangis, maka berjatuhanlah meteor-meteor menimpa kepala hamba-hamba Tuhan.

Malaikat melarangnya menangis. Iblis dengan putus asa turun ke bumi dan ketika itu keluarlah dari dadanya embusan nafas yang selama ini tertahan, diikuti gemanya secara serentak oleh bintang-bintang dan benda-benda langit memperdengarkan ucapan, "Sayalah sang syahid. Sayalah sang syahid."

(Sumber buku: Yang Ringan Yang Jenaka – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Selasa, 23 Agustus 2011

Kasih Sayang Ibu


Sang ibu berdiri di depan hakim menguraikan kisahnya yang pahit dengan anak perempuannya. Anak perempuan satu-satunya. Sang ibu telah mengorbankan masa mudanya, kesenangan dan kebahagiaannya demi anaknya.

Dia berkorban tidak keluar menonton hanya agar anaknya tidak ditinggal sendirian. Dia memakai pakaian yang koyak agar dapat membelikan anaknya gaun baru. Dia selalu mendahulukan anaknya atas dirinya; anak yang makan lebih dahulu dan ibu yang makan sisa anaknya.

Tetapi sang anak mengingkari budi ibu. Dia tidak menyukainya bahkan membencinya. Sang anak menilai ibunya sebagai penjaga penjara yang terbuat dari emas, tetapi melarangnya keluar bersama temannya dan menuntut darinya pertanggungjawaban yang berat setiap hari.

Kalau ia pulang, ibu selalu bertanya, "Dari mana Engkau? Siapa saja yang Engkau temui? Dan apa saja obrolan kalian?" Kalau sang anak duduk terdiam, ibunya bertanya, "Mengapa diam? Apa yang Engkau pikirkan?"

Perintah ibu pun tidak henti-hentinya; Cuci kakimu! Sisir rambutmu! Gosok gigimu! Duduk yang baik! Jangan cibirkan bibirmu ketika bicara! Dan lain-lain.

Sang anak memutuskan bahwa cara satu-satunya untuk bebas dari aneka belenggu itu adalah menghabisi ibunya. Maka setiap hari ia mencampurkan sedikit racun dalam makanan ibunya, yang mengakibatkan kesehatan sang ibu memburuk hingga dimasukkan ke rumah sakit. Para dokter menemukan bahwa ada racun yang diberikan kepadanya sejak tiga bulan yang lalu dan seandainya itu berlanjut selama seminggu lagi, niscaya ibu yang malang itu akan meninggal.

Polisi turun tangan dan akhirnya sang anak mengaku bahwa dialah yang memberi racun itu. Di depan pengadilan sang anak mengaku bahwa ia tidak menyesal atas perbuatannya karena dia tidak menyukai ibunya dan memang ingin melepaskan diri darinya. Hakim peradilan Sheffield Inggris terperanjat dan menyatakan bahwa kejahatan tersebut amat serius.

Ini adalah upaya pembunuhan yang disengaja dan dengan tekad yang kuat. Karena itu sang hakim memutuskan bahwa sang anak harus dimasukan dalam penjara anak-anak, tetapi karena undang-undang dalam kasus semacam ini menetapkan keharusan adanya persetujuan tertulis ibu, maka sang hakim mengharap kiranya sang ibu membubuhkan tanda tangan untuk persetujuannya.

Sang ibu memegang pena dengan tangan gemetar dan mulai menggoreskan tanda tangannya atas putusan itu. Tetapi tiba-tiba dia berhenti dan pena terjatuh dari tangannya. Ia lalu menoleh kepada hakim dengan air mata yang berlinang sambil berkata, "Saya harap berilah aku kesempatan sekali lagi, juga dia." (Ali Amin, kolom 'Fikrah', Koran al-Akhbar, Cairo, 10 Juli 1959)

(Sumber buku: Yang Ringan Yang Jenaka – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Senin, 22 Agustus 2011

Isyarat Kematian


Konon ada seseorang yang bersahabat dengan malaikat maut. Jika malaikat itu datang kepadanya, ia bertanya, "Apakah Engkau datang bertugas mencabut nyawaku atau sekedar berkunjung." Malaikat itu selalu berkata, "Sekadar berkunjung."

Orang itu meminta kepada malaikat agar memberinya isyarat/ tanda beberapa waktu sebelum ia datang bertugas mencabut ruhnya agar dapat lebih siap. Setelah sekian lama, malaikat itu datang untuk mencabut nyawa temannya itu. Tapi orang itu keberatan dan mengingatkan malaikat akan janjinya member isyarat.

Malaikat tersebut berkata, "Aku sudah memberimu isyarat". "Belum," kata temannya.

"Bagaimana belum, padahal bukan satu isyarat saja yang mengunjungimu. Bukankah telah membungkuk punggungmu setelah sebelumnya lurus? Bukankah telah memutih rambutmu setelah sebelumnya hitam? Bukankah telah rontok gigimu setelah sebelumnya kokoh?"

Bukankah telah gemetar suaramu setelah sebelumnya nyaring? Bukankah telah melemah tubuhmu setelah sebelumnya kuat? Bukankah telah kabur matamu setelah sebelumnya jelas? Bukan hanya satu isyarat yang telah mendatangimu, tetapi banyak! Mengapa Engkau mengecamku? Kini aku datang bertugas setelah memenuhi janjiku.

(Sumber buku: Yang Ringan Yang Jenaka – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Minggu, 21 Agustus 2011

Kisah Seorang Pria Ceraikan 5 Wanita


Ada seseorang yang menceraikan lima wanita dalam sehari, padahal agama tidak mengizinkan seorang pria memiliki dalam waktu yang sama lebih dari empat orang istri. Kejadiannya adalah sebagai berikut.

Seorang suami menemukan dua orang istrinya sedang bertengkar, maka ia berkata, "Setiap saat kalian bertengkar. Ini disebabkan olehmu, (sambil menunjuk salah seorang dari kedua istrinya itu). Kembalilah ke rumah orang tuamu, Engkau kuceraikan!"

Mendengar talak itu, istrinya yang kedua berkata, "Engkau sangat tergesa-gesa menceraikannya." Sang suami marah dan berkata, "Cerewet! Engkau juga kuceraikan."

Istrinya yang ketiga berkomentar, "Sungguh sampai hati Engkau, padahal keduanya selama ini berbaik-baik kepadamu." Mendengar ucapan ini, sang suami menceraikannya juga.

Ia kemudian menuju istrinya yang keempat dan menceritakan apa yang telah dilakukannya terhadap ketiga istrinya. Istri yang keempat ini bergumam, "Sampai hati benar kau menceraikan tiga istri dalam sehari."

Maka sang suami berkata, "Bukan cuma tiga, empat pun bisa. Engkau juga kuceraikan!" Istri yang keempat ini meraung dan didengar oleh tetangganya yang mengecam suami tersebut.

Tapi sang suami berkata, "Jangan ikut campur! Kalau aku diizinkan oleh suamimu, akupun akan menceraikanmu atas namanya."

Suami perempuan yang mendengar ucapan tadi berkata, "Engkau kuizinkan." Maka jatuhlah talak yang kelima pada hari itu. Demikian longgarnya perceraian pada masa lalu dan demikian sewenang-wenangnya suami ketika itu.

(Hikayat ini merupakan kerjasama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sabtu, 20 Agustus 2011

Ibadahnya Sang Ratu Cinta


Cinta adalah bahasa yang indah. Setiap saat, selalu saja ingin bersama orang yang kita cintai; memujinya dan mengaguminya. Cinta juga bisa menjadi alasan bagi seorang hamba untuk beribadah kepada Tuhannya.

Seperti cinta Rabiah Al-Adawiyah kepada Allah, Tuhannya. Meski Allah telah menyediakan banyak pahala kepada hamba-Nya, ibadah Rabiah tidak untuk itu. Tidak juga karena mengharap surga atau takut neraka. Suatu saat ia berdoa, "Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalam neraka; dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku dari dalam surga; tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan Wajah-Mu yang abadi kepadaku."

Rabiah, Sang Ratu Cinta, seorang sufi perempuan dari Bashrah, terlahir dalam keluarga yang sangat miskin, meski saat itu Bashrah sedang bergelimang kemakmuran. Saat sang ibu berjuang melahirkannya, tak seorangpun menolong, sementara ayahnya sedang berusaha mencari bantuan kepada tetangga-tetangganya. Malam sudah larut, para tetangga sudah terlelap. Ayahnya pulang tanpa hasil. Sebenarnya, ayahnya hanya ingin meminjam pelita untuk menerangi istrinya. Kelahiran Rabiah tak mengubah nasib keluarganya. Sekuat tenaga ayahnya berusaha dan memasrahkan semua kepada Yang Mencipta Kehidupan.

Saat kesulitan melanda Bashrah, karena dilanda bencana kelaparan, keluarga Rabiah tetap saja menjadi sasaran kekisruhan. Seorang penjahat menculik Rabiah, kemudian dijual di pasar budak dengan harga yang murah. Seorang saudagar membeli dan memberinya pekerjaan yang berat.

Tetapi justru karena penderitaan-penderitaan itu membuatnya mendekat pada Allah. Dalam kesibukannya bekerja, ia tetap menjalankan puasa. Di malam hari, ia menghabiskan waktu dengan banyak ber-mujahadah kepada-Nya. Hingga sampai suatu tingkat, ibadahnya membawa kedekatan dengan Allah. Kedekatan kemudian berubah menjadi kerinduan yang mengantarkan kepada cinta kepada-Nya. "Aku adalah milik-Nya. Aku hidup di bawah naungan-Nya. Aku lepaskan segala sesuatu yang telah kuperoleh kepada-Nya. Aku telah mengenal-Nya, sebab aku menghayati."

Di suatu malam yang senyap, dalam kerinduan yang sangat, ia bersujud dan berdoa, "Ya Allah, apapun yang akan Engkau karuniakan kepadaku di dunia ini, berikanlah kepada musuh-musuh-Mu. Dan apapun yang akan Engkau karuniakan kepadaku di akhirat nanti, berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu. Karena Engkau sendiri cukuplah bagiku." (imam) – ilustrasi: viky

(Hikayat ini merupakan kerjasama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 19 Agustus 2011

Runtuhnya Hati Seorang Penyiksa


Di masa-masa awal perkembangannya, Islam mengalami banyak pertentangan. Sebagian besar masyarakat Makkah -pada masa itu- masih kuat memegang ajaran nenek moyangnya. Mereka akan memusuhi siapa saja yang meninggalkan ajaran itu dan memeluk ajaran baru yang dibawa Rasulullah Saw.

Salah seorang yang paling keras dan garang menunjukkan permusuhan, adalah Umar bin Khaththab. Ia melihat ajaran Islam hanya akan membuat perpecahan dan menyebabkan kerusakan pada tata kehidupan masyarakat Makkah yang sudah terbangun sejak lama.

Permusuhan Umar terhadap Islam tak hanya diwujudkan dalam kata-kata. Ia bahkan melakukan penyiksaan dan penganiayaan terhadap hamba sahaya yang sudah memeluk Islam, agar mereka kembali ke ajaran leluhurnya. Tindakannya terus berlanjut sampai kemudian Rasulullah Saw meminta pengikut-pengikutnya pindah ke luar Mekah, mencari perlindungan ke Abisinia.

