Kamis, 18 Agustus 2011

Memutus Rantai Permusuhan


Suatu hari Umar bin Abdul Aziz bermain bersama teman-temannya. Pada zaman itu, terjadi pertentangan dua kelompok mengenai masalah politik dan kekuasaan. Ayahnya terlibat dan ikut dalam salah satu kelompok. Sebagai anak yang masih kecil, ia ikut-ikutan berada pada pihak ayahnya dan bersama teman-temannya mencela kelompok lain. Guru yang mengajarinya al-Qur'an kebetulan sedang lewat dan merasa tak suka dengan kelakuannya.

Umar bin Abdul Aziz kemudian meninggalkan teman-temannya dan mengikuti gurunya masuk ke masjid untuk belajar al-Qur'an. Namun saat ia datang, gurunya langsung berdiri dan melaksanakan shalat. Ia merasakan, gurunya sengaja memanjangkan salatnya. Selesai salat, tampak wajah gurunya muram kepadanya. Ia pun bertanya apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Gurunya bertanya, "Wahai anakku, mengapa engkau melaknatnya, sedangkan ia adalah salah satu pahlawan perang Badar?"

Perkataan gurunya itu sangat menyentuh hati Umar. Ia merasa sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan dan berjanji kepada gurunya untuk tak mengulangi perbuatannya lagi.

Di hari yang lain, Umar mengikuti salat Jum'at. Kebetulan saat itu ayahnya sendiri yang menjadi khotibnya. Ia menyimak khutbah ayahnya yang bersemangat dan berapi-api. Ia begitu antusias mendengarnya sampai akhirnya ia merasa kecewa karena mendengar ada bagian khutbah yang mencela suatu kelompok. Setelah salat Jumat selesai, ia menemui ayahnya dan mengungkapkan perasaannya.

Dua peristiwa itu sangat membekas dalam ingatannya. Ia terus menerus merenungkan ucapan guru dan ayahnya. Kemudian ia sampai pada suatu titik kesadaran. "Permusuhan ini harus diakhiri," katanya. Ia berjanji kepada Allah, jika suatu saat nanti diberi amanah untuk menjadi khalifah, ia akan mengubahnya.

Hingga pada akhirnya Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah. Ia menepati janjinya dengan menetapkan larangan mengucap caci maki dalam setiap khutbah Jum'at. Ucapan yang tak baik itu diganti dengan membaca surah an-Nahl (16) ayat 90 yang artinya, "Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemunkaran, dan penganiayaan. Dia memberi pengajaran kepada kamu agar kamu dapat selalu ingat." (imam/hagi)

Sumber: Buku Orang-Orang Bijak terjemahan dari Kitab Qashas al-Abrar - Murtadha Muthahhari

(Kisah ini merupakan kerjasama dengan www.alifmagz.com)

Sumber: www.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Artikel Yang Berkaitan!



 

Ramadhan News. Copyright 2012 All Rights Reserved Bulan Ramadhan Di Facebook by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com