Melihat sebagian saudaranya pindah dan berpisah dengan keluarga serta tanah tumpah darah mereka, ada rasa iba di hati Umar. Ia pun terharu. Dalam kesedihannya, hatinya memberontak. Ia ingin segera menyelesaikan permasalahan besar ini. Satu-satunya yang ada di dalam pikirannya adalah menghabisi Muhammad Saw, karena semua berawal dari ajaran yang disampaikannya.

Suatu hari, ia mencari Muhammad Saw. Di tengah perjalanan ia bertemu Nu'aim yang kemudian bertanya, "Hendak ke mana?" Umar menjawab, "Saya sedang mencari Muhammad. Akan saya bunuh dia." Nu'aim pun berkata, "Tidakkah lebih baik Anda pulang dulu menemui keluargamu dan luruskan mereka?" Umar masih belum paham, kemudian Nu'aim mengatakan bahwa ipar dan sepupu Umar, Said bin Zaid bin Amr telah memeluk Islam.

Umar pun bergegas ke rumah adik perempuan dan iparnya itu. Sampai di dekat rumah adiknya, ia mendengar suara bacaan Al-Qur'an. Setelah masuk, ia cekcok dengan adiknya sampai ia memukulnya. Melihat saudara perempuannya berdarah akibat pukulannya itu, Umar menjadi iba. Lalu, ia meminta untuk diperdengarkan kembali ayat yang tadi ia dengar. Merasakan keindahan ayat itu, hati Umar runtuh, segera ia minta diantar kepada Muhammad untuk mengukuhkan ke-Islam-annya. (imam)

(Kisah ini merupakan kerjasama dengan www.alifmagz.com)

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kamis, 18 Agustus 2011

Memutus Rantai Permusuhan


Suatu hari Umar bin Abdul Aziz bermain bersama teman-temannya. Pada zaman itu, terjadi pertentangan dua kelompok mengenai masalah politik dan kekuasaan. Ayahnya terlibat dan ikut dalam salah satu kelompok. Sebagai anak yang masih kecil, ia ikut-ikutan berada pada pihak ayahnya dan bersama teman-temannya mencela kelompok lain. Guru yang mengajarinya al-Qur'an kebetulan sedang lewat dan merasa tak suka dengan kelakuannya.

Umar bin Abdul Aziz kemudian meninggalkan teman-temannya dan mengikuti gurunya masuk ke masjid untuk belajar al-Qur'an. Namun saat ia datang, gurunya langsung berdiri dan melaksanakan shalat. Ia merasakan, gurunya sengaja memanjangkan salatnya. Selesai salat, tampak wajah gurunya muram kepadanya. Ia pun bertanya apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Gurunya bertanya, "Wahai anakku, mengapa engkau melaknatnya, sedangkan ia adalah salah satu pahlawan perang Badar?"

Perkataan gurunya itu sangat menyentuh hati Umar. Ia merasa sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan dan berjanji kepada gurunya untuk tak mengulangi perbuatannya lagi.

Di hari yang lain, Umar mengikuti salat Jum'at. Kebetulan saat itu ayahnya sendiri yang menjadi khotibnya. Ia menyimak khutbah ayahnya yang bersemangat dan berapi-api. Ia begitu antusias mendengarnya sampai akhirnya ia merasa kecewa karena mendengar ada bagian khutbah yang mencela suatu kelompok. Setelah salat Jumat selesai, ia menemui ayahnya dan mengungkapkan perasaannya.

Dua peristiwa itu sangat membekas dalam ingatannya. Ia terus menerus merenungkan ucapan guru dan ayahnya. Kemudian ia sampai pada suatu titik kesadaran. "Permusuhan ini harus diakhiri," katanya. Ia berjanji kepada Allah, jika suatu saat nanti diberi amanah untuk menjadi khalifah, ia akan mengubahnya.

Hingga pada akhirnya Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah. Ia menepati janjinya dengan menetapkan larangan mengucap caci maki dalam setiap khutbah Jum'at. Ucapan yang tak baik itu diganti dengan membaca surah an-Nahl (16) ayat 90 yang artinya, "Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemunkaran, dan penganiayaan. Dia memberi pengajaran kepada kamu agar kamu dapat selalu ingat." (imam/hagi)

Sumber: Buku Orang-Orang Bijak terjemahan dari Kitab Qashas al-Abrar - Murtadha Muthahhari

(Kisah ini merupakan kerjasama dengan www.alifmagz.com)

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Rabu, 17 Agustus 2011

Membantu Teman dalam Perjalanan


Nabi Muhammad Saw sering bepergian ke daerah yang jauh ditemani para sahabat. Selama perjalanan, beliau sering mengomentari peristiwa-peristiwa yang ditemui. Kemudian, beliau memberi petuah tentang hal yang sebaiknya dilakukan para sahabat.

Pada suatu hari, ketika rombongan Nabi Muhammad Saw sedang dalam perjalanan menuju ke suatu wilayah, tiba-tiba seorang laki-laki datang menaiki unta tunggangannya. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan sikap yang angkuh, sementara banyak orang yang tak menunggang unta berada di sampingnya.

Nabi Muhammad Saw kemudian bersabda, "Barang siapa mempunyai kelebihan kendaraan, hendaknya ia memberikan kepada orang lain yang tak punya. Barang siapa memunyai bekal yang lebih, hendaknya ia memberikan kepada orang lain yang tak punya."

Abu Sa'id, salah seorang sahabat yang waktu itu ikut serta dalam rombongan beliau, menceritakan bahwa Nabi Muhammad Saw menyebutkan macam-macam harta dengan nada seperti itu. Sehingga para sahabat menyadari, sesungguhnya tak pantaslah bagi salah seorang dari mereka memunyai kelebihan harta dibanding saudaranya yang lain.

Selain memberikan petuah, Nabi Muhammad Saw juga memberi contoh sikap yang baik selama perjalanan. Nabi Muhammad Saw selalu berada di belakang orang yang jalannya lemah dengan maksud memberi pertolongan. Orang tersebut dibimbing dan dibonceng dengan tangannya.

Tak hanya kepada para sahabat saja beliau berlaku baik, kepada unta-unta tunggangan pun begitu. Beliau bersabda, "Apabila kamu sekalian sedang bepergian dan melewati tanah yang subur, maka berilah kesempatan kepada unta-unta untuk memakan rumputnya. Apabila kamu sekalian sedang bepergian dan melewati tanah yang tandus, maka percepatlah perjalanan kalian dan kejarlah hingga mencapai tanah yang subur. Jangan sampai unta-unta itu kehabisan tenaga karena lapar." (imam) – ilustrasi: viky

Sumber: Kitab kumpulan hadis, Riyadhush Shalihin - Imam Nawawi

(Kisah ini merupakan kerjasama dengan www.alifmagz.com)

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Selasa, 16 Agustus 2011

Gadis Kini dan Gadis Masa Lalu


Gadis masa lalu tidak keluar dari rumahnya sendirian. Dia hidup di antara dinding menanti hari di mana seseorang suami akan menyertainya menuju rumah tangga. Kalau kebetulan gadis itu dari keluarga modern, maka dia diizinkan bersama seorang 'penjaga perempuan' yang dipercaya oleh keluarga guna menyertainya ke rumah sahabat sang gadis atau kerabatnya. Tetapi si penjaga harus selalu siap di sampingnya sampai ia mengembalikan gadis itu ke rumah.

Gadis masa kini berontak terhadap penjara yang mengurungnya dn menghancurkna besi yang memagarinya. Dia keluar sendirian menuju dunia bebas untuk membuktikan bahwa dia pantas mendapatkan kebebasan, dan bahwa dia mampu memelihara dirinya dari 'serigala-serigala' yang berkeliaran dalam masyarakat. Kita bertanya, apakah gadis masa kini selamat dari gangguan serigala? Apakah dia mampu memelihara dirinya sebagaimana sipelihara oelh penjaganya kemarin?

Dr Robert Thomson pakar sosiologi terbesar di Inggris berkata, "Gadis masa kini gagal menjaga dirinya." Dia menasihati para ibu dan bapak agar kembali pada peraturan lama dan tidak mengizinkan seorang gadis keluar sendirian kecuali dalam penjagaan seorang penjaga perempuan yang terpercaya, atau dalam penjagaan ibu dan bapaknya.

Pakar itu berkata, "Penggembala yang mahir pun masih meminta bantuan anjing yang terpercaya untuk menjaga kambing-kambingnya dari serigala. Sungguh satu keluguan bila kita menjaga kambing-kambing kita, tetapi tidak menjaga gadis-gadis kita."

Tetapi, apakah nasihat-nasihat di atas dapat dipraktikan? Apakah kondisi keungan orang tua –dewasa ini- memungkinkan untuk menetapkan seorang penjaga bagi setiap gadis? Bisakah kita mengembalikan jarum jam ke belakang? Kalaupun kita mampu 'memenjarakan' gadis, apakah ada jaminan serigala tidak memanjat melalui jendela, atau gadis itu yang turun sembunyi-sembunyi melalui jendela?

Untuk menghindari banyaknya tabrakan mobil dewasa ini, bukanlah dengan kembali mengendarai unta di jalan-jalan raya! Cara satu-satunya membentengi gadis masa kini dari serigala-serigala adalah mengajar dan mendidik mereka, membuka mata dan memperluas wawasan mereka, dan mendorongnya untuk percaya pada ibunya.

Kita harus mengajarnya tentang perbedaan antara kebebasan dan lepas kendali, dan antara cara-cara serigala serta manuver unta dan domba. Ada pun menetapkan panjaga buat para gadis dewasa ini, maka itu adalah upaya lugu yang sia-sia karena dewasa ini mendidik serigala lebih mudah daripada mengurung domba-domba (Ali Amin, Kolom 'Fikrah', Koran al-Akhbar Cairo, 6 Oktober 1959)

(Sumber buku: Yang Ringan yang Jenaka – M Quraish Shihab)

(Hikayat ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Senin, 15 Agustus 2011

Ingin Tambah Kaya


Pepatah yang berbunyi 'Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih' semestinya jangan menjadi pedoman bagi seorang Muslim. Didalam khazanah agama Islam, kemalangan dan keberuntungan sangat terkait dengan amal ibadah yang dilakukan.

Dalam hal ini, syair lagu Bimbo lebih mengena tampaknya "aku jauh, engkau jauh...aku dekat engkau dekat". Artinya, tingkat seseorang dengan Sang Pencipta turut menentukan nasib seseorang meski tidak boleh kita mengklaim diri sendiri atau seseorang dengan predikat bahwa "dia dekat dengan Tuhan".

Salah satu amal pokok yang diajarkan sebagai penawar atas musibah adalah infak/ sedekah (termasuk didalamnya zakat, karena dalam Al Qur'an, zakat juga disebut sebagai sedekah). Sedekah adalah masalah hati dan keikhlasan. Penyakit dalam hal ini adalah perasaan kikir. Kita merasa telah bekerja keras mencari uang dan setelah terkumpul diminta untuk menyerahkan ke orang lain.

Rasullulah SAW bersabda, "Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah bisa mendahului sedekah." Khalifah Ali bin Abi thalib RA menyatakan, "pancinglah rezeki dengan sedekah".

Banyak kisah dalam hal ini yang bagi sebagian besar orang tidak percaya. Misalnya dalam sebuah acara televisi ada seorang pengusaha yang terlilit utang bermilyar-milyar rupiah kemudian dalam kekalutannya ia salat di masjid dan mendengar ceramah dari seorang ustadz untuk banyak-banyak bersedekah.

Kemudian ia menyedekahkan barang kesayangannya yang tinggal satu ia miliki, sebuah jam tangan mewah. Ketika keluar dari masjid, si pengusaha itu mendapat kabar bahwa ia mendapatkan sebuah proyek yang nilainya 3 milyar dan di ATM-nya sudah tertera angka transfer sesuai jumlah tersebut.

Ini sekali lagi adalah tentang kepercayaan. Dalam berbagai keterangan tentang ilmu kejiwaan, bahwa pikiran positif dipercaya akan menghasilkan hal positif pula. Dan percaya pada ajaran agama adalah cara termudah dalam membangkitkan sikap positif. Pada saat seseorang yakin dengan hadist Rasulullah bahwa rezekinya akan bertambah dengan sedekah, maka, disaat yang sama, dia sedang menarik seluruh energi positif kedalam dirinya. Dia akan tambah bersemangat dalam bekerja, dan yang terpenting, bahwa dia merasa menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.

Merasa bermanfaat membentuk rasa percaya diri yang sangat tinggi, sehingga peluang dia untuk bertambah sukses menjadi semakin besar. Wallahu a'lam.

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Minggu, 14 Agustus 2011

Niat Ikhlas Mengharap Ridha Allah SWT


Dari Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi RA, berkata bahwa aku mendengar Umar bin Khattab RA di atas mimbar mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bahwasanya segala amal perbuatan itu tergantung dari niat-niatnya, dan bahwasanya segala perkara tergantung dari apa yang telah diniatkannya. Maka barang siapa yang hijrahnya tersebut karena mengharapkan dunia atau karena wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya tersebut (hanya) akan mendapatkan apa yang telah diniatkannya". (HR Bukhari)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadis ini. Di antara hikmah-hikmah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Hadis ini merupakan hadis pertama dalam Kitab Shahih Al-Bukhari, yang terletak dalam Kitab Bad'il Wahyi, Bab Bad'ul Wahyi. Imam Bukhari meletakkan hadis tersebut pada posisi pertama, karena Kitab Shahih Bukhari merupakan kitab yang mencakup kumpulan hadis-hadis shahih yang merupakan bagian dari wahyu sebagai kaifiyat dalam melaksanakan ibadah. Dan dalam ibadah, diperlukan adanya niat yang ikhlas, oleh karenanya beliau meletakkan hadis ini pada posisi pertama dari 7.563 hadits yang terdapat dalam Kitab Shahih Al-Bukhari.

2. Menurut sebagian ulama, hadis ini memiliki asbabul wurud, yaitu adanya seorang sahabat yang bernama Ummu Qais, yang ikut Rasulullah SAW dalam berhijrah ke Madinah. Namun ternyata terdapat seseorang di Makkah yang menyukai Ummu Qais. Pada akhirnya pemuda ini turut berhijrah ke Madinah, namun bukan karena ingin mendapatkan ridha Allah dan Rasul-Nya, melainkan karena ingin menikahi Ummu Qais. Ketika berita tersebut sampai ke Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah SAW menegurnya melalui hadis ini.

3. Pentingnya menegur seseorang yang melakukan kesalahan meskipun kesalahan tersebut berupa 'salah niat'. Namun dalam hal 'menegur' tersebut, hendaknya dilakukan dengan cara yang baik dan bijak; tidak menyakiti dan tidak pula mempermalukan orang yang ditegur. Bahkan dianjurkan teguran dapat membangun orang yang ditegur tersebut, menjadi lebih baik dan semakin saleh.

4. Secara bahasa, ikhlas adalah murni, bersih dan jernih. Artinya orang yang ikhlas harus memiliki hati yang murni, bersih dan suci tidak mengharapkan sesuatu apapun kecuali hanya keridhaan Allah SWT. Bahkan Al-Imam Al-Susy mengatakan bahwa ikhlas adalah sebuah 'rasa' di mana seseorang merasakan belum ikhlas dalam beramal. Karena orang yang sudah merasa ikhlas, maka pada hakikatnya ia sesungguhnya belum ikhlas.

5. Keikhlasan merupakan syarat diterimanya amalan seorang hamba. Tanpa keikhlasan, amalan dan ibadah seseorang bagaikan kayu yang terbakar oleh api, hingga ia hanya akan menjadi abu yang usang dan tiada berguna, dan ia tidak mendapatkan apa-apa dari segala usaha yang telah dilakukannya selama hidup di dunia. Maka hendaknya kita berupaya semaksimal mungkin untuk senantiasa ikhlas khususnya dalam menjalankan rangkaian ibadah di bulan Ramadhan ini.

6. Lawan keikhlasan adalah riya'. Riya' adalah mengerjakan suatu hal dikarenakan mengharapkan sesuatu selain daripada keridhaan Allah SWT. Oleh Rasulullah SAW, riya' digolongkan kepada syirik kecil (baca; asyirkul ashgar). Ali bin Abi Thalib mengemukakan bahwa riya’ memiliki ciri-ciri berikut: (1) malas, jika (amalan dilakukan) seorang diri, (2) giat jika di tengah-tengah orang banyak, (3) bertambah semangat beramal jika mendapatkan pujian, (4) berkurang frekwensi amalnya jika mendapatkan celaan.

Wallahu a'lam bis shawab.

*) Rikza Maulan Lc M Ag adalah Sekretaris Dewan Pengawas Syariah PT Asuransi Takaful Keluarga.

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sabtu, 13 Agustus 2011

Di Antara Adab Pergaulan dalam Islam


Dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah SAW beliau berkata, "Ajarilah (orang yang tidak tahu). Mudahkanlah dan janganlah kalian mempersulit. Dan apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia diam." (HR Ahmad)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadis ini. Di antara hikmah-hikmah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bahwa hadis ini secara umum berbicara tentang adab pergaulan dalam masyarakat atau komunitas Islami, yang bertujuan agar terjalinnya keharmonisan dalam kehidupan sosial, baik di lingkungan tempat tinggal maupun di lingkungan kerja. Karena pergaulan sosial merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak terpisahkan dari intisari ajaran Islam itu sendiri, terutama di bulan Ramadhan ini.

Dalam salah satu hadis Rasulullah SAW bersabda, "Seorang Muslim yang berinteraksi dengan masyarakat dan ia bersabar atas keburukan masyarakatnya adalah lebih baik daripada seorang Muslim yang tidak bergaul dengan masyarakatnya serta tidak sabar atas keburukan mereka." (HR Muslim). Oleh karenanya, kita perlu berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi komunitas kita.

2. Adab pertama seorang muslim dalam kehidupan sosial adalah "mengajarkan sesuatu yang belum diketahui orang lain". Dalam hadits di atas Rasulullah SAW bersabda, "Ajarilah (orang yang tidak tahu)". Artinya seorang muslim yang 'lebih mengetahui' tentang suatu hal, maka ia memiliki kewajiban untuk mengajarkannya pada orang lain, terutama menyangkut permasalahan agama ataupun permasalahan lainnya.

Karena mengajarkan sesuatu dapat bermakna saling memberikan nasihat pada kebenaran dan kebaikan. Pada waktu bersamaan, orang lain pun memiliki kewajiban yang sama, sehingga dari sini akan muncul sebuah karakter masyarakat & komunitas islami yang digambarkan dalam Al Qur'an yaitu; watawashou bilhaqi watawashou bis shobri (saling memberikan nasihat dalam kebenaran, dan kesabaran).

Hal ini sekaligus menggambarkan bahwa ber-ta'awun dalam kehidupan sosial tidak harus selalu dalam bentuk pemberian 'materi', namun ta'awun juga dapat diberikan dalam bentuk lain, seperti mengajarkan nilai dan kebaikan kepada orang lain, mengajak orang lain pada kebaikan, dsb.

3. Adab kedua dalam pergaulan pada masyarakat Islami adalah senantiasa berusaha untuk memudahkan urusan orang lain. Artinya bahwa setiap muslim senantiasa dianjurkan untuk berusaha 'memudahkan' orang lain, terutama pada saat orang lain memerlukan bantuan atau ketika mendapatkan kesulitan. Seperti membantu menyelesaikan pekerjaan orang lain, memberikan bantuan kepada orang lain ketika terjadi musibah, dsb.

Memudahkan orang lain dapat pula diaplikasikan dalam bentuk lain, seperti memberikan senyuman, menanyakan kabar, berjabat tangan, dsb. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: "Dan barang siapa yang memudahkan urusan orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat." (HR Muslim)

4. Adab ketiga dalam pergaulan masyarakat Islami adalah perintah untuk mengendalikan emosi. Sebagai makhluk sosial, mengatur emosi sangatlah penting, karena dalam hidup bermasyarakat sangat mungkin terjadi kesalahpahaman antara seseorang dengan orang lain. Hal ini disebabkan karana sifat, watak, latar belakang maupun cara berfikir yang berbeda-beda.

Oleh karenanya, Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk menaham emosi dengan cara 'diam'. Diam dalam hadis di atas bukan berarti diam memendam rasa marah dalam hati, yang sangat mungkin untuk meledak pada waktu tertentu. Namun diam dalam hadis ini lebih dimaksudkan untuk memaafkan saudara kita yang berbuat 'kesalahan' terhadap kita, serta tidak melampiaskan emosi kita pada saat itu.

Demikian pentingnya mengendalikan emosi, Rasulullah Saw. bahkan mengkategorikan orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan emosinya ketika 'marah': Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan emosinya ketika marah. (HR. Bukhari Muslim)

Oleh karenanya, dalam segala hal hendaknya kita berusaha untuk mengendalikan emosi. Karena kekuatan jiwa seseorang terlihat dari caranya ketika mengendalikan emosi.
Wallahu A'lam Bis Shawab.*) Rikza Maulan Lc M Ag

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 12 Agustus 2011

Beribadah dengan Tulus


Ada banyak hal yang dapat kita renungkan selama bulan Ramadan. Di bulan ini, seolah kita berlomba menjadi orang baik, namun jatuhnya seolah jadi 'musiman'.

Yang pertama kita puasa, yang bertujuan membersihkan diri dan hati dari hawa nafsu dan dosa yang telah kita lakukan. Lalu malam hari dihiasi dengan berbagai ibadah sunnah dan bacaan Al Qur'an, begitu merdu di awal Ramadan namun memasuki pertengahan, kembali sepi. Apa ini tandanya banyak yang beribadah dengan 'musiman'?

Seyogianya tidak! Karena sebenarnya ibadah yang baik itu bukan hanya milik bulan Ramadan. Justru tantangannya adalah mampukah kita pasca Ramadan mempertahankan status 'orang baik' yang kita sempat sandang?

"Jika kalian jatuh miskin, maka berdaganglah dengan Allah Ta'ala dengan bersedekah. Mohonlah (kepada Allah SWT) agar diturunkan-Nya rezeki-Nya dengan cara banyak bersedekah. Sesungguhnya hari raya Idul Fitri adalah bagi orang-orang yang diterima ibadah puasanya oleh Allah dan diberi pahala Salat malamnya. Dan setiap hari yang di dalamnya Allah tidak dimaksiati, maka ia adalah Hari Raya. Sesungguhnya zakat dijadikan bersama salat sebagai kurban bagi para pemeluk Islam. Barangsiapa yang mengeluarkan zakat dengan jiwa yang baik, maka ia (zakat itu) menjadi kaffarat baginya dan menjadi penghalang dari api neraka." (Seri Kata-Kata Mutiara Amirul Mukminin Imam Ali ibn Abi Thalib RA)

Persoalan kebendaaan adalah soal sehari-hari dan bukan hanya di bulan Ramadan bukan? Maka, sedekah yang getol kita lakukan selama Ramadan jangan terputus begitu memasuki bulan Syawal. Sering terjadi, sikap begini karena kita kurang tulus dalam memberinya. Saat bersedekah, di otak kita hanya fokus pada "jika saya sedekah, saya dapat pahala" dan bukannya "saya sedekah karena saya peduli, barangkali dia lapar". Kita egois justru disaat melakukan aksi peduli.

Itulah kenapa, seringkali semangat ibadah terjun bebas selepas Ramadhan. Aji mumpung mengejar 'setoran pahala' dari Allah semestinya tidak lagi menjadi fokus utama. Marilah kita beribadah dengan landasan yang logis dan membumi. Jangan sampai terjebak dengan 'tukar guling' antara amal dengan pahala. Benar, Allah banyak menjanjikan pahala bagi setiap perbuatan baik, namun jangan sampai itu menjadi hal yang membutakan.

Menolong orang susah bukan karena melihat orangnya, tapi hanya karena pahalanya. Ibadah bukanlah seperti berbelanja di grosir, ada yang ada barang, ada amal ada pahala, tapi ibadah merupakan bukti kita berterima kasih pada Allah dan mewujudkan kelembutan hati kepada sesama manusia.

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kamis, 11 Agustus 2011

Tiga Jalan Menuju Surga


Dari Abdullah bin Salam RA, Rasulullah SAW bersabda, "Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makan (kepada orang yang membutuhkannya), dan salatlah kalian di saat manusia tertidur di kegelapan malam, maka kalian akan masuk surga dengan selamat." (HR Turmudzi, Ahmad & Darimi)

Dalam hadis di atas, Rasulullah SAW menggambarkan kepada kita adanya tiga jalan yang dapat mengantarkan kita menuju surga dengan selamat. Ketiga jalan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menyebarkan Salam
Memberikan atau mengucapkan salam merupakan salah satu syiar Islam dan juga sunnah Rasulullah SAW. Bahkan dalam salah satu hadisnya Rasulullah SAW menggambarkan bahwa salam merupakan cara paling efektif untuk menumbuhkan rasa Ukhuwah Islamiyah dan rasa cinta serta kasih sayang di antara sesama Muslim.

Dan ternyata di balik segala keutamaannya, menyebarkan salam juga dapat mengantarkan seseorang pada pintu surga yang senantiasa menjadi idaman setiap orang yang beriman. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW: Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, 'Kalian tidak bisa masuk ke dalam surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku beritahu tentang satu hal yang apabila kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? (yaitu) Sebarkanlah salam di antara kalian. (HR Muslim)

Di samping itu, mengucapkan salam juga dapat menghilangkan rasa 'ketidaksukaan' orang lain terhadap diri kita, mengobati rasa 'rindu' terhadap saudaranya sesama Muslim, dsb. Bahkan lebih luas lagi, mengucapkan salam juga dapat mengantarkan sebuah masyarakat menjadi masyarakat Islami, karena salah satu makna dan substansi dari salam adalah perdamaian dan kesejahteraan. Dan kedua hal tersebut merupakan pondasi masyarakat yang Islami.

2. Memberikan Makan (kepada orang-orang yang membutuhkannya)
Hal kedua yang dapat mengantarkan seseorang pada pintu surga adalah dengan memberikan makan kepada orang yang membutuhkannya, atau memberikan buka puasa bagi orang-orang yang berpuasa. Memberikan makan merupakan gambaran yang baik bagi suatu masyarakat Islami. Di mana setiap anggota masyarakat saling memiliki rasa keterikatan dan persaudaraan, sehingga setiap orang tidak rela manakala ada saudaranya atau tetangganya kelaparan dan kesulitan.

Memberikan makan ini juga tidak harus berupa barang yang bersifat makanan. Namun dapat juga dikiaskan dengan bantuan lain, seperti bantuan keuangan, pertolongan, dan lain sebagainya. Memberikan makan juga merupakan implikasi dari sunnah Rasulullah SAW, yaitu bahwa 'tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah' (HR Bukhari). Dan tidakkah kita 'suka' menjadi yang lebih baik?

3. Salat di Keheningan Malam
Hal ketiga yang digambarkan Rasulullah SAW agar seseorang dapat mencapai gerbang surga adalah melaksanakan salat tahajud di tengah keheningan malam. Atau di bulan Ramadan ini dengan melaksanakan salat Tarawih secara istiqamah.

Salat di keheningan malam, terutama di saat-saat manusia lain tengah terlelap dengan mimpinya, merupakan gambaran nyata kecintaan seorang hamba terhadap Allah SWT. Saat-saat tengah malam merupakan saat-saat yang paling berat untuk meninggalkan tempat tidur menuju tempat wudu guna menyucikan jiwa menghadap Allah SWT.

Saat-saat seperti ini merupakan saat yang paling efektif untuk mengisi ruhiyah dengan pancaran cahaya keimanan dari Allah SWT. Bahkan begitu berharganya, hingga salah seorang ulama mengistilahkan waktu tengah malam dengan "Addaqa'iq Al-Ghaliyah" (detik-detik yang sangat berharga). Karena di saat inilah, Allah SWT membuka lebar-lebar pintu rahmat bagi para hamba-Nya yang memohon ampunan dan maghfirah-Nya.

Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim sejati, marilah kita berupaya untuk dapat mengamalkan ketiga amalan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ini, khususnya di bulan Ramadan yang penuh dengan kemuliaan-Nya. Mudah-mudahan kita semua termasuk ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang kelak Allah berikan kenikmatan surga-Nya. Amin.

Wallahu a'lam bis shawab.

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Rabu, 10 Agustus 2011

Berbuat Jahat di Bulan Baik


Kasus-kasus kejahatan tak pernah sepi menghiasi berita-berita di media massa baik cetak maupun elektronik. Bahkan di media elektronik mata acara khusus yang menampilkan kriminal tidak pernah kehabisan stok berita.

Dengan kata lain, setiap hari masalah-masalah kriminal tidak pernah berkurang bahkan cenderung bertambah di bulan Ramadan ini. Angkanya akan semakin naik mendekati hari Lebaran nanti. Ironis memang, karena bulan Ramadan yang seharusnya dijadikan waktu untuk berbuat kebaikan, malah tak sedikit pun membuat orang beranjak dari niat buruknya.

Layaknya zaman yang kian modern, modus kejahtan pun kian hari kian beragam dan bertambah canggih. Seperti yang baru-baru ini terjadi sekelompok perampok bersenjata dengan sangat mahir merampok sebuah bank swasta di Medan, berhasil membawa kabur miliaran rupiah dengan tumbal seorang korban yang tewas, dan dua orang luka berat.

Firman Allah dalam hadis Qudsi:

"Wahai hambaKu, sesungguhnya Aku mengharamkan kedholiman atas diriKu, maka janganlah kalian saling mendholimi." (HR Muslim 4/1994)

Sungguh sadis rasanya. Siapa yang bertanggung jawab akan keadaan seperti ini. Walaupun ratusan tausiyah kita dengar setiap hari tapi jika kita tidak memiliki kesadaran dan rasa kemanusiaan yang kita tanamkan dalam diri kita masing-masing, niscaya angka kriminal akan terus bertambah.

Hidup di zaman ini memang tidak mudah, apalagi untuk masyarakat kelas bawah. Kebutuhan perut yang harus terpenuhi seakan-akan terus mendesak kita untuk berbuat apa saja. Apalagi jikalau kita tidak memiliki iman yang cukup, posisi inilah yang sangat berbahaya. Maka segala cara baik halal atau pun haram akan kita tempuh, tak pandang bulu, walaupaun nyawa orang ataupun harta orang lain yang harus kita rampas.

Tapi ternyata kejahatan tidak hanya menggoda orang-orang yan kesulitan mencari makan. Sepertinya pepatah "semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya" tepat untuk menggambarkan keadaan para pejabat negeri ini yang memegang jabtan tinggi dan terhormat yang masih saja melakukan kezaliman seperti korupsi dan memeras.

Dalam keadaan yang serba cukup godaan pun semakin berat, miliaran uang yang dikelola serta kekuasaan yang dimiliki dapat membutakan mata hati sehingga pada akhirnya kita berbuat keji dengan memakan harta orang lain yang bukan hak kita. Hidup memang tidak mudah tapi juga tidak sulit jika kita mau berusaha dan mensyukuri apa yang kita miliki. Sesungguhnya hidup ini indah jika kita ikhlas dan tak pernah menyerah melewatinya.

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Selasa, 09 Agustus 2011

Iman dan Istiqamah


Dari Sufyan bin Abdillah Attsaqafi RA berkata, "Aku berkata, wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku satu ungkapan (perkataan) yang aku tidak bertanya kepada seseorang selain kepadamu". Rasulullah SAW bersabda, "Katakanlah, aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah." (HR Muslim)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadis ini. Di antara hikmah-hikmah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Antusias para sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW untuk bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai permasalahan agama. Hal ini terlihat jelas dari "bentuk" pertanyaan sahabat kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku satu ungkapan (perkataan) yang aku tidak bertanya kepada seseorang selain kepadamu?".

Pertanyaan ini sekaligus menunjukkan keinginan para sahabat-sahabat yang mendalam untuk "menggali" ilmu dari Rasulullah SAW. Semangat dalam menuntut ilmu para sahabat seperti ini hendaknya menjadi motivasi kita untuk melakukan hal yang sama.

Sehingga di manapun dan kapanpun, terlebih-lebih di bulan Ramadan ini, kita senantiasa termotivasi untuk meningkatkan kapasitas keilmuan kita dengan menggunakan berbagai cara dan metode semampu kita, seperti melalui belajar mandiri, mengikuti pelatihan, seminar, majelis taklim, pengajian, dsb.

2. Dari segi bahasa, istiqamah merupakan bentuk masdar (baca: infinitif) yang berasal dari kata istaqama – yastaqimu – istiqaman, yang memiliki arti menjadi tegak dan lurus. Singkatnya adalah bahwa orang yang istiqamah adalah seseorang yang senantiasa 'lurus' dalam menjalani kehidupannya dan tidak mudah berpaling dari 'keridhaan' Allah SWT.

Salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Bakar al-Shiddiq RA, memberikan jawaban ketika beliau ditanya tentang istiqamah: Suatu ketika orang yang paling besar keistiqamahannya ditanya oleh seseorang tentang istiqamah. Abu Bakar menjawab, "istiqamah adalah bahwa engkau tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun". (Al-Jauziyah, tt: 331).

Ibnu Qayim Al Jauzi mengomentari, bahwa Abu Bakar menggambarkan istiqamah dalam gambaran tauhidullah (mengesakan Allah SWT). Karena seseorang yang istiqamah dalam pijakan tauhid, insya Allah ia akan dapat istiqamah dalam segala hal, di atas jalan yang lurus. Ia pun akan beristiqamah dalam segala aktivitas dan dalam segala kondisi. (Al-Jauziyah, tt: 331)

1. Bahwa cakupan Istiqamah meliputi seluruh sisi kehidupan. Istiqmah dilakukan dalam aspek ibadah kepada Allah SWT; dalam berbuat baik (baca; akhlak) kepada orang tua, keluarga, dan masyarakat; dalam memperjuangkan kebaikan, menjaga amanah, melakukan pekerjaan dan lain sebagainya. Orang yang istiqamah senantiasa akan menjaga dengan baik, seluruh amanah yang diembankan Allah kepada dirinya.

2. Bahwa dasar atau pondasi dari istiqamah adalah keimanan kepada Allah SWT. Sehingga istiqamah tidak dikaitkan dengan sesuatu yang tidak memiliki keterkaitan dengan keimanan. Seperti dalam perbuatan maksiat, menonton tv, main games, membicarakan kejelekan orang lain, dsb. Istiqamah hanya dilekatkan pada sesuatu yang memiliki keterkaitan dengan keimanan. Seperti istiqamah dalam keikhlasan, kejujuran, memperjuangkan kebaikan, membaca Al Qur'an, salat Tarawih, dsb.

3. Orang yang senantiasa istiqamah akan mendapatkan surga dan keridhaan Allah SWT. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS Fushilat (41) 30).

4. Oleh karenanya, hendaknya kita bersama-sama menciptakan suasana yang memotivasi untuk beristiqamah. Seperti budaya saling menasehati, menghidupkan majelis-majelis ilmu, kajian-kajian keislaman, dsb. Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqamah. Wallahu a'lam bis shawab.

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Rumus Menjemput Rezeki


Bulan Ramadan adalah bulan prestasi. Dalam mencari nafkah, di bulan suci ini, mesti lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya, karena pertolongan Allah akan demikian lebih dekat. Dalam proses bisnis mencari nafkah, setidaknya perlu diperhatikan ketika bagaimana mencarinya dan proses mendapatkannya. Mencari rezeki dan menjemput rezeki harus dibedakan.

Jika mencari rejeki posisinya antara ada dan tiada. Kalau menjemput rezeki sudah ada, tapi kita perlu keterampilan untuk meraihnya. Ini penting untuk diketahui. Kita diciptakan sudah lengkap dengan rezekinya.

"Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di muka bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya, Dia (Allah) mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)". (QS Hud (11): 6)

Kita tidak mencari rejeki, tapi menjemput rezeki. Kalau kita dekat dengan Allah, Dia tahu tempat rezeki kita. Maka Allah akan membimbingnya untuk bisa mendapatkannya.

Seorang pebisnis Muslim yang baik tentunya ketika ikhtiar menjemput rezekinya harus tetap menguatkan ibadahnya. Setidaknya ada rumus 5 US bagi seorang pebisnis muslim dalam menjemput rezeki. Pertama, pebisnis harus niat lurus, murni lillahi ta'ala. Niat bisnis dan kebaikan-kebaikan selama bisnisnya benar-benar karena Allah SWT semata, bukan topeng. Semua kebaikan murni karena Allah, bukan semata-mata agar dagangannya laku, misalnya. Menjalankan kebaikan-kebaikan itu agar Allah memberikan rezeki yang berkah, sehingga bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Kedua, pebisnis yang baik adalah ibadahnya bagus, karena ia memiliki keyakinan bahwa Allah yang membagi rezeki; lalu mengapa harus mengabaikan ibadah-ibadah. Allah SWT yang membagi rejeki, maka beribadahlah dengan bagus, maka Allah akan menjumpakannya dengan rezekinya.

Ketiga, hidupnya lurus, tidak perlu licik untuk menjatuhkan orang lain, sumpah palsu, mengurangi timbangan. Semua karunia hanya datang dari Allah. Licik hanya membuat kita gelisah, rezekinya tidak berkah, dan bisa menjadi fitnah.

Keempat, ikhtiarnya serius. Rasul SAW ketika peperangan Uhud baju besinya terdiri dari dua lapis. Padahal yakin nyawanya dalam genggaman Allah SWT, namun beliau SAW menyempurnakan ikhtiar. Orang yang yakin kepada Allah sempurna ikhtiarnya juga. Di lain kesempatan, Rasulullah SAW pernah mencium tangan salah seorang sahabatnya yang kasar akibat bekerja keras di jalan Allah SWT. Orang yang yakin kepada Allah tandanya juga sempurna ikhtiarnya di jalan Allah SWT.

Kelima, taubat mesti terus menerus. Ibarat pengendara mobil yang kipas kacanya tidak jalan ketika hujan deras, maka pasti ia akan mengalami kegelisahan, karena jalan yang dilaluinya tidak bisa terlihat. Lalu apakah yang akan kita lakukan, sibuk dengan memikirkan ke mana jalannya, atau sibuk mengatasi mengapa jalannya menjadi tidak terlihat, tentunya kita harus sibuk membersihkan kaca yang menghalangi penglihatan ke jalan.

Salah satu yang bisa menghalangi rejeki yang berkah adalah dosa. Mungkin saja banyak yang berdosa tapi banyak rejekinya, akan tetapi rejekinya akan tidak berkah. Rezeki yang tidak berkah itu selalu membuatnya gelisah disiksa oleh rejekinya. Kita tidak menginginkan rezeki seperti itu, seperti istidraj. Mungkin kita sering kikir menolong orang lain, salatnya lalai, perkataan yang banyak dosa. Sambil meminta ampunan kepada Allah. Makin taubat makin bersih. Apalagi di bulan suci ini, merupakan bulan ampunan dari Allah.

Barangsiapa yang senantiasa bertaubat, maka hatinya menjadi tenang, selalu ada jalan keluarnya atas permasalahannya, dan Allah pun akan mendatangkan rezeki dari hal yang tidak terduga.

"Barang siapa membiasakan diri untuk beristighfar, Allah akan memberikan jalan keluar baginya dari setiap kesulitan, akan memberikan kebahagiaan dari setiap kesusahan, dan akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).

Janganlah biarkan bisnis untuk hal duniawi saja, melainkan pula sebagai amal saleh, mendekatkan kepada Allah, menambah ilmu, memperluas silaturahmi. Jadi bukan hanya sekadar uang belaka. Marilah kita motivasi diri dan keluarga terhadap keyakinan bahwa rejeki itu Allah-lah yang menjamin, kita diciptakan sudah lengkap dengan rezekinya.

Kita diberi tugas untuk menjemput rezeki kita sebagai amal saleh kita. Allah Maha menatap apa yang kita lakukan. Apa yang kita kerjakan tidak akan meleset hasilnya. Apa yang Allah SWT berikan kepada kita, tidak bisa diambil siapa pun, dan apa yang Allah tahan tidak bisa didatangkan siapa pun. Allah-lah penguasa segala lalu lintas rezeki. (KH Abdullah Gymnastiar).

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Senin, 08 Agustus 2011

Nasihat Ramadan dari Bocah Somalia


Mendadak, saya ingat anak-anak Somalia yang  dirajam kelaparan. Tulang iganya yang nyaris mencuat, menembus kulit tipis, sungguh meremukkan hati. Sebagian anak bertahan hidup, tapi ribuan yang akhirnya meregang nyawa. Terik matahari yang membakar, ditimpali tanah tandus berdebu, melengkapi betapa ekstrem kehidupan bocah-bocah Somalia. Jika bayangan itu terlintas, sungguh agak berat, tenggorokan menelan sesuap nasi.

Tapi, Somalia itu amat jauh di benua Afrika. Kita sulit menjangkaunya andai ingin berbagi sepiring nasi. Namun, tragedi kelaparan yang mengerikan itu tetap membawa pesan kemanusiaan pada umat manusia di berbagai belahan bumi. Yakni, bersyukurlah dengan apa yang terhidang hari ini di meja makan. Meski hanya nasi putih dengan garam.

Jerit kelaparan bocah Somalia, juga perlu menyadarkan diri agar hidup tidak rakus, serakah, dan selalu merasa kurang. Sebuah bangsa juga perlu sadar, agar hati-hati mengelola kekayaan negara. Pemimpin, wakil rakyat, dan pemangku kebijakan juga perlu sadar diri bahwa nestapa bocah Somalia, tak muskil terjadi di Indonesia yang subur dan hijau ini. Jika tata kelolanya makin hancur, korupsi terus membudaya, dan penguasa berkhianat pada amanat rakyat. Bukankah dalam sejarah, bangsa ini juga pernah dirajam paceklik yang menciptakan kelaparan di seantero negeri.

Air mata bocah Somalia, juga menasehati agar nurani ini hidup. Panca indera jangan dimatikan, agar tak ada anak tetangga kita yang kelaparan. Kita bisa belajar pada rumput di halaman rumah, yang selalu dipangkas tiap daunnya lebat. Rumput itu, tak akan mati karena dipotong, tapi ia tumbuh makin subur. Demikianlah sejatinya, makna berbagi dan memberi pada orang lain atas harta yang kita miliki. Seorang bijak berkelakar, uang seribu tak akan buat melarat karena disedekahkan, juga tak akan menambah kaya karena disimpan.

Sudah menjadi bagian dari sunatullah, di dunia ini selalu ada kesenjangan. Kemiskinan itu ada, pada hakikatnya karena ada orang kaya, dan diperuntukkan bagi orang-orang miskin. Mereka terlihat baik dan buruk amalnya, dari caranya memperlakukan fakir dan miskin. Niscaya tidak akan ada arti dan maknanya, harta melimpah jika tidak ada orang-orang miskin.

Dari sudut keimanan, orang kaya memandang saudara-saudara mereka yang tidak beruntung sebagai berkah. Ladang baginya untuk menumpuk amal saleh. Bukan sebaliknya, fakir-miskin dipandang sebagai lalat-lalat pengganggu.

Sikap yang indah ini terlihat dalam pola interaksi Rasulullah dengan para sahabatnya yang mayoritas bekas budak, kalangan gembel yang lusuh penampilannya dan tidak nyaman aromanya.

Ketika Nabi masuk ke majelis, beliau memilih duduk dalam kelompok orang-orang miskin. Kerap kali Rasulullah berkata, "Alhamdulillah, terpuji Allah yang menjadikan di antara umatku kelompok yang aku diperintahkan bersabar bersama mereka. Bersama kalianlah hidup dan matiku. Gembirakanlah kaum fukara muslim dengan cahaya paripurna pada hari kiamat. Mereka mendahului masuk surga sebelum orang-orang kaya setengah hari, yang ukurannya 500 tahun. Mereka bersenang-senang di surga sementara orang-orang kaya tengah diperiksa amalnya."

Namun, Rasulullah juga telah bersabda, "Orang yang miskin itu bukanlah orang yang berjalan ke sana sini meminta-minta kepada manusia, kemudian diberikan dengan sesuap dua makanan dan sebiji dua buah kurma".

Para Sahabat bertanya, "Kalau begitu siapakah orang miskin yang sebenarnya wahai Rasulullah?" Nabi bersabda, "Orang yang tidak mendapati kesenangan yang mencukupi buatnya, tetapi mereka tidak tahu karena kesabaran dia menyembunyikan keadaannya dan tidak meminta-minta kepada orang lain, dia akan diberikan sedekah tanpa dia meminta dari orang lain." (HR Bukhari, Muslim, Nasai).

Saat ini, semua muslim tengah mendaras makna puasa Ramadan. Dalam kelaparan sehari, banyak hikmah dipetik agar kualitas hidup kedepan lebih baik, berkah, dan diwarnai nilai-nilai keberpihakan pada kaum lemah. Lapar sehari belum sebanding dengan laparnya bocah-bocah Somalia yang berbulan-bulan tanpa asupan hidup. Hingga tampaklah kering tulang iganya dan lemah tubuhnya, kemudian maut membayanginya.

Kita bisa mengasah nilai-nilai puasa Ramadan dengan belajar pada tragedi-tragedi kemanusiaan. Agar hidup lebih syukur, tidak egois, dan jauh dari budaya pelit. Wallahu a'lam. (Sunaryo Adhiatmoko)

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Allah Maha Pengampun Dosa


Dosa, kata ini memang cukup unik berperan dalam kehidupan. Kadang kita takut mendengarnya, namun juga tak jarang mengakrabinya. Dosa dapat terjadi ketika seseorang melakukan sesuatu yang dilarang oleh agama. Dan seperti yang sering disampaikan oleh para ulama, bahwa tidak ada seorang pun manusia yang lepas dari berbuat dosa. Semenjak zaman Nabi Adam hingga manusia akhir zaman nanti, dia pasti akan pernah melakukan dosa, baik besar maupun kecil.

Allah SWT sebagai pencipta dan pengatur kehidupan, telah membuat aturan yang mudah bagi hambanya. Ketika salah seorang hamba berbuat dosa, maka Dia telah membuat sistem pelepasan yang bernama taubat. Taubat artinya, memohon ampun atas kesalahan dan berjanji untuk sekuat tenaga tidak mengulanginya. Allah SWT adalah Maha Pengasih, dan karena cinta kasih-Nya yang sangat besar terhadap hamba-hambaNya, Dia senantiasa akan selalu mengampuni seluruh kesalahan hamba-Nya, kecuali syirik (menyekutukan Allah).

Seperti disampaikan dalam sebuah hadis:

Dari Anas RA, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Allah Ta'ala berfirman: "Wahai anak Adam, sesungguhnya Engkau berdoa kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka akan aku ampuni engkau, Aku tidak peduli (berapa pun banyaknya dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni engkau. Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikit pun maka akan Aku temui engkau dengan sepenuh itu pula ampunan" (HR Turmudzi, dinyatakan: shahih)

Marilah renungkan kalimat-kalimat dalam hadis tersebut. Pernahkah kita menyadari, kita yang sudah banyak berbuat dosa, namun Allah masih saja memberikan kita rezeki berupa makanan dan minuman, tempat tinggal, juga sudah membuat kita tetap bisa merasakan nikmatnya menghirup udara. Subhanallah. Meski demikian, bukan berarti kita menyepelekan dan selalu merasa aman karena adanya sistem pertobatan yang sudah diatur dalam agama. Jangan sekali-kali merasa aman dari kemarahan Allah SWT. Tetap berhati-hati dan selalu mawas diri.

Bertobat dapat dilakukan dengan banyak cara, seperti memperbanyak shalat, membaca istighfar, mengaji Al Qur'an, bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, memperbanyak ibadah-ibadah sunnah seperti puasa sunnah, salat rowatib, salat taubat, dan salat tahajud. Maka, pada bulan Ramadan yang mulia ini, kita dapat menjadikannya sebagai waktu khusus untuk beribadah dan bertobat untuk mendapatkan kasih sayang-Nya. Wallahu a'lam bis shawab.

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Puasa, Latihan Spiritual Menuju Insan Kamil


Puasa tentu bukan sekadar menahan lapar, dahaga dan hubungan seks. Yang teramat penting puasa sebagai latihan spiritual untuk mencontoh sifat-sifat Tuhan, sebagaimana dalam hadis takhallaqu bi akhlaqillah "(berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah Swt). Al Qur'an menyebutkan "huwa yuth'im wa la yuth'am" (Tuhan memberi makan dan tidak diberi makan) (QS 6:14) dan "lam takun lahu shahibah" (Tuhan tidak memiliki pasangan) (QS 6:101).

Bukankah dalam berpuasa kita tidak boleh makan, minum, dan berhubungan seks, sebaliknya kita diwajibkan berzakat fitrah, yaitu memberi makan kepada orang yang butuh. Harapan terakhir kita dengan menjalankan ibadah puasa agar kita mencapai kualitas 'insan kamil' (manusia paripurna), suatu kualitas spiritual yang paling diidealkan oleh umat Islam. Insan Kamil sesungguhnya tidak lain adalah internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri kita sebagaimana dicontohkan oleh pribadi Rasulullah SAW.

Akhlak Tuhan dapat dikenal melalui sifat-sifat-Nya sebagaimana tergambar dalam nama-nama indah-Nya (al-Asma al-Husna). Ibarat seuntai tasbih nama-nama Indah itu berjumlah 99, dimulai dari lafzh al-jalâlah (Allah), dengan simbol angka 0 (nol), yang biasa dianggap angka kesempurnaan, disusul dengan ar-Rahman (Maha Pengasih), ar-Rahim (Maha Penyayang), al-Lathif (Maha Lembut), al-Jamal (Maha Indah), dan seterusnya sampai ke angka 99, ash-Shabur (Maha Sabar) dan kembali lagi ke angka nol, Allah (lafz al-Jalalah), atau kembali ke pembatas besar dalam untaian tasbih. Simbol angka nol berupa lingkaran atau titik, menggambarkan siklus kehidupan bagaikan sebuah lingkaran, yang bermula dan berakhir pada satu titik, yang diistilahkan oleh Al Qur'an: inna li Allah wa inna ilaihi raji'un (kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya).

Dalam perspektif tasawuf, nama-nama indah Tuhan bukan hanya menunjukkan sifat-sifat Tuhan, tetapi juga menjadi titik masuk (entry point) untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya. Setiap orang dapat mengakses dan mengidentifikasikan diri dengan nama-nama tersebut. Seseorang yang pernah berlumuran dosa lalu sadar, dapat menghibur diri dan membangun rasa percaya diri melalui identifikasi diri dengan nama al-Ghafûr (Maha Pengampun) dan at-Tawwab (Maha Penerima Taubat), sehingga yang bersangkutan tetap mempunyai harapan dan tidak perlu kehilangan semangat hidup.

Tuhan memiliki kesempurnaan, antara lain tercermin dari keutuhan dua sifat-sifat sejati di dalam dirinya, yaitu sifat-sifat maskulinitas ("The Masculine God") dan sifat-sifat femininitas ("The Feminine God"). Di antara 99 nama indah-Nya, yang lebih dominan ialah sifat-sifat feminitas. Ini mengisyaratkan bahwa Tuhan lebih dominan sebagai pengasih dan penyayang daripada pemurka dan pendendam. Seseorang yang mendekati Tuhan lewat pintu feminin akan mengesankan Tuhan bersifat immanen, dekat, berserah diri, dan lebih tepat dicintai daripada ditakuti. Sebaliknya, seseorang yang mendekati Tuhan lewat pintu maskulin akan mengesankan Tuhan bersifat transenden, jauh, dominan, struggeling, dan menakutkan.

Di dalam bulan suci Ramadan, Tuhan lebih terasa sebagai The Feminine God daripada The Masculine God. Menurut para sufi, jalur tercepat mendekatkan diri (taqarrub) kepada Tuhan ialah jalur yang pertama. Bahkan Syekh Muhyiddin ibn 'Arabi pernah mengatakan kepada muridnya: "Jika kalian ingin memotong jalan menuju Tuhan, terlebih dahulu kalian harus menjadi 'perempuan'. Menurutnya, unsur kelelakian merepresentasikan sifat al-jalal Tuhan, sedangkan unsur keperempuanan merepresentasikan sifat al-jamal Tuhan. Dalam bulan suci Ramadan, yang juga disebut bulan cinta (syahr al-hubb), Tuhan lebih banyak memperkenalkan dirinya sebagai The Feminine God.

Salah satu bentuk kemahapengasihan Tuhan ialah menganugerahkan bulan Ramadan (secara harfiyah: penghancur, penghangus). Setelah 11 bulan hambanya terasing di dalam kehidupan yang kering dan penuh dengan suasana pertarungan (power struggle), maka dalam bulan Ramadan ini kita diajak untuk kembali ke kampung halaman rohani, yang basah dan menyejukkan, serta penuh dengan suasana lembut (nurturing). Bulan Ramadlan ibarat oase di tengah padang pasir, memberikan kepuasan kepada kafilah yang sedang berlalu. Bulan Ramadlan adalah manifestasi dari rahmâniyah dan rahimiyah Tuhan.

Sebagai orang yang berpuasa, selayaknya tidak saja menaruh kasih dan perhatian kepada sesama manusia, melainkan juga kepada makhluk-makhluk Tuhan yang lain. Idealnya orang yang berpuasa sudah dapat menciptakan kualitas ukhuwwah basyariyyah, ukhuwah islamiyyah, dan ukhuwah makhluqiyyah.

Kualitas muttaqin yang dijanjikan Tuhan bagi mereka yang menjalankan puasa secara ikhlas dan baik bukanlah janji sederhana. Kualitas muttaqin merupakan dambaan setiap orang. Selain akan dilihat sebagai rahmat oleh sesama manusia dan sesama makhluk Tuhan, yang bersangkutan juga akan mendapatkan pengalaman spiritual yang mengasyikkan.

Seorang yang memiliki Taqwa akan merasakan kelapangan dada, meniru sifat Tuhan yang Maha Lapang (al-wasi'). Hujatan dan celaan atau pujian dan sanjungan apapun yang diadreskan orang kepadanya tidak lagi akan ditanggapi secara emosi berlebihan karena dadanya sedemikian lapang mampu menampung semuanya. Orang yang bertaqwa sulit dikenali kapan ia ditimpa mushibah dan kapan ia dikaruniai rezki. Ia memberikan respon yang biasa semua yang datang kepadanya. Berbeda orang yang tidak memiliki unsur ketaqwaan, selalu diwarnai suasana batin yang fluktuatif, jika dihujat maka dadanya terasa sumpek dan jika disanjung lehernya akan bertambah panjang.

Orang yang bertaqwa akan menyadari Allah swt sebagai Tuhan makrokosmos dan mikrokosmos. Manusia sebagai makhluk mikrokosmos merupakan bagian yang teramat kecil di antara seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Meskipun dipercaya oleh Tuhan sebagai khalifah di bumi (khala'if al-ardh), manusia tidak sepantasnya mengklaim Allah SWT lebih menonjol sebagai Tuhan manusia daripada Tuhan makrokosmos, karena pemahaman yang demikian dapat memicu egosentrisme manusia untuk menaklukkan, menguasai, dan mengekploitasi alam raya sampai di luar amban daya dukungnya; bukannya bersahabat dan berdamai sebagai sesama makhluk dan hamba Tuhan.

Tuhan tidak hanya memerhatikan kepentingan manusia, sebagaimana pemahaman yang keliru sebagian orang terhadap konsep penundukan alam raya (taskhir) kepada manusia. Seolah-olah konsep taskhîr adalah "SIM" untuk menaklukkan alam semesta. Padahal, konsep taskhir sebenarnya bertujuan untuk merealisasikan eksistensi asal segala sesuatu itu sebagai "the feminine nature" yang mengacu kepada keseimbangan kosmis dan ekosistem.

Manusia sebagai khalifah selayaknya menjalankan fungsi kekhalifahannya senantiasa mengidentifikasikan diri dengan "The Feminine God". Sekiranya demikian maka sudah barang tentu tidak akan pernah terjadi disrupsi lingkungan alam dan lingkungan sosial; sebaliknya, yang akan terjadi adalah kedamaian kosmopolit (rahmatan li al-'alamin) di tingkat makrokosmos dan negeri tenteram di bawah lindungan Tuhan (Baldah Thayyibah wa Rab al-Gafûr) di tingkat mikrokosmos.

Hanya bagi mereka yang berpuasa yang dapat menjelaskan kaitan antara mikrokosmos, Tuhan, dan makrokosmos. Mereka akan merasakan bagaimana peranan puasa dalam menjalankan misi dan kapasitasnya sebagai khalifah dan representatif Tuhan di bumi.

Orang-orang yang demikian inilah sesungguhnya yang menjalankan konsep ketauhidan yang paling ideal. Mereka menganggap dirinya sebagai makhluk mikrokosmos yang mempunyai konsep kesatuan dengan makhluk makrokosmos. Di tingkat kemanusiaan, mereka dengan sendirinya berupaya menyingkirkan berbagai kesenjangan sosial yang ada di dalam masyarakat dalam upaya mewujudkan keutuhan sesama makhluk mikrokosmos. Konsep integralistik secara internal dan secara eksternal inil merupakan perwujudan prilaku insan kamil dan inilah konsep tauhid yang sesungguhnya.

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Indahnya Membantu


Di dalam bulan Ramadan, tersimpan sebuah pelajaran berharga, sebuah empati ketika merasakan lapar dan haus yang sangat di siang hari. Mungkin demikianlah yang dirasakan sebagian saudara kita yang sedang kesulitan ekonomi.

Bersyukurlah bagi yang saat ini masih dapat bersantap sahur dengan nyaman dan berbuka puasa dengan aneka hidangan. Boleh saja menikmati semua itu, asalkan tetap ingat dengan kondisi manusia lain yang tidak sama kondisinya. Agama tidak melarang untuk menjadi kaya atau berlebih, selama tetap mawas diri dan peduli dengan sekeliling.

Rasulullah SAW bersabda:

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat (HR Muslim).

Penggalan hadis di atas memberitahukan kepada kita, bahwa jika ingin urusan kita dimudahkan oleh Tuhan, maka kita harus juga menjadi penolong atas kesulitan orang lain. Jangan kikir! Tidak selamanya pertolongan itu berupa dana/ uang. Bisa jadi, bantuan untuk mengatasi kesulitan orang lain adalah tenaga, bahkan ada juga, hanya dengan menjadi pendengar yang baik, sudah merupakan bantuan yang berharga. Semua itu adalah sedekah. Bahkan, dalam hadisnya yang lain, Rasulullah bersabda: "Senyum di hadapan saudaramu adalah sedekah".

Sebagai makhluk sosial, manusia akan senantiasa membutuhkan pertolongan orang lain. Perlu kita selalu pahami, bahwa Tuhan tidak akan pernah mengirim malaikatnya untuk menolong hambanya yang sedang susah, tapi Dia menggerakkan hati manusia yang Dia pilih untuk memberikan pertolongan. Membantu sesama muslim dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik memberikan infak, zakat, maupun membantu dengan menyumbangkan tenaga dan ilmu serta bahkan hanya memberikan senyuman untuk sesama hamba Allah.

Membantu orang lain adalah salah satu bentuk mensyukuri nikmat Allah, dan bagi siapa saja yang bersyukur, maka Allah pasti akan terus menambah kenikmatan yang dianugerahkan padanya. Allah SWT berfirman: Jika engkau bersyukur maka akan Ku-tambah nikmatmu, tapi jika engkau mengingkari, maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih" (QS Ibrahim: 16).

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sabtu, 06 Agustus 2011

Berjudi Sebelum Puasa Hanya Gugurkan Kewajiban


Melakukan kejahatan atau perbuatan yang tidak baik sebelum menjalankan ibadah puasa memang sah. Tapi itu hanya menggugurkan kewajiban yang ditentukan agama Islam.

Menurut dosen tetap Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta, Asep Usman Ismail, seseorang yang melakukan perbuatan tercela seperti berjudi, minum minuman keras dan lainnya kemudian ia berpuasa, maka puasanya sah. Namun sikap seperti itu tidak bisa mengubah pola hidupnya menjadi lebih baik sesuai manfaat menjalankan puasa.

"Puasa seperti itu hanya menggugurkan kewajiban, tetapi belum membentuk karakter seorang Muslim," kata Asep.

Hal tersebut dia sampaikan saat menjawab pertanyaan anggota detikforum dalam acara live chatting di markas detikcom, Jl Buncit Raya, Jakarta Selatan. Acara itu sendiri bertajuk 'Makna Puasa Dalam Kehidupan'. Acara ini merupakan kerjasama dengan www.alifmagz.com.

Asep pun berpesan agar orang yang melakukan hal seperti itu disadarkan dan diberi pengertian agar tidak menjadi orang yang merugi.

"Sudah puasa tapi tidak terlihat hasilnya dalam hidup. Orang itu perlu kasih sayang dan perhatian supaya amalnya tidak rugi," terangnya.

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 05 Agustus 2011

Mengapa Berita Buruk Lebih Banyak Daripada Berita Baik?


Mengapa kita lebih banyak menyebarkan berita-berita kejahatan daripada berita-berita kebaikan? Kalau dikatakan ada seseorang yang mencuri, menipu, berkhianat, atau menyogok, atau kecanduan minuman keras atau perjudian, maka berita itu akan tersebar ke semua pelosok di mana terdapat sahabat, kenalan dan teman.

Dan kalau diberitakan bahwa si A adalah seorang yang jujur, suci dan menolak menjual dirinya, maka berita ini akan terhenti dimana dia bermula dan orang-orang akan mengangguk-anggukan kepala mereka sambil mendiskusikannya dan berusaha untuk membantah berita baik itu.

Orang-orang menerima berita keburukan dengan penerimaan yang baik dan tidak membebani diri untuk membahas dan meneliti kebenarannya. Mereka menerimanya seakan-akan sesuatu yang berharga, lalu menyebarluaskannya di semua tempat, bahkan dengan penambahan-penambahan yang dibutuhkan oleh situasi dan kondisi. Jika meluas siklus berita itu, ia menjadi mitos/ berita besar sehingga kalau kadar yang dicuri, misalnya seribu pound, maka pada akhir perjalanan, berita tentang jumlah yang dicuri paling sedikit mencapai sepuluh ribu pound.

Adapun berita yang mengandung sesuatu yang baik, maka dengan sangat cepat dia terkubur akibat kematian mendadak, bagaikan serangan jantung. Kalaupun ia mendapat kesempatan untuk hidup beberapa saat sehingga berkeliling sekali atau dua kali keliling, maka ia menjadi semakin 'kurus' dan lemah, bahkan seringkali beralih dari berita baik menjadi buruk atau disampaikan disertai dengan anggukan kepala, gumam dan cibiran bibir yang mengandung makna keraguan tentang kebenarannya, atau bahwa berita tersebut adalah berita aneh yang sulit dipercaya.

Bagaimana menafsirkan fenomena ini? Penafsirannya adalah: kejahatan terpendam dalam jiwa. Kita semua memiliki kesalahan, keburukan, nafsu yang mendorong kepada kejahatan. Sehingga ketika kita mendengar berita yang sejalan dengan hal-hal di atas, jiwa menjadi senang, bahkan menambahnya karena dia kita anggap sebagai pembenaran atas kelemahan pribadi kita (kalau kita menganggap diri kita lemah), atau pembenaran atas niat memerkenankan kelemahan itu (kalau kelemahan tersebut masih dalam proses), atau sebagai alasan untuk melakukan tindakan kalau kita masih menahan diri dalam koridor yang tertutup oleh akhlak dan kondisi. (Muahmmad Zaki Abdul Kadir, kolom Nahwa an Nur, Koran al-akhbar, 26 November 1959). (Sumber buku: Yang Ringan Jenaka – M Quraish Shihab)

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kisah Puasa Ikan Salem Merah


Ikan salem merah (red salmon) hidup di laut Atlantik Utara, Kanada, dan kembali ke sungai-sungai di Eropa dan Amerika Utara menjelang bertelur. Puasanya ikan salem merah adalah puasa alami yang menggambarkan tanda-tanda kebesaran Allah.

Fenomena puasa ikan salem juga menjadi salah satu contoh keunikan ragam kehidupan hayati di alam sekitar kita. Pada masa awal hidupnya, ikan salem merah hidup di air tawar. Lalu setelah dewasa, mereka bermigrasi ke lautan luas.

Ikan salem merah menghabiskan sebagian hidupnya di laut yakni empat sampai tujuh tahun. Ketika ikan salem merah cukup dewasa untuk berpijah, mereka akan berkumpul bersama di suatu tempat di lautan.

Setelah berkumpul dalam jumlah puluhan ribu, mereka akan membagi diri berdasarkan spesies masing-masing. Setelah itu bersama-sama kembali ke sungai tempat mereka menetas dahulu.

Mereka kerap melalui rintangan berat untuk kembali ke tempat pertama ditetaskan. Jaraknya bisa mencapai 1.600 kilometer dari laut tempat mereka hidup. Dengan rintangan yang besar, ikan salem merah berusaha keras melawan arus sungai yang deras, halangan kayu-kayu, batu-batu kali, dimangsa predator atau terperangkap jaring nelayan.

Perjalanan ini terkadang membutuhkan waktu beberapa bulan lamanya. Yang mengagumkan, sejak awal perjalanan panjang ini mereka sudah mulai berpuasa.

Berdasarkan penelitian para ahli, lama puasa para ikan inilah yang berguna sebagai standar naluriah untuk menuntun mereka mengenali sungai mana para ikan itu berasal. Juga, kandungan lemak yang cukup tinggi pada ikan salem merah ternyata bermanfaat sebagai cadangan makanan selama perjalanan ‘mudik’.

Luput dari para pemangsa dan nelayan, akhirnya dengan tubuh penuh luka dan kelelahan, para ikan ini bisa mencapai hulu sungai tempat mereka ditetaskan pertama kali.

Ketika mereka tiba di hulu sungai inilah mereka otomatis bekerja sama antara pasangan jantan dan betina. Dengan sirip kecil di belakang sirip punggung yang besar mereka menggali lubang dengan kedalaman sekira 45 sentimeter, sebagai tempat penetasan calon telur-telur ikan. Untuk menggali, mereka membutuhkan waktu beberapa pekan.

Jika telah siap, sang betina akan meletakkan telur-telur yang berjumlah ribuan, sementara sang jantan mengeluarkan sperma untuk membuahi telur-telur betinanya.

Setelah proses ini selesai, calon ibu ikan akan menutup lubang tempat telur ini dengan lumpur yang cukup tebal. Kemudian pasangan ikan ini tetap berenang-renang di sekitar lubang telur menunggu beberapa waktu hingga telur menetas.

Saat bayi-bayi ikan salem merah mendorong dirinya keluar dari lubang penetasan, induk ikan akan melihat anak-anaknya pertama dan untuk terakhir kalinya. Lalu matilah mereka dalam keadaan berpuasa. Ikan-ikan yang mati ini akan mengapung di permukaan, kemudian berangsur turun ke dasar sungai dan membusuk.

Sebenarnya ini adalah bagian dari proses menjaga keseimbangan alam di dasar sungai. Mereka mati setelah meninggalkan sekelompok generasi baru yang harus mengalami proses 'kesulitan' kembali ke lautan.

Kemudian setelah dewasa, anak-anak ikan salem merah ini akan mengulangi siklus yang sama seperti orangtuanya dan mati dalam keadaan berpuasa. (Tim Rumah Zakat)

Sumber: www.okezone.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Belajar dari Anak Kecil, Sudahkah Kita Bersedekah?


Suatu sore saat pulang mengendarai sepeda motor, saya disuguhkan sebuah “drama” kecil yang sangat menarik. Seorang anak kecil berumur sekira 10 tahun dengan sigap menyalip di sela-sela kepadatan kendaraan di sebuah perempatan lampu lalu lintas di Jakarta.

Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak, dia gowes pedal sepeda berwarna biru muda sambil membagikan bungkusan tersebut. Si Anak menyapa akrab setiap orang, mulai tukang koran, penyapu jalan, tuna wisma, bahkan polisi.

Pemandangan ini membuat saya tertarik. Pikiran saya langsung membayangkan benda apa yang diberikan si Anak, apakah dia berjualan? Kalau dia berjualan, apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya.

Untuk membunuh rasa penasaran, saya membuntuti anak tersebut sampai di seberang jalan. Saya langsung menyapa anak tersebut hingga terlibat dalam pembicaraan serius.

”Dik, boleh kakak tanya?” ucap saya.

“Silakan Kak,” jawab adik kecil.

“Kalau boleh tahu yang barusan Adik bagikan ke tukang koran, tukang sapu, peminta-minta, bahkan polisi itu apa?” tanyaku heran.

“Oh, itu bungkusan nasi dan sedikit lauk Kak. Memang kenapa Kak?” ujar dia.

”Oh, tidak! Kakak cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu. Kelihatan kamu sudah terbiasa dan cukup akrab dengan mereka. Apa kamu sudah lama kenal mereka?”

Lalu, adik kecil ini mulai bercerita, “Dulu saya dan ibu sama seperti mereka, hanya seorang tuna wisma. Setiap hari bekerja hanya mengharapkan belas kasih orang. Seperti Kakak ketahui, hidup di Jakarta sulit. Sampai kami sering tidak makan. Di siang hari kami kepanasan dan waktu malam kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan.”

“Apabila kami mengingat waktu dulu, kami sangat sedih. Namun setelah ibuku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik. Maka dari itu, ibu selalu mengingatkanku, masih banyak orang yang susah seperti kita dulu. Jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup, kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka.”

”Yang ibuku selalu katakan, ‘hidup harus berarti buat banyak orang’. Pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa, hanya satu yang kita bawa yaitu kasih kepada sesama serta amal baik kita. Kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang, kenapa kita harus tunda.”

”Karena menurut ibu, umur manusia terlalu singkat. Hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta, apa yang kita bawa?”

Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hati. Saat itu juga saya merasa menjadi orang yang tidak berguna. Bahkan merasa tidak lebih dari seonggok sampah yang tidak ada gunanya dibanding dia.

Saya yang selama ini merasa menjadi orang hebat dengan pendidikan dan jabatan, namun untuk hal seperti ini merasa lebih bodoh dari anak kecil ini. Saya sangat malu. Ya Tuhan, Ampuni aku, ternyata kekayaan, kehebatan dan jabatan tidak mengantarku kepada Mu.

Hanya Kasih yang sempurna serta Iman dan Pengharapan kepada-Mu lah yang dapat mengiringiku masuk ke Surga. Terima kasih adik kecil, kamu adalah malaikat yang menyadarkan dari tidur nyenyakku.

Kasih itu sabar, kasih itu murah hati. Dia tidak cemburu, dia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Dia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.

Dia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Dia tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Dia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.

Janganlah ragu, mulailah dari sekarang membiasakan diri berbagi dan memberi walaupun itu untuk perkara-perkara kecil.

Malulah kita kepada Allah, berapa besar rezeki yang diberikan dan berapa banyak yang kita beri? (Tim Rumah Zakat)

Sumber: www.okezone.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

6 Alarm Tubuh Anda Perlu Tidur


Tidur sama pentingnya seperti makanan untuk kelangsungan hidup. Akan tetapi, yang lebih sering terjadi kita mengorbankan waktu tidur demi menyelesaikan pekerjaan atau bermain daripada melewati waktu makan.

Menurut Dr Mary Susan Esther, Presiden American Academy of Sleep Medicine, kekurangan tidur yang kronik (berlangsung lebih dari tiga minggu) akan berdampak pada kesehatan. Bukan hanya kelelahan dan kurang konsentrasi, tetapi juga tekanan darah tinggi, depresi, gangguan hormon, menurunnya sistem imun, serta gangguan memori.

Jadi, sudahkah Anda memiliki durasi dan kualitas tidur yang baik? Coba cek apakah Anda memiliki tanda-tanda kekurangan tidur berikut ini:

1. Tidak lapar saat makan siang
Kurang tidur akan membuat tubuh secara konstan ingin selalu makan atau justru merasa perut selalu kenyang. Hal ini terjadi karena kurang tidur mengganggu jam biologis yang berpengaruh pada rasa lapar dan kenyang. Ini sebabnya mengapa ada orang-orang yang jadi gemuk atau kurus selama periode kurang tidur.

2. Kurang konsenstrasi
Perhatikan apakah hari ini Anda membuka tiga situs berbeda dalam waktu 5 menit atau berganti-ganti bacaan. Kurang tidur memang membuat kita kesulitan melakukan fokus.

3. Pelupa
Otak memerlukan waktu tidur untuk menyegarkan dan memperbarui diri. Tanpa hal itu, gangguan memori jangka pendek pasti terjadi.

4. "Enggak nyambung"
Tidak bisa mengikuti diskusi karena otak seakan "mampet" merupakan hal yang sering dialami penderita insomnia kronis.

5. Malas
Bila akhir-akhir ini Anda merasa malas saat meeting atau duduk di belakang meja, barangkali penyebabnya bukan karena bosan pada pekerjaan, tetapi karena Anda kurang tidur.

6. Tak enak badan
Sistem kekebalan tubuh diperbaiki dan menjadi kuat kembali saat kita tertidur. Karena itu, mereka yang hobi begadang biasanya lebih mudah terserang flu atau masuk angin. Perkuat sistem imun dengan cara sederhana, tidur 7-8 jam setiap malam.

Sumber: www.kompas.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

10 Kiat untuk Tidur Cepat


Tidak semua orang beruntung bisa langsung terpejam meski sudah beberapa waktu berada di tempat tidur. Banyak dari mereka yang seperti burung hantu, tetap terjaga saat yang lain terlelap. Gangguan sulit tidur bisa disebabkan karena berbagai faktor, namun terutama disebabkan karena stres.

Apa yang kita lakukan sebelum tidur sangat berpengaruh pada kulitas tidur. Sebuah penelitian menemukan rasa mengantuk yang tak kunjung datang bisa disebabkan karena pikiran yang tegang. Karena itu teknik rileksasi bisa membantu mengatasi insomnia ringan. Berikut beberapa kiat yang bisa membantu Anda tidur lebih cepat.

1. Mandi
Mandi sebelum tidur sangat baik untuk tidur Anda. Isi bak mandi dengan garam atau minyak lavender, hal ini bisa membuat otot-otot lebih rileks sehingga tidur bisa lebih lelap.

2. Hindari kafein
Minuman yang mengadung kafein, terutama jika dikonsumsi pada sore atau malam menjelang tidur sebaiknya dihindari. Kafein termasuk dalam stimulan yang bisa meningkatkan aktivitas otak dan semangat.

3. Hindari rokok atau minuman beralkohol
Berhentilah merokok. Jika Anda tidak mampu melakukannya maka kurangilah jumlahnya, terutama sebelum tidur. Hal ini karena tembakau mengadung nikotin, suatu stimulan. Sementara itu alkohol akan mengganggu pola tidur dalam jangka panjang. 4. Olahraga di pagi hari

Beberapa orang lebih memilih untuk berolahraga di sore hari. Jika Anda termasuk dalam kelompok ini sebaiknya lakukan maksimal 3 jam sebelum tidur. Olahraga akan meningkatkan aliran darah sehingga membuat Anda sulit beristirahat. Bila memungkinkan, lakukan olahraga pada pagi hari.

5. Jangan menonton TV atau memainkan komputer 30 menit sebelum tidur
Kita cenderung menutup aktifitas sehari-hari sambil "bersantai" di depan komputer atau TV. Padahal cahaya dari layar komputer akan membuat tubuh berpikir hari masih siang. Akibatnya kantuk pun tidak datang.

6. Mendengarkan musik
Musik memang membuat tubuh lebih rileks, mamun katakan tidak untuk musik bergenre rock atau pun hiphop. Dengarkan musik pelan dan berirama ritmik yang akan membantu Anda tertidur.

7. Hindari tidur siang 
Agar lebih cepat tertidur di malam hari, hindari tidur siang. Namun jika Anda merasa perlu tidur siang, tidurlah hanya untuk 15 menit. Tidur siang lebih lama dapat membuat lebih sulit terpejam di malam hari.

8. Gunakan aromaterapi
Gunakan aromaterapi untuk mengurangi stres dan membuat tubuh lebih rileks. Campurkan minyak lavender sebagai pewangi di kamar Anda atau pasanglah lilin aromatik untuk meningkatkan kualitas tidur.

9. Kurangi panas 
Orang cenderung lebih mudah tertidur dan tidur lebih nyanyak dalam suhu ruangan yang sejuk. Anda juga bisa menyiasatinya dengan mendinginkan suhu tubuh sebelum tidur karena temperatur yang panas bisa menghambat hormon melatonin.

10. Buang kecemasan
Cemas berlebihan pada sesuatu atau hal yang tidak bisa kita kontrol adalah hal yang percuma. Salah satu yang bisa membantu Anda mengurai pikiran yang kusut adalah menuliskan satu persatu berbagai hal yang membebani pikiran.

Sumber: www.kompas.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Ramadhan News. Copyright 2012 All Rights Reserved Bulan Ramadhan Di Facebook by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